- Keluarga siswi berinisial A (17) melaporkan oknum guru SLB Yogyakarta ke Polresta pada 20 Februari 2026.
- Dugaan pelecehan seksual dilaporkan terjadi antara November hingga Desember 2025, menyebabkan korban mengalami trauma.
- Polresta Yogyakarta menangani laporan tersebut, sementara Disdikpora DIY melakukan penelusuran internal terkait kasus ini.
SuaraJogja.id - Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum guru di salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Kota Yogyakarta mengundang perhatian publik. Seorang siswi berinisial A (17) diduga menjadi korban tindakan tidak etis yang dilakukan gurunya. Keluarga korban pun telah melaporkan kasus ini ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Yogyakarta.
Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan, namun sejumlah fakta awal mulai terungkap. Berikut rangkuman lengkapnya yang dikutip dari berbagai sumber:
1. Oknum Guru Dilaporkan atas Dugaan Pelecehan
Laporan resmi diajukan keluarga korban pada Jumat (20/2/2026). Kuasa hukum korban, Hilmi Miftazen Reza, menegaskan pelaporan terkait dugaan pelecehan seksual oleh seorang guru SLB di Yogyakarta.
Menurut Hilmi, pihaknya membawa kasus ini ke ranah hukum setelah keluarga menerima pengakuan langsung dari korban. Dugaan peristiwa disebut terjadi pada rentang November hingga Desember 2025.
“Jadi pelaporan ini adalah dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh oknum guru di salah satu sekolah luar biasa di Yogyakarta,” ujar Hilmi.
Kasus ini langsung ditangani Unit PPA Polresta Yogyakarta.
2. Korban Bercerita ke Ibu Kandung
Peristiwa ini terungkap bermula dari pengakuan korban kepada ibunya. A disebut mengeluhkan adanya perlakuan tidak etis dari gurunya.
Baca Juga: Perkuat Ekosistem Riset, LPDP dan Muhammadiyah Kucurkan Rp20 Miliar untuk Hilirisasi Industri
Dari cerita tersebut, keluarga mulai menaruh kecurigaan hingga akhirnya memutuskan menempuh jalur hukum.
Hilmi menjelaskan, dugaan tindakan tidak senonoh itu terjadi baik di dalam kelas maupun di luar ruangan sekolah. Bahkan, menurut keterangan awal, beberapa kejadian diduga berlangsung saat masih ada murid lain di sekitar lokasi.
Temuan ini membuat keluarga semakin terpukul.
3. Korban Merupakan Siswi Difabel
Hal yang membuat kasus ini mendapat sorotan serius adalah kondisi korban yang merupakan anak berkebutuhan khusus.
Hilmi menilai dugaan perbuatan tersebut sangat memprihatinkan karena korban seharusnya mendapatkan perlindungan penuh di lingkungan pendidikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Rekening Aktivis Diblokir, Bentuk Pola RepresiBaru Gerakan Rakyat
-
Dinsos DIY Tak Buka Posko Aduan Desil, Cari Formula agar Warga Tak Kehilangan Bantuan
-
Desil Berubah, BPS DIY Akui Data Bisa Melenceng
-
BRI Pertemukan PMI Yuni Lestari dengan Ibu Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan
-
Siswa Bantul Bawa Pulang Emas dari Kejuaraan Taekwondo Internasional di Korea Selatan