Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 13 April 2026 | 17:04 WIB
Kegiatan pertanian oleh komunitas Petani Punk Gunungkidul. (Dok: istimewa).
Baca 10 detik
  • Komunitas Petani Punk di Gunungkidul mengintegrasikan teknologi AI untuk memasok bahan pangan bagi program Makan Bergizi Gratis.
  • Target pasokan pangan untuk lima dapur di Gedangsari dan Playen akan direalisasikan pada akhir April 2026 mendatang.
  • Penerapan sistem AI dilakukan untuk memastikan transparansi, efisiensi distribusi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal di wilayah tersebut.

SuaraJogja.id - Ketika sektor pertanian mulai kehilangan peminat dari kalangan milenial dan Gen Z, sekelompok pemuda di Gunungkidul yang menamakan diri Petani Punk justru melakukan langkah progresif. Tidak hanya turun ke sawah, mereka mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Komunitas ini berkomitmen menjadi pemasok utama bahan baku pangan untuk dapur-dapur MBG di wilayah Gunungkidul. Melalui sentuhan teknologi modern, mereka ingin membuktikan bahwa bertani bisa menjadi profesi yang membanggakan sekaligus canggih.

SiBagz, selaku perwakilan Petani Punk Gunungkidul menyatakan telah menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Bijana Paksi Sitengsu.

Targetnya, pada akhir April 2026 ini, hasil budidaya Petani Punk siap untuk digunakan dalam memasok lima titik dapur MBG yang tersebar di wilayah Gedangsari dan Playen.

Gerakan Petani Punk Gunungkidul sendiri telah dimulai sejak 2018 silam. Komunitas ini lahir sebagai respon atas keresahan terhadap minimnya regenerasi petani di pedesaan. 

"Ya ketimbang memilih pekerjaan di sektor formal perkotaan, para punker ini justru bangga turun ke sawah, meneruskan jejak profesi orang tua mereka dengan gaya dan metode yang lebih progresif," kata SiBagz, dalam keterangannya, Senin (13/4/2026).

Kegiatan pertanian oleh komunitas Petani Punk Gunungkidul. (Dok: istimewa).

Untuk menjamin kualitas dan transparansi, mereka menggunakan sistem teknologi terpadu berbasis AI. Sistem ini dikembangkan dengan konsep Hub yang mengintegrasikan data dari lima dapur yang ada, sehingga stok dan distribusi bisa dipantau secara real-time.

Ia mengungkapkan bahwa langkah ini adalah pembuktian bahwa identitas punk juga bisa memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional.

"Kita juga merangkul generasi Z di desa untuk membudidayakan berbagai jenis komoditas, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, bahan pokok, hingga sektor perikanan dan peternakan," tuturnya.

Baca Juga: Tiga Petani Sleman Tersambar Petir saat Berteduh di Gubuk Tengah Sawah, Dua Orang Meninggal Dunia

Sementara itu, Tedi Anggoro selaku Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk memastikan ketersediaan pangan yang sehat dan berkelanjutan bagi program pemerintah.

"Hingga saat ini, progres pembangunan infrastruktur dapur MBG telah mencapai 80 persen. Fasilitas ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pengolahan makanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat lokal," ujar Tedi.

Dari sisi teknis, Fajar Saptono dari Tim IT menjelaskan bahwa penggunaan AI memungkinkan proses monitoring yang lebih terbuka dari hulu ke hilir. Segala proses, mulai dari masa tanam di pemasok hingga makanan sampai ke tangan siswa, dapat terdata dengan akurat.

"Dengan sistem monitoring digital ini, diharapkan tercipta ekosistem pangan yang transparan dan efisien, sekaligus membangkitkan kebanggaan anak muda untuk kembali membangun desa melalui pertanian," tandas Fajar. 

Load More