Budi Arista Romadhoni
Senin, 19 Januari 2026 | 16:58 WIB
SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta mengalami fenomena inden pendaftaran hingga tahun ajaran 2032, disebabkan tingginya minat orang tua mendaftar sejak dini.
  • Penerimaan siswa baru dilakukan tanpa tes akademik, hanya mempertimbangkan urutan penitipan dan pemenuhan syarat usia sesuai Permendikdas.
  • Sekolah tersebut menjalankan fungsi dakwah dengan subsidi silang SPP dan menyediakan fasilitas serupa bagi semua siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi.

SuaraJogja.id - Antrean sekolah biasanya hanya terjadi saat tahun ajaran baru. Namun berbeda dengan sekolah yang ada di Yogyakarta ini.

Orang tua harus inden bertahun-tahun untuk bisa memasukkan anaknya ke SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Fenomena inden penerimaan murid baru ini sudah dimulai sejak usia bayi.

Bahkan ada orang tua yang mencoba mendaftar ketika anaknya masih di dalam kandungan. Fenomena ini yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai media sosial (medsos) terkait video dan unggahan tentang “titip akta” demi kursi SD Muhammadiyah Sapen.

"Ada juga yang DM (direct message-red) ke instagram kami, ada ibu yang mau daftar sekolah padahal masih hamil dan baru melahirkan april nanti. Kami menolak permintaan tersebut. Syarat penitipan tetap harus disertai akta kelahiran dan KK," papar Kepala SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, Agung Rahmanto di Yogyakarta, Senin (19/1/2026).

Agung menyebut, inden atau penitipan akta kelahiran dan Kartu Keluarga (KK) untuk bisa bersekolah di SD tersebut sudah sampai tahun ajaran 2032 nanti. Ada sekitar 400 calon siswa yang sudah inden untuk tahun bersekolah pada tahun itu.

Sedangkan untuk ajaran 2026 hingga 2031, kuota di sekolah tersebut juga sudah terisi. Dari 230 kuota siswa yang disediakan tiap angkatan, ada lebih dari 400 calon siswa yang menitipkan KK dan akta kelahiran.

"Untuk tahun ajaran 2026/2027 yang akan dimulai pada 13 Juli 2026, proses awal [pendaftaran siswa] sudah dibuka sejak Agustus 2025 dan sudah melebihi kuota," jelasnya.

Menjadi incaran banyak orang tua, Agung memastikan pendaftaran di SD Muhammadiyah Sapen tidak pernah menerapkan tes seleksi akademik dalam penerimaan murid baru. Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) dilakukan tanpa tes apa pun, kecuali ketentuan usia. Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian warganet. Sekolah itu 

"Kami benar-benar memedomani Permendikdas. Tidak ada seleksi kecuali usia," jelasnya.

Baca Juga: Skema Haji Berubah, Kuota Haji Jogja Bertambah 601 Orang, Masa Tunggu Terpangkas Jadi 26 Tahun

Sekolah sengaja meniadakan tes karena ada murid yang sejak awal sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi tak sedikit pula yang belum mengenal huruf dan angka. 

Karenanya sekolah tidak mau membebani siswa. Apalagi sekolah ini juga menerima anak dengan kebutuhan khusus dan kategori slow learner.

"Justru heterogenitas itulah yang menjadi titik awal pendekatan pendidikan di Sapen," ungkapnya.

Meski menitipkan akta dan KK sejak dini, pihak sekolah menegaskan tidak ada jaminan otomatis diterima. Finalisasi dilakukan satu tahun sebelum anak masuk SD, dengan dua kriteria utama, yakni urutan penitipan dan usia sesuai ketentuan pemerintah.

Usia ideal masuk SD adalah tujuh tahun. Anak usia enam tahun masih bisa diterima. Sedangkan usia lima setengah tahun hanya dapat masuk jika memiliki kecerdasan istimewa yang dibuktikan dengan surat psikolog. Namun jika usia sudah sesuai dan urutan memenuhi kuota, maka anak dipastikan diterima.

"Kalau usia belum memenuhi, tetap tidak bisa masuk, meskipun sudah menitipkan," ungkapnya.

Load More