- Mahasiswa UNY, Perdana Arie Variasa, akui bakar tenda polisi saat sidang pembuktian di PN Sleman (27/1/2026).
- Terdakwa membawa pilox dan korek, awalnya hanya ingin vandalisme namun terbawa emosi massa anarkis.
- PA menyatakan motifnya adalah muak kekerasan negara, namun berjanji perjuangan HAM selanjutnya tanpa melanggar hukum.
SuaraJogja.id - Drama persidangan kasus dugaan perusakan dan pembakaran di Mapolda DIY yang menyeret nama Perdana Arie Variasa (PA), mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), memasuki babak krusial hari ini, Selasa (27/1/2026).
Setelah serangkaian sidang pembuktian, Pengadilan Negeri (PN) Sleman menggelar agenda pemeriksaan terdakwa, di mana PA secara terbuka mengakui keterlibatannya dalam insiden pembakaran tenda polisi.
Pengakuan ini sontak menjadi sorotan, mengungkap detail-detail mengejutkan di balik aksi anarkis yang terjadi saat gelombang demonstrasi memanas akhir Agustus 2025 lalu.
Dari niat awal corat-coret hingga terbawa emosi massa, berikut adalah 7 fakta penting dan mengejutkan yang terungkap dalam persidangan Perdana Arie Variasa:
1. Bawa Pilox dan Korek Sejak Awal, Niat Awal Hanya Vandalisme Tembok
Perdana Arie mengakui sudah membawa cat semprot (Pilox) warna abu-abu di dalam tasnya saat bergerak ke Mapolda DIY. Niat awalnya hanya untuk corat-coret tembok.
Namun, melihat situasi chaos dan tenda polisi yang sudah roboh dirusak massa, ia berinisiatif menyalakan api.
"Saya yang kebetulan saya membawa Pilox dan saya juga perokok, saya membawa korek, akhirnya untuk membakar tenda tersebut," kata PA di hadapan Jaksa dan majelis hakim.
2. Dua Kali Percobaan Pembakaran, Korek Kedua dari Orang Tak Dikenal
Baca Juga: Mahasiswi UNY Gandeng Gitaris Jikustik Ciptakan 'Balada Rasa': Debut yang Menusuk Kalbu
Terdakwa menjelaskan bahwa percobaan pembakaran pertamanya sempat gagal karena bahan tenda sulit terbakar, bahkan korek apinya rusak.
Ia kemudian melakukan aksi vandalisme di luar Polda DIY, sebelum kembali ke tenda yang sudah rata dengan tanah.
Yang mengejutkan, untuk percobaan kedua yang berhasil memicu api, PA mengaku mendapatkan korek pengganti dari seseorang yang tidak dikenalnya di tengah kerumunan massa. "Diberi (tidak meminta). Tidak kenal, orang lain di situ," ungkapnya.
3. Terbawa Emosi Massa dan Provokasi untuk Membakar
Soal motif, PA berdalih tindakannya impulsif, murni terbawa emosi dan psikologi massa yang saat itu meneriakkan berbagai provokasi, termasuk untuk merobohkan dan membakar fasilitas.
"Dapat dibilang karena saya sudah terbawa (emosi) oleh massa yang sudah melakukan tindakan anarkis," ungkapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
Terkini
-
BRI Gelar Undian Debit FC Barcelona, Nasabah Berkesempatan Rasakan Pengalaman Nonton di Camp Nou
-
Guru Besar UI Soroti Langkah Hakim yang Hitung Sendiri Kerugian Korupsi Mantan Bupati Sleman
-
Pemkot Yogyakarta Sweeping 68 Daycare Pasca Kasus Little Aresha, 31 Belum Berizin
-
Cerita Mahasiswi UNY Minta Tolong Damkar Buka Tumbler yang Macet
-
Daycare Little Aresha Dicoret-coret, Dua Motor Disiram Cat Hitam, Satpol PP Disiagakan Jaga Lokasi