Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 21 Maret 2026 | 07:50 WIB
Abdi dalem membagikan uba rampe gunungan perayaan Garebeg Syawal 1447 Hijriyah di Masjid Gede Kauman, Jumat (20/3/2026). [Suara.com/Putu]
Baca 10 detik
  • Ribuan warga memadati Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk merayakan Garebeg Syawal 1447 H.
  • Prosesi dimulai pukul 09.00 WIB saat abdi dalem mengarak lima gunungan dari keraton menuju masjid untuk dibagikan.
  • Uba rampe gunungan yang dibagikan diyakini warga membawa berkah dan simbol harapan kehidupan lebih baik.

SuaraJogja.id - Ribuan warga memadati kawasan Masjid Keraton Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/3/2026). Mereka datang dari berbagai daerah, bukan sekadar menyaksikan prosesi budaya pembagian uba rampe gunungan dari Keraton Yogyakarta dari abdi dalem, tetapi untuk ngalap berkah perayaan Garebeg Syawal 1447 Hijriyah.

Berkumpul sejak pagi hari, garebeg dimulai sekitar pukul 09.00 WIB saat barisan prajurit keraton mulai berjalan dari kompleks keraton Yogyakarta menuju masjid. Alunan musik tradisional berpadu dengan langkah tegap prajurit serta abdi dalem yang mengarak lima gunungan.

"Cari berkahnya dari Keraton, tahun kemarin datang, tahun ini juga cari uba rampe gunungan," ujar Partiyati disela garebeg.

Warga Kepuh ini mengaku selalu ngalap berkah uba rampe gunungan. Apapun yang didapatnya mulai dari hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, sayuran hingga wajik, rengginan dan bahkan Bambu gunungan diyakini jadi keberkahan luar biasa karena diberikan oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Di tengah Kondisi ekonomi yang sulit saat ini, buat Partiyati, uba rampe yang didapatnya tak sekedar hasil bumi. Namun lebih dari itu sebagai simbol doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

"Yang penting bisa ngalap berkah," tandasnya.

Hal senada disampaikan Rangga, salah satu pengunjung, yang  mengaku sengaja datang untuk merasakan langsung pengalaman tersebut. Ia menyebut, pengalaman pertamanya mengikuti Garebeg Syawal terasa sangat berkesan, terutama ketika berhasil mendapatkan bagian gunungan.

“Katanya ini berkah, jadi saya bawa pulang," tambahnya.

Salsabila, warga Yogyakarta yang turut mendapatkan bagian gunungan dari abdi dalem mengaku saat ini lebih banyak warga bisa mendapatkan uba rampe gunungan. Sebab sejak beberapa tahun terakhir, uba rampe dibagikan abdi dalem alih-alih jadi rebutan.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Tak Naik, APBN Masih Kuat Menahan Tekanan

Ia mengaku uba rampe yang didapat biasanya akan disimpan. Selain itu akan ditanam ke tanah sebagai simbol keberkahan yang terus dijaga.

"Ada yang disimpan, ada yang saya tanam di sawah," ungkapnya.

Keraton Yogyakarta menyampaikan, sistem pembagian uba rampe gunungan memang saat ini dilakukan abdi dalem. Jika dahulu warga harus berebut secara spontan, kini prosesnya lebih teratur, namun tetap mempertahankan makna spiritual yang diyakini masyarakat.

Secara historis, tradisi Garebeg telah berlangsung sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Sejak awal, tradisi ini memang dirancang sebagai jembatan antara keraton dan rakyat, sekaligus sarana penyebaran nilai-nilai Islam melalui pendekatan budaya, terutama pada momentum Idulfitri.

Di era digital saat ini, Garebeg Syawal bahkan semakin dikenal luas melalui media sosial. Dokumentasi warga yang mengabadikan momen ngalap berkah justru memperkuat eksistensi tradisi ini di mata generasi muda. 

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More