- SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta mengalami fenomena inden pendaftaran hingga tahun ajaran 2032, disebabkan tingginya minat orang tua mendaftar sejak dini.
- Penerimaan siswa baru dilakukan tanpa tes akademik, hanya mempertimbangkan urutan penitipan dan pemenuhan syarat usia sesuai Permendikdas.
- Sekolah tersebut menjalankan fungsi dakwah dengan subsidi silang SPP dan menyediakan fasilitas serupa bagi semua siswa tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Agung menambahkan, sekolah itu diminati masyarakat karena menjadi tempat yang “menerima bibit biasa, tetapi menghasilkan lulusan luar biasa.”
Dengan peserta didik yang heterogen, Sapen mengembangkan layanan pendidikan berbasis digitalisasi, literasi, bakat dan minat, serta pembentukan karakter.
Karakter disiplin menjadi ciri paling menonjol. Tanpa paksaan, budaya sekolah membuat anak-anak datang sejak pukul lima seperempat pagi.
Kekuatan Sapen, menurut pihak sekolah, bukan hanya terletak pada kepala sekolah atau guru, melainkan kolaborasi antara sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah.
"Itu bukan karena aturan semata, tapi budaya sekolah," ujarnya.
Terkait biaya pendidikan yang diisukan mahal, pihak sekolah menegaskan SD Muhammadiyah Sapen tidak semata-mata berorientasi komersial. Sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah, sekolah ini menjalankan fungsi dakwah.
Sebanyak 10 persen siswa di setiap angkatan berasal dari keluarga kurang mampu. Mereka mendapatkan subsidi, bahkan ada yang bebas biaya sepenuhnya.
"SPP kami dari Rp0 sampai Rp1,4 juta, jadi ada subsidi silang," paparnya.
Semua siswa tanpa terkecuali mendapatkan fasilitas yang sama, makan siang dan snack setiap hari di sekolah. Bahkan sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan, Sapen telah lebih dulu menyediakan makan gratis bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Baca Juga: Skema Haji Berubah, Kuota Haji Jogja Bertambah 601 Orang, Masa Tunggu Terpangkas Jadi 26 Tahun
Dengan animo setinggi itu, SD Muhammadiyah Sapen memilih tidak menambah rombongan belajar. Sekolah tunduk pada Permendikdasmen Nomor 26 Tahun 2025 yang membatasi jumlah kelas.
Sebagai gantinya, Sapen membangun gedung baru Muhammadiyah Sapen Universal School di Ring Road Barat yang akan mulai digunakan pada 13 Juli 2026. Gedung ini bukan untuk menambah kuota, melainkan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
"Kami tidak ingin serakah. Fokus kami kualitas, bukan kuantitas," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
-
3 Saksi Dihadirkan dalam Sidang Lanjutan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman, Ada Raudi Akmal
-
Inden Sejak Bayi, SD Muhammadiyah Sapen Jadi Sekolah Paling Diincar di Yogyakarta
-
Sidang Korupsi Dana Hibah Pariwisata, Raudi Akmal Disebut Sebagai Pemberi Perintah
-
Sempat Hilang saat Orang Tua Ronda, Seorang Bocah Ditemukan Tewas di Selokan Mataram