Budi Arista Romadhoni
Senin, 17 Agustus 2026 | 08:58 WIB
Kondisi rumah di Kalurahan Peta, NTT yang rusak akibat gempa, Minggu (16/8/2026). (Dok. Humas UMY)
Baca 10 detik
  • Sebanyak 61 mahasiswa UMY di NTT selamat dari gempa magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).
  • Mahasiswa mengalihkan program KKN menjadi kegiatan kebencanaan dan tinggal di tenda darurat pengungsian.
  • Korban gempa memerlukan bantuan mendesak berupa logistik, air minum, serta pasokan alat medis.

SuaraJogja.id - Sebanyak 61 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) harus menghadapi situasi darurat setelah gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut, Sabtu (15/8/2026). Alih-alih meninggalkan lokasi, para mahasiswa yang sebelumnya menjalankan program KKN reguler kini justru menggeser fokus kegiatannya menjadi program kebencanaan. 

Mereka memilih tetap mendampingi warga terdampak. Saat ini mahasiswa ikut mengungsi dan bermalam di tenda darurat di kawasan perbukitan.

Kepala Subdirektorat Humas dan Media UMY, Fitria Rahmawati saat dikonfirmasi, Minggu (16/8/2026) menyatakan kondisi seluruh mahasiswa KKN dipastikan aman. Tidak ada mahasiswa yang menjadi korban dalam gempa tersebut.

"Tidak ada korban, kondisi mahasiswa KKN UMY baik," ujarnya.

Sebanyak 61 mahasiswa tersebut terbagi dalam dua kelompok. Kelompok Gema Pelita Nusantara (GPN). Mereka terdiri dari 26 mahasiswa yang ditempatkan di Desa Macang Tanggar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. 

Sedangkan kelompok Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) beranggotakan 35 mahasiswa di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur.

Saat gempa dan ancaman tsunami terjadi, mahasiswa bersama warga melakukan evakuasi menuju wilayah perbukitan. Mereka kini tinggal sementara di tenda-tenda darurat yang dibangun bersama warga.

"Mereka ikut mengungsi ke daerah perbukitan, sudah mulai membangun tenda-tenda darurat," jelasnya.

Fitria menyebut, situasi tersebut membuat kegiatan KKN yang sebelumnya telah dirancang harus berubah total. Mahasiswa dan dosen pembimbing lapangan (DPL) sepakat menggeser orientasi program menjadi kegiatan kebencanaan.

Baca Juga: Ramai di Threads, Dosen Farmasi UMY Diduga Lecehkan Mahasiswi, Kampus Panggil yang Bersangkutan

Perubahan ini membuat mahasiswa tidak sekadar menjadi pengungsi. Namun mereka juga mengambil peran membantu warga yang terdampak bencana.

Di lokasi pengungsian, mahasiswa membantu menyiapkan makanan, mendirikan tenda hingga menyiapkan tempat tidur bagi warga. Mereka juga ikut mendampingi warga yang membutuhkan bantuan.

Keputusan untuk tetap berada di lokasi bukan berarti kampus mengabaikan aspek keselamatan. Sebelumnya, UMY melakukan asesmen terhadap kondisi lapangan untuk menentukan apakah mahasiswa perlu ditarik atau masih memungkinkan melanjutkan kegiatan.

"Hasil pemantauan dan koordinasi dengan DPL menjadi dasar penyesuaian program KKN tersebut," jelasnya.

Semangat mahasiswa untuk membantu warga juga menjadi pertimbangan. Mereka menyatakan ingin tetap berada di tengah masyarakat terdampak selama kondisi lapangan masih memungkinkan dan aman.

Masa KKN sendiri dijadwalkan berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Dengan adanya perubahan fokus, sisa masa KKN kini diarahkan untuk mendukung penanganan kebencanaan dan membantu masyarakat serta pemerintah setempat dalam proses pascabencana.

Load More