-
PAI UNY mengadakan pengabdian masyarakat di SMA UII Yogyakarta untuk memperkuat literasi kesetaraan gender berbasis Islam bagi guru MGMP PAI.
-
Dr. Hamdhan Djainudin menegaskan tanggung jawab perguruan tinggi mendampingi guru, sementara Dr. Yuyun Sri Wahyuni menekankan Islam menempatkan laki-laki dan perempuan setara.
-
Forum membahas stereotip gender dan strategi pembelajaran inklusif agar pendidikan agama Islam lebih adil.
SuaraJogja.id - Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta (FISIP UNY), menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Membangun Literasi dan Praktik Kesetaraan Gender Berbasis Islam di MGMP PAI SMA DIY”.
Acara berlangsung di Ruang Audio Visual SMA UII Yogyakarta dan diikuti guru-guru PAI yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI SMA se-DIY.
Pihak SMA UII Yogyakarta menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program ini, menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendampingi guru dalam merespons berbagai isu pendidikan yang berkembang di masyarakat," tutur Ketua Program Studi PAI UNY, Hamdhan Djainudin.
Materi disampaikan oleh tim pengabdian yang diketuai Yuyun Sri Wahyuni bersama Ayu Usada Rengganingtias.
Tujuannya memperkuat pemahaman guru mengenai konsep kesetaraan gender dalam perspektif Islam serta mendorong implementasinya dalam praktik pembelajaran.
Narasumber menekankan bahwa Islam menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai manusia dengan martabat dan tanggung jawab yang sama.
“Nilai keadilan dan kesetaraan merupakan bagian integral dari ajaran Islam,” jelas Yuyun.
Selain aspek konseptual, forum ini juga membahas fenomena nyata di dunia pendidikan, seperti stereotip gender, bahasa yang bias, hingga representasi perempuan dalam media.
Baca Juga: Umat Islam Satu Waktu? Muhammadiyah Resmi Rilis Kalender Hijriah Global Tunggal
Guru PAI dianggap memiliki peran strategis dalam membangun budaya sekolah yang inklusif dan adil.
Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta berbagi pengalaman terkait tantangan mengajarkan relasi laki-laki dan perempuan di sekolah.
Melalui forum ini, guru memperoleh wawasan tentang strategi pembelajaran responsif gender, mulai dari penggunaan bahasa inklusif, pengembangan bahan ajar berkeadilan, hingga penciptaan lingkungan belajar yang ramah bagi semua siswa.
Program Studi PAI berharap kegiatan ini dapat memperkuat pemahaman guru MGMP PAI SMA DIY tentang kesetaraan gender dalam perspektif Islam.
Dengan begitu, pendidikan agama Islam tidak hanya menjadi sarana penguatan nilai keagamaan, tetapi juga media membangun budaya inklusif, adil, dan berkeadaban.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
-
Setoran Pajak Meroket, Kinerja BRI Kian Solid Berkat Sentuhan Danantara
-
Tanggulangi Kekeringan di Musim Kemarau, Kodim 0730/Gunungkidul Bangun 18 Titik Sumur Bor
-
Materi Pencegahan LGBTQ Masuk Sekolah, Pengamat Ingatkan Guru Jangan Menghakimi Siswa
-
Haraku Ramen Buka Gerai Pertama di Jogja, Cita Rasanya Dipuji Bupati Sleman: Cocok di Lidah!