- Lonjakan wisatawan saat Nataru menguatkan daya tarik Yogyakarta, namun memicu tekanan sosial berupa kemacetan dan kepadatan ruang publik.
- Kepadatan pengunjung berdampak langsung pada warga lokal melalui kesulitan mobilitas harian serta peningkatan isu lingkungan seperti sampah.
- Pemerintah perlu merencanakan tata ruang jangka panjang dan memastikan pemerataan ekonomi pariwisata untuk menghindari ketegangan sosial.
SuaraJogja.id - Yogyakarta menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini. Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan yang mencapai jutaan orang dalam periode singkat.
Geliat pariwisata memberi dorongan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal. Namun di sisi lain turut menghadirkan tekanan baru bagi kehidupan perkotaan.
Situasi ini menjadikan libur akhir tahun sebagai momen ujian bagi kota wisata yang selama ini dikenal ramah dan inklusif.
Sosiolog UGM, Arie Sujito, mengungkapkan lonjakan wisatawan tersebut mencerminkan daya tarik Yogyakarta yang terus menguat sebagai destinasi wisata nasional.
Pergerakan ekonomi cepat terasa di sektor perdagangan, jasa, hingga usaha kecil yang bergantung pada pariwisata.
Namun pada saat yang sama, kepadatan pengunjung membawa konsekuensi sosial yang tidak ringan bagi masyarakat sekitar kawasan wisata.
"Ruang ini dianggap sebagai kesempatan positif, tetapi tantangannya nyata karena muncul kemacetan, interaksi sosial yang semakin padat, serta risiko lingkungan yang perlu dipikirkan bersama," kata Arie, Kamis (1/1/2026).
Dampak kepadatan paling dirasakan oleh warga lokal yang menjalani aktivitas harian di tengah lonjakan mobilitas wisatawan. Akses jalan yang tersendat dan meningkatnya waktu tempuh menjadi pengalaman yang berulang setiap musim liburan.
Kondisi ini menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat dan bergantung pada mobilitas harian.
Baca Juga: Ini Deretan Kesiapan Tol Semarang-Solo Sambut Lonjakan Pengguna Jalan Akhir Tahun
"Bagi warga sendiri, kepadatan ini membuat aktivitas keluar rumah terasa tidak nyaman karena kemacetan muncul di hampir semua titik," ucapnya.
Tekanan kepadatan turut berdampak pada ruang publik yang menjadi tempat pertemuan warga dan pengunjung. Ruang terbuka semakin terbatas fungsinya ketika dipenuhi aktivitas wisata dalam waktu bersamaan.
Hal ini diperparah dengan persoalan sampah yang muncul sebagai konsekuensi serius dari meningkatnya jumlah orang di ruang kota.
"Kemampuan mengelola sampah dan membangun budaya menjaga lingkungan yang bersih menjadi keharusan, karena pariwisata tidak cukup dilihat dari sisi pemasukan ekonomi semata," tuturnya.
Dari sisi ekonomi, Arie menilai manfaat pariwisata memang terasa luas, namun distribusinya perlu mendapat perhatian. Aktivitas wisata memang menggerakkan UMKM, homestay, dan sektor jasa lainnya, tetapi potensi ketimpangan tetap mengintai.
Ketika keuntungan terkonsentrasi pada kelompok bermodal besar, ketegangan sosial berpeluang muncul di tingkat lokal.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi