Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 26 Januari 2026 | 07:20 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem masih melanda Yogyakarta. [Pixabay]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Kota Yogyakarta perpanjang status siaga darurat bencana hingga Februari 2026 antisipasi puncak musim hujan.
  • Perpanjangan ini ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Nomor 490 Tahun 2025 untuk percepatan penanganan bencana.
  • BPBD mencatat 138 kejadian pohon tumbang di tahun 2025, warga diimbau pangkas pohon rawan.

SuaraJogja.id - Pemerintah Kota Yogyakarta memperpanjang penetapan status siaga darurat bencana hingga Februari 2026. Hal ini sebagai antisipasi puncak musim hujan di Yogyakarta yang diprediksi pada Januari-Februari 2026.

"Untuk Kota Yogyakarta siaga darurat bencana sudah diperpanjang sampai Februari 2026. Mengingat prediksi puncak musim hujan pada bulan Januari-Februari 2026," kata Ketua Tim Kerja Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Petrus Singgih Purnomo dikutip Minggu (25/1/2026).

Perpanjangan status siaga bencana tersebut ditetapkan dalam Keputusan Wali Kota Yogyakarta nomor 490 tahun 2025 tentang perpanjangan penetapan status siaga darurat bencana banjir, talut longsor dan cuaca ekstrem di Kota Yogyakarta.

Perpanjangan status siaga darurat bencana sudah dimulai pada 1 Januari dan akan berlangsung hingga 28 Februari 2026.

"Jadi ini untuk mempermudah dan mempercepat penanganan bencana," ujarnya.

Berdasarkan catatan BPBD Kota Yogyakarta, selama tahun 2025 terdapat 138 kejadian pohon tumbang, 66 atap rusak akibat angin kencang atau cuaca ekstrem, 26 kejadian tanah/talut longsor dan 12 kejadian banjir luapan dan dan 1 kejadian gempa bumi. 

"Selama ini kejadian di Kota Yogya paling banyak pohon tumbang. Januari ini juga ada beberapa pohon tumbang," tuturnya.

Pihaknya mengimbau warga untuk mengurangi atau memangkas sebagian pohon yang rimbun dan lapuk untuk mencegah pohon tumbang.

Terpisah, Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Rina Aryati Nugraha mencatat jumlah pohon perindang yang dikelola DLH Kota Yogyakarta sebanyak 20.537 pohon. 

Baca Juga: Rayakan Imlek dan Valentine di Yogyakarta Marriott Hotel, Ada Promo Makan Mewah dan Dinner Romantis

Jenis pohon perindang itu antara lain Tanjung, Angsana, Sawo Kecik, Tabebuya, Glodokan Pecut dan Glodokan biasa. Pohon perindang tersebut tersebar di seluruh jalan raya di wilayah Kota Yogyakarta.

Dia menyebut, dulu jumlah pohon perindang rawan tumbang di Kota Yogyakarta sekitar 5 persen. Namun kini sudah berkurang menjadi 1 persen karena dipangkas sebagian agar tidak tumbang.

Pohon-pohon yang rawan tumbang tersebar di beberapa jalan antara lain kawasan Kotabaru, Gayam, Sagan, Jalan Sukonandi, Batikan, Kusumanegara, Veteran, Tegalturi dan Munggur. Pohon yang rawan tumbang berusia 20 tahun ke atas. Tapi untuk jenis Pohon Waru tidak sampai 20 tahun pohon sudah besar dan rawan tumbang.

Bagi masyarakat yang kesusahan untuk melakukan pemangkasan ranting pohon di wilayahnya bisa langsung melapor ke DLH Kota Yogyakarta untuk ditindaklanjuti.

"Kami segera menindaklanjuti laporan kalau ada pohon yang sudah keropos atau mati dan yang membahayakan karena rawan tumbang. Saat cuaca ekstrem kalau ada kejadian pohon tumbang meskipun tidak di wilayah pemeliharaan kita tetap tindaklanjuti asal kendaraan bisa menjangkau," kata Rina.

Sementara itu Kepala Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas, menjelaskan puncak musim hujan di DIY diprediksi pada bulan Januari- Februari 2026. 

Load More