- Pramono, seorang ODHIV, berjuang melawan stigma sosial dan diskriminasi pekerjaan setelah menerima vonis medis pada Januari 2014 lalu.
- Dona, ketua Ikatan Waria Bantul, mematahkan stereotip negatif melalui kontribusi nyata serta keterlibatannya dalam kegiatan sosial di masyarakat.
- Yayasan Kebaya Yogyakarta mendesak negara memberikan perlindungan hukum bagi kelompok rentan melalui pengesahan undang-undang anti-diskriminasi yang mendesak segera disahkan.
SuaraJogja.id - Tulisan "PRAM" di dadanya bukan sekadar nama. Bagi Pramono (45), itu adalah deklarasi perang melawan stigma. Di sebuah forum di Yogyakarta, ia tak duduk di kursi narasumber yang ditinggikan, melainkan sejajar dengan peserta lain—sebuah simbol kuat dari perjuangan panjangnya menuntut kesetaraan sebagai seorang dengan HIV (ODHIV).
Panggung hidupnya adalah medan pertempuran. Ingatannya melayang ke Januari 2014, saat vonis dokter terdengar seperti lonceng kematian. Tubuhnya kurus kering, beratnya anjlok hingga 40 kilogram akibat diare tanpa henti.
“Melihat kondisi badan saya, saat itu dokter langsung memvonis paling bertahan maksimal enam bulan. Saat itu langit tuh kayak runtuh. Alhamdulillah saya bisa berdiri di sini sampai hari ini,” kata Pram yang dikutip dari ANTARA pada Sabtu (18/4/2026).
Namun, vonis dokter ternyata tak lebih kejam dari vonis masyarakat. Pram, seorang ayah dengan dua anak yang istri dan buah hatinya negatif HIV, harus menelan pil pahit diskriminasi berulang kali. Ia dipecat dari pekerjaannya, tidak hanya sekali, tapi empat kali.
Penyebabnya sepele namun fatal: ia harus rutin mengambil obat Antiretroviral (ARV) di rumah sakit pada jam kerja. Setiap bulan, ia terpaksa berbohong, mengarang cerita nenek atau saudaranya meninggal dunia hanya untuk bisa bertahan hidup. Kebohongan itu akhirnya habis.
“Akhirnya saya terbuka soal status ke HRD dan yang ada beberapa hari kemudian saya disodori surat mengundurkan diri atau diberhentikan. Saya diminta memilih,” cerita Pram yang kini ironisnya justru memegang posisi sebagai manajer keuangan di Yayasan Kebaya Yogyakarta.
Perjuangannya tak hanya di luar, tapi juga di dalam. Tubuhnya sempat menolak obat. Setiap kali ARV masuk, perutnya bergejolak dan memuntahkannya. Namun, tekadnya lebih keras dari penolakan tubuhnya.
“Saya mulai rutin minum ARV. Kalau muntah, obatnya saya ambil lagi. Mungkin itu menjijikkan, tapi tekad saya obat harus masuk karena jika ambil baru artinya mengurangi jatah,” katanya.
Kisah resiliensi serupa datang dari Ali Dani (37), ODHIV asal Bangka Belitung, yang dukungan keluarganya menjadi bahan bakar untuk bangkit dari kondisi kritis.
Baca Juga: Fenomena Perilaku Seksual 'Pelangi' di Sleman, Dinkes: LSL Tulari Istri, Tulari Bayi
Perjuangan mengikis stigma juga digelorakan oleh Dona (43), Ketua Ikatan Waria Bantul. Ia memilih jalur yang tak biasa: kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Dona aktif menginisiasi senam mingguan hingga mengelola iuran kas RT. Hasilnya, ia dipercaya warga menjadi pengurus RT, mematahkan stereotip bahwa transpuan hanya lekat dengan dunia malam.
"Saya ingin menunjukkan bahwa tidak semua transpuan seperti yang dipandang sebelah mata, karena kami juga bisa bekerja, memiliki usaha mandiri, dan membantu meningkatkan perekonomian keluarga,” ujar Dona, yang sukses dengan usaha tata riasnya.
Kisah Pram, Ali, dan Dona adalah sebagian kecil dari ratusan orang yang dirangkul Yayasan Kebaya Yogyakarta. Dipimpin Vinolia Wakijo, yayasan ini telah menjadi rumah bagi kelompok minoritas selama 22 tahun.
Pembina Yayasan Kebaya, Ruli Malay, menegaskan bahwa perjuangan ini membutuhkan perlindungan negara. Ia menyayangkan rancangan undang-undang anti-diskriminasi yang tak kunjung masuk Prolegnas.
"Negara wajib hadir untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia setiap warga negara tanpa kecuali, termasuk memberikan perlindungan hukum spesifik bagi kelompok yang rentan diskriminasi,” tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais