- Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mendesak pemerintah mengevaluasi belanja negara demi efisiensi anggaran di tengah ketidakpastian ekonomi global.
- Pemerintah pusat diminta menghentikan pemotongan transfer ke daerah dan fokus mengalihkan belanja tidak mendesak menjadi pengeluaran produktif.
- Penghematan anggaran harus dioptimalkan untuk memperkuat kedaulatan pangan serta mendukung infrastruktur kerakyatan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
SuaraJogja.id - Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menekankan pentingnya langkah ekstrem dalam pengelolaan anggaran negara di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hasto menilai, langkah utama yang harus diambil pemerintah saat ini adalah keberanian untuk menyisir kembali belanja negara dan memangkas pengeluaran yang tidak memberikan dampak langsung pada produktivitas rakyat.
"Jadi ketika siapa pun, termasuk di dalam ekonomi rumah tangga, ketika menghadapi krisis, langkah pertama adalah mengurangi pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu dan kemudian dari pengeluaran yang tidak perlu itu diubah menjadi pengeluaran yang produktif," kata Hasto ditemui di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (8/4/2026).
Hasto mengkritik kebijakan pemerintah pusat yang justru melakukan pemotongan transfer ke daerah (TKD). Menurutnya, kebijakan tersebut tidak tepat sasaran.
Alih-alih memotong hak daerah, PDIP mendorong adanya evaluasi total terhadap efisiensi birokrasi dan belanja modal yang tidak mendesak.
Setiap rupiah yang berhasil dihemat dari pengeluaran yang tidak perlu harus dikonversi menjadi bantuan sarana produksi pertanian atau infrastruktur kerakyatan.
"Dari pengeluaran yang tidak perlu itu diubah menjadi pengeluaran yang produktif. Contohnya di sini (Pemkot Jogja) membuat cabang untuk warung Brongkos yang cita rasanya luar biasa. Itu artinya menciptakan gerak ekonomi, nah Pemda memberikan campur tangan di situ," ujarnya.
Di sisi lain, PDIP mendesak agar pemerintah segera memperkuat ketahanan fiskal nasional. Hal ini dianggap krusial agar masyarakat tidak terus dibayangi kecemasan terhadap isu kenaikan harga BBM saat gejolak energi global.
"Persiapan menghadapi krisis itu harus kita siapkan secara progresif. Termasuk perlunya evaluasi terhadap pemotongan anggaran di daerah," ujarnya.
Baca Juga: PDIP Hadirkan Lakon Wisanggeni Lahir, Hasto Kristiyanto: Gambarkan Suasana Kebatinan Partai
Hasto mengingatkan bahwa fokus utama pemerintah seharusnya adalah memastikan kedaulatan pangan tetap terjaga di tengah keterbatasan anggaran.
Baginya, efisiensi yang dilakukan pemerintah pusat tidak boleh mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat yang paling fundamental.
"Transfer ke daerah yang dipotong itu perlu dilakukan evaluasi dan kemudian harus mendorong bagaimana daerah punya kemampuan untuk mendorong daya tahan perekonomian kita," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Pertemuan di Rumah Presiden, Jampidsus Febrie Adriansyah Diminta Jentelmen Mundur
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Anggaran MBG Dipangkas Rp94 Triliun, Bagaimana Nasib Ratusan SPPG di Jogja?
-
Promo Kredit Kendaraan Berbunga 1,80% Meriahkan BRI KKB Expo 2026 di 131 Lokasi
-
8.000 Orang Lepas Status WNI dalam Lima Tahun, Indonesia Terancam Kehilangan SDM Berkualitas
-
Akademisi: Publik Berhak Menagih Kinerja jika Gaji Kepala Daerah Naik
-
Mandala Krida Terkendala Status Hukum, Erick Thohir Siap Jembatani Pemda dan KPK