Farah Nabilla
Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Pedagang Pasar Balangan Sleman di tengah acara GEMPAR [Foto: Michael/SuaraJogja]
Baca 10 detik
  • Disperindag Kabupaten Sleman menggelar Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat di Pasar Balangan untuk meningkatkan omzet pedagang.
  • Pemerintah daerah berupaya mengurangi ketergantungan pedagang terhadap rentenir melalui penyediaan koperasi dan BMT sebagai alternatif pembiayaan.
  • Pemerintah Kabupaten Sleman juga menyiapkan pendampingan hukum gratis bagi pedagang yang menghadapi permasalahan hukum terkait pinjaman.

SuaraJogja.id - Gerakan Meramaikan Pasar Rakyat (GEMPAR) yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman tak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Di balik kemeriahan acara, pemerintah juga mendorong agar pasar kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pedagang terhadap rentenir.

GEMPAR digelar di Pasar Balangan, Sleman, dengan menghadirkan berbagai hiburan dan kesenian rakyat. Sejak acara dimulai, masyarakat terlihat antusias memadati area pasar untuk menyaksikan rangkaian kegiatan.

Bagi pemerintah, ramainya pasar bukan sekadar soal jumlah pengunjung. Semakin banyak masyarakat yang kembali berbelanja di pasar tradisional, semakin besar pula peluang pedagang meningkatkan omzet dan mengembangkan usahanya.

Tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD Kabupaten Sleman, Untung Basuki Rahmat, mengatakan GEMPAR diharapkan mampu mengembalikan kebiasaan masyarakat untuk berbelanja di pasar rakyat. Namun, program tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari upaya mengurangi praktik pinjaman berbunga tinggi yang masih ditemui di lingkungan pasar.

"Targetnya selain untuk biar orang kembali ke pasar, rentenir juga bisa hilang di pasar," kata Untung saat ditemui di Pasar Balangan, Senin (10/8/2026).

Untung Basuki Rahmat, tokoh masyarakat di Kabupaten Sleman [Fot: Michael/SuaraJogja]

Menurutnya, keberadaan rentenir selama ini menjadi salah satu persoalan yang dapat menghambat perkembangan ekonomi pedagang. Pedagang memang bisa memperoleh uang dengan cepat, tetapi harus menghadapi beban bunga yang tinggi.

"Biasa di pasar itu orang pinjam di rentenir, yang bunganya tinggi-tinggi ini menghambat perekonomian pedagang. Menolong di awal tapi sulit di belakangnya," ujarnya.

Koperasi dan BMT Jadi Alternatif Pembiayaan Pedagang

Untung mengatakan pemerintah perlu menghadirkan alternatif pembiayaan yang lebih aman dan terjangkau bagi pedagang. Salah satunya melalui koperasi yang sudah tersedia di lingkungan pasar.

Baca Juga: GEMPAR Hadir di Pasar Balangan, Pasar Tumbuh Ekonomi Sleman Tangguh

"Salah satu solusinya ini kan ada koperasi, Pasar Balangan ini punya koperasi, lalu kami juga menyiapkan BMT," katanya.

BMT merupakan singkatan dari Baitul Maal wa Tamwil, yakni lembaga keuangan mikro yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. Kehadiran lembaga seperti koperasi dan BMT diharapkan dapat memberikan pilihan pembiayaan bagi pedagang tanpa harus bergantung kepada rentenir.

Dengan akses pembiayaan yang lebih sehat, pedagang diharapkan dapat memperoleh tambahan modal untuk mengembangkan usaha tanpa terbebani bunga pinjaman yang tinggi.

Pedagang Sebut Rentenir Masih Ada

Ketua Paguyuban Mekar Jaya sekaligus pedagang jajan pasar, Supihartati, membenarkan bahwa keberadaan rentenir masih ditemukan di sekitar pasar.

Supihartati (hijau) pedagang dan Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Balangan [Foto: Farah/SuaraJogja]

"Masih ada rentenir," ujarnya.

Load More