Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 30 Januari 2026 | 15:23 WIB
Pakar politik UMY Zuly Qodir menyampaikan komentarnya terkait isu resuffle kabinet di Yogyakarta, Jumat (30/1/2026). [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju di bawah Presiden Prabowo Subianto menguat, dikabarkan melibatkan tujuh menteri.
  • Pakar politik Zuly Qodir menekankan reshuffle harus berbasis kinerja nyata, bukan kedekatan politik atau relasi keluarga.
  • Reshuffle idealnya memperbaiki kementerian bermasalah agar kabinet solid, menghindari persepsi hanya langkah kosmetik atau nepotisme.

Zuly menambahkan, penguatan sektor energi dan lingkungan saat ini sangat dibutuhkan. Menurutnya, kementerian di sektor ini harus diisi figur yang memiliki visi jelas terhadap pengembangan energi ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Energi itu sektor krusial. Kita sedang menuju green energy. Kalau pejabatnya tidak punya visi ke sana, kritik akan terus muncul dan masalah lingkungan tidak akan selesai," ungkapnya.

Karenanya, lanjut Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY itu, reshuffle seharusnya menjadi langkah korektif dan sekadar pembagian kursi kekuasaan. Presiden perlu menunjukkan bahwa kabinetnya benar-benar diisi oleh orang-orang yang kompeten dan mampu bekerja untuk kepentingan publik atau sebaliknya.

"Publik menunggu sinyal kuat. Apakah reshuffle ini benar-benar membawa perbaikan, atau hanya pergantian nama tanpa perubahan kinerja," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More