- Ribuan warga memadati Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Jumat, 20 Maret 2026, untuk merayakan Garebeg Syawal 1447 H.
- Prosesi dimulai pukul 09.00 WIB saat abdi dalem mengarak lima gunungan dari keraton menuju masjid untuk dibagikan.
- Uba rampe gunungan yang dibagikan diyakini warga membawa berkah dan simbol harapan kehidupan lebih baik.
SuaraJogja.id - Ribuan warga memadati kawasan Masjid Keraton Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan Masjid Gedhe Kauman, Jumat (20/3/2026). Mereka datang dari berbagai daerah, bukan sekadar menyaksikan prosesi budaya pembagian uba rampe gunungan dari Keraton Yogyakarta dari abdi dalem, tetapi untuk ngalap berkah perayaan Garebeg Syawal 1447 Hijriyah.
Berkumpul sejak pagi hari, garebeg dimulai sekitar pukul 09.00 WIB saat barisan prajurit keraton mulai berjalan dari kompleks keraton Yogyakarta menuju masjid. Alunan musik tradisional berpadu dengan langkah tegap prajurit serta abdi dalem yang mengarak lima gunungan.
"Cari berkahnya dari Keraton, tahun kemarin datang, tahun ini juga cari uba rampe gunungan," ujar Partiyati disela garebeg.
Warga Kepuh ini mengaku selalu ngalap berkah uba rampe gunungan. Apapun yang didapatnya mulai dari hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, sayuran hingga wajik, rengginan dan bahkan Bambu gunungan diyakini jadi keberkahan luar biasa karena diberikan oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Di tengah Kondisi ekonomi yang sulit saat ini, buat Partiyati, uba rampe yang didapatnya tak sekedar hasil bumi. Namun lebih dari itu sebagai simbol doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
"Yang penting bisa ngalap berkah," tandasnya.
Hal senada disampaikan Rangga, salah satu pengunjung, yang mengaku sengaja datang untuk merasakan langsung pengalaman tersebut. Ia menyebut, pengalaman pertamanya mengikuti Garebeg Syawal terasa sangat berkesan, terutama ketika berhasil mendapatkan bagian gunungan.
“Katanya ini berkah, jadi saya bawa pulang," tambahnya.
Salsabila, warga Yogyakarta yang turut mendapatkan bagian gunungan dari abdi dalem mengaku saat ini lebih banyak warga bisa mendapatkan uba rampe gunungan. Sebab sejak beberapa tahun terakhir, uba rampe dibagikan abdi dalem alih-alih jadi rebutan.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Pastikan Harga BBM Tak Naik, APBN Masih Kuat Menahan Tekanan
Ia mengaku uba rampe yang didapat biasanya akan disimpan. Selain itu akan ditanam ke tanah sebagai simbol keberkahan yang terus dijaga.
"Ada yang disimpan, ada yang saya tanam di sawah," ungkapnya.
Keraton Yogyakarta menyampaikan, sistem pembagian uba rampe gunungan memang saat ini dilakukan abdi dalem. Jika dahulu warga harus berebut secara spontan, kini prosesnya lebih teratur, namun tetap mempertahankan makna spiritual yang diyakini masyarakat.
Secara historis, tradisi Garebeg telah berlangsung sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke-18. Sejak awal, tradisi ini memang dirancang sebagai jembatan antara keraton dan rakyat, sekaligus sarana penyebaran nilai-nilai Islam melalui pendekatan budaya, terutama pada momentum Idulfitri.
Di era digital saat ini, Garebeg Syawal bahkan semakin dikenal luas melalui media sosial. Dokumentasi warga yang mengabadikan momen ngalap berkah justru memperkuat eksistensi tradisi ini di mata generasi muda.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
Waspada Campak Mengintai di Musim Liburan: Kenali Gejala, Komplikasi, dan Pentingnya Vaksinasi!
-
Ingin Berwisata ke Lereng Merapi saat Libur Lebaran, Simak Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Sepekan
-
Ribuan Warga Ngalap Berkah Garebeg Syawal, Tradisi Bertahan di Tengah Gempuran Modernisasi
-
Kini Nasabah Bisa Kirim THR dengan QRIS Transfer dan Transfer Emas di BRImo
-
BRI Sediakan Berbagai Layanan Keuangan Andal untuk Kebutuhan Nasabah Sepanjang Libur Lebaran