Budi Arista Romadhoni
Kamis, 23 Juli 2026 | 14:29 WIB
Direktur Centre for GEDSI UNU Jogja, Erin Gayatri. (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta membentuk Centre for GEDSI dan Satgas PPKPT pada Kamis, 23 Juli 2026.
  • Kedua lembaga kampus tersebut menyediakan layanan konsultasi dan pendampingan untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan serta perundungan.
  • Erin Gayatri menyatakan bahwa sivitas akademika harus mengenali tanda-tanda kekerasan secara dini untuk mencegah dampak serius.

"Edukasi, peningkatan literasi, serta penyediaan ruang konsultasi menjadi langkah penting untuk mencegah kekerasan sekaligus memastikan korban maupun pihak yang membutuhkan bantuan tidak merasa sendirian," jelasnya.

Selain kekerasan berbasis gender, perundungan juga menjadi persoalan yang mendapat perhatian serius di lingkungan pendidikan. Tindakan mengejek, merendahkan, mengucilkan, maupun mempermalukan seseorang tidak semestinya dianggap sebagai candaan apabila telah membuat korban merasa tertekan atau tidak aman.

Karena itu budaya saling menghormati dibangun dalam kehidupan kampus. Setiap individu harus memahami batasan pribadi orang lain dan tidak menjadikan kondisi, latar belakang, maupun perbedaan seseorang sebagai alasan untuk melakukan diskriminasi atau perundungan.

Mahasiswa juga didorong untuk lebih peka terhadap kondisi teman di sekitarnya. Perubahan perilaku, menarik diri dari lingkungan sosial, atau terlihat mengalami tekanan dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang menghadapi persoalan yang membutuhkan dukungan.

"Ketika mengetahui adanya dugaan kekerasan atau perundungan, mahasiswa dapat mendorong korban untuk mendapatkan bantuan melalui mekanisme yang tersedia di kampus," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More