Nur Khotimah
Minggu, 26 Juli 2026 | 08:13 WIB
Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) perdana yang digelar di Pasar Kebonagung, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, pada Sabtu (25/7/2026). (Suarajogja.id/Praba Mustika)
Baca 10 detik
  • Disperindag Kabupaten Sleman memulai program GEMPAR di Pasar Kebonagung pada tanggal 25 Juli 2026.
  • Pemerintah daerah berupaya mengembangkan pasar tradisional menjadi destinasi wisata kuliner serta pusat pertumbuhan UMKM lokal.
  • Program ini menghadapi tantangan penerapan digitalisasi pembayaran yang diatasi melalui sekolah pasar dan pendampingan keluarga.

SuaraJogja.id - Pasar rakyat tidak hanya berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi ruang sosial dan destinasi wisata berbasis budaya lokal.

Melalui pengelolaan yang tepat serta dukungan berbagai pihak, pasar tradisional dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat eksistensi pelaku UMKM.

Berangkat dari semangat tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman resmi memulai rangkaian Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) melalui kegiatan perdana yang digelar di Pasar Kebonagung, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, pada Sabtu (25/7/2026).

Program ini mengusung tema "Pasar Tradisional Bergeliat, UMKM Kuat" sebagai upaya semakin menghidupkan aktivitas pasar rakyat sekaligus memperkuat daya saing UMKM.

Kegiatan pembukaan dihadiri oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Dwi Wulandari, bersama jajaran perangkat daerah, pemerintah kalurahan, pengelola pasar, paguyuban pedagang, pelaku UMKM, dan masyarakat.

Melalui GEMPAR, Pemerintah Kabupaten Sleman mendorong Pasar Kebonagung berkembang tidak hanya sebagai pusat transaksi ekonomi, tapi juga sebagai salah satu destinasi wisata kuliner yang mampu menarik lebih banyak pengunjung.

Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) di Pasar Kebonagung, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, pada Sabtu (25/7/2026). (Suarajogja.id/Praba Mustika)

Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas perdagangan, memperluas peluang usaha bagi pelaku UMKM, sekaligus memperkuat peran pasar rakyat sebagai bagian penting dari perekonomian daerah.

Namun untuk mewujudkan branding ini, Dwi Wulandari mengaku ada satu tantangan yang perlu dihadapi, yakni mendorong penerapan digitalisasi pembayaran.

Menurutnya, transformasi tersebut perlu dilakukan secara bertahap mengingat sebagian pedagang merupakan generasi senior yang masih memerlukan pendampingan melalui program sekolah pasar agar semakin percaya diri memanfaatkan teknologi digital dalam aktivitas jual beli.

Baca Juga: Meriahkan Pasar Tradisional, GEMPAR Kebonagung Dorong UMKM Sleman Kian Berkembang

"Kami mempunyai program melalui sekolah pasar. Di mana tentunya dengan sekolah pasar itu kami berharap teman-teman pedagang itu ter-upgrade pengetahuannya khususnya di dalam marketing digital," tutur Dwi Wulandari ditemui usai pembukaan GEMPAR, Sabtu (25/7/2026).

Program pendampingan ini juga melibatkan anggota keluarga atau kerabat yang lebih muda. Mereka bertugas mengecek ataupun mendampingi pedagang senior terkait pembayaran digital.

"Upaya kami tentunya tidak henti-henti. Salah satu upaya kami itu adalah biasanya, nyuwun sewu, itu yang melakukan transaksi digital atau yang ngecek adalah keluarga atau putra-putrinya yang lebih muda nggih. Mereka lebih muda sehingga tidak gaptek teknologi," Dwi Wulandari kembali menjelaskan.

"Kemudian untuk yang sudah sepuh-sepuh sekali, memang kami tidak mewajibkan untuk beliaunya memakai QRIS, karena takutnya nanti malah terjadi kendala di dalam transaksinya. Jadi kami memang yang muda-muda dulu," lanjutnya.

Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) di Pasar Kebonagung, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, pada Sabtu (25/7/2026). (Suarajogja.id/Praba Mustika)

Meski terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, Disperindag Kabupaten Sleman menegaskan bahwa modernisasi pasar tidak boleh menghilangkan identitas pasar tradisional.

Budaya tawar-menawar, kedekatan antara pedagang dan pembeli, hingga suasana yang hangat dan akrab menjadi nilai khas yang tidak dimiliki pusat perbelanjaan modern dan perlu terus dipertahankan.

Load More