- Satu kasus super flu terdeteksi di Sleman, DIY, pada bayi berusia di bawah satu tahun sekitar September–Oktober 2025.
- Dinas Kesehatan DIY memiliki sistem kewaspadaan dini untuk memantau penyakit pernapasan, meskipun deteksi jenis virus perlu waktu.
- Pasien kasus pertama tersebut telah dinyatakan sembuh, dan masyarakat diimbau tidak panik dengan tetap menjaga kebersihan.
SuaraJogja.id - Satu kasus super flu terdeteksi di DIY. Kasus tersebut ditemukan di wilayah Sleman pada seorang bayi berusia di bawah satu tahun yang sempat dirawat inap di rumah sakit rujukan.
"Disebutkan ada [kasus super flu] beberapa provinsi, salah satunya DIY. Ada satu kasus, itu di Sleman tapi domisili di kota jogja," papar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, Ari Kurniawati di Yogyakarta, Selasa (6/1/2026).
Menurut Ari, kasus super flu pertama di DIY ditemukan pada periode September-Oktober 2025 lalu. Kasus tersebut diketahui saat pasien dirawat inap di rumah sakit rujukan.
Namun kini pasien telah dinyatakan sembuh dan dipulangkan. Keterlambatan informasi ke publik lebih disebabkan oleh proses pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu.
Karena lab itu butuh waktu, jadi memang kita baru tahu sekarang. Tetapi secara klinis pasiennya sudah tertangani," katanya.
Ia menjelaskan DIY memiliki sistem kewaspadaan dini dan respons untuk memantau penyakit pernapasan, termasuk super flu.
"Kita punya sistem kewaspadaan dini dan respon, di mana penyakit respiratory menjadi salah satu yang dipantau rutin melalui pelaporan harian. Ketika ada peningkatan, nanti muncul alert sehingga bisa segera direspon," ujarnya.
Selain itu Dinkes juga melakukan pemantauan melalui fasilitas kesehatan sentinel atau locus. Namun tidak semua kasus bisa langsung diketahui sampai ke jenis virusnya.
"Tidak semua penyakit bisa langsung dideteksi sampai ke jenis virusnya, sampai whole genome sequencing. Itu hanya di lab tertentu milik Kemenkes," jelasnya.
Baca Juga: Proyek Tol Solo-Yogyakarta Dibuka untuk Jalur Fungsional, Cek Dulu Jadwalnya Sebelum Melintas
Dalam kasus bayi tersebut, gejala yang muncul berupa demam dan gangguan pernapasan. Lonjakan kasus infeksi pernapasan pada anak memang sempat terjadi pada September–Oktober 2025 lalu. Namun pneumonia sendiri merupakan kondisi radang paru, bukan langsung menunjuk jenis virus tertentu.
"Pasti ada demam dan gejala pernapasan. Dengan kriteria tertentu dia akan diperiksa lab. Biasanya kasus ini terjadi sekitar September–Oktober. Banyak anak dirawat dengan diagnosis pneumonia," ungkapnya.
Terkait sumber penularan, Dinkes DIY belum melakukan penyelidikan epidemiologi secara rinci. Sebab kasusnya telah tertangani dan tidak menunjukkan keganasan. Apalagi pasien masih bayi dan tidak memiliki riwayat bepergian.
"Karena sistem kita kalau mau sampai detail riwayat penularannya perlu penyelidikan epidemiologi. Tetapi dugaan kita pasti tertular dari orang sekitarnya. Dia usia anak, balita, masih kurang dari satu tahun. Jadi tidak ke mana-mana," tandasnya.
Ia menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Hal ini mengingt karakter kasus yang ditemukan relatif ringan.
Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama dalam penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Apalagi prinsipnya pencegahan sama seperti penyakit ISPA pada umumnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
Pilihan
Terkini
-
Sebulan Kerja di Kantor Love Scamming, Sumanto Bersyukur Tak Ikut Digerebek
-
Leptospirosis Marak di Lima Kabupaten, 38 Kematian Terjadi di Jogja
-
7 Fakta Penggerebekan Markas Scammer Jaringan Internasional di Sleman
-
BRI VISA Infinite Tawarkan Kemudahan Transaksi Lintas Negara dan Rewards yang Kompetitif
-
Jadwal KRL Jogja-Solo Periode 6-11 Januari 2026 PP