- Revitalisasi pasar Sentul di Yogyakarta menghasilkan bangunan modern, namun berdampak signifikan pada penurunan omzet pedagang secara drastis.
- Pedagang mengeluhkan sepinya pembeli akibat perubahan struktur pasar, penambahan jumlah kios, dan pembatasan zonasi dagangan.
- Pemerintah Kota Yogyakarta merespons dengan dispensasi pembayaran dan berencana mengadakan promosi serta kegiatan untuk menghidupkan kembali pasar.
"Ya mohon pemerintah itu bantu-bantu promosi," ujarnya.
Keluhan serupa juga datang dari lantai dua Pasar Sentul. Sami, pedagang sembako, menyebut pasar kini jauh lebih sepi dibandingkan masa lalu, terutama saat masih jad pasar tradisional.
"Kalau dulu rame banget, sampai macet. Sekarang hari-hari biasa sepi," katanya.
Sami menilai penataan kios yang dipisah-pisah membuat sebagian area, terutama lantai atas, kurang dihuni pembeli.
"Yang jualan ya sepi. Ada yang rame, tapi hari-hari biasa sepi," ujarnya.
Penurunan jumlah pembeli berdampak langsung pada penghasilan. Jika sebelumnya ia bisa meraih keuntungan di atas Rp50.000 per hari, kini mendapatkan Rp20.000 saja terasa berat.
"Kadang sampai setengah turunnya dari saat jadi pasar tradisional," katanya.
Selain faktor akses dan penataan, Sami menyebut persepsi masyarakat yang menganggap pasar baru identik dengan harga mahal juga berdampak pada sepinya pembeli. Tak jarang ia mendengar pembeli mengeluh dan mengira harga sembako di pasar lebih tinggi dibandingkan tempat lain.
"Dikira tempatnya bagus, jadi dikirain mahal, padahal ya sama saja," tandasnya.
Baca Juga: Sempat Hilang saat Orang Tua Ronda, Seorang Bocah Ditemukan Tewas di Selokan Mataram
Sami menambahkan, retribusi yang ditanggung pedagang relatif kecil sebenarnya terjangkau. Yakni Rp1.000 per hari atau Rp31.000 per bulan, tanpa kenaikan tahunan.
Namun tampilan bangunan yang lebih modern membuat sebagian masyarakat enggan masuk dan memilih berbelanja di luar pasar atau di pinggir jalan. Kondisi pascapandemi juga turut memperberat situasi mereka.
Sami memprediksi setelah COVID-19, kebiasaan belanja masyarakat berubah. Persaingan dengan pedagang luar pasar semakin terasa, sedangkan arus pembeli ke dalam pasar tak kunjung pulih.
"Sekarang di jalan-jalan juga banyak yang jualan," katanya.
Meski demikian, para pedagang tidak sepenuhnya menolak perubahan. Mereka mengakui pasar kini lebih bersih dan tertata. Namun, kebersihan dan bangunan baru saja dinilai belum cukup untuk menghidupkan kembali aktivitas jual beli.
Promosi dan kegiatan dianggap menjadi kebutuhan mendesak. Sami berharap ada event atau kegiatan di lantai atas untuk meramaikan pasar tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
OJK DIY Tegaskan Teror Order Pinjol Fiktif Ambulans Masuk Unsur Penipuan, Minta Korban Lapor Polisi
-
BRI Resmikan Money Changer di PLBN Motaain, Perkuat Kedaulatan Rupiah di Perbatasan
-
Migrasi Nonsubsidi, Pengecer di Jogja Mulai Khawatir: Harga Naik dan Stok Gas Melon Menipis
-
Ternyata Tak Cuma Ambulans, Damkar Sleman Turut Jadi Korban Order Fiktif Pinjol
-
Majelis Hakim Tunda Vonis Eks Bupati Sleman Sri Purnomo, Ini Penyebabnya