- Prof Siti Indarwati dari UGM menyatakan bahwa perubahan iklim kini nyata mengancam produktivitas peternakan.
- Peternak harus melakukan strategi mitigasi dan adaptasi bersamaan melalui teknologi pakan serta manajemen usaha yang tangguh.
- Pendekatan lima modal penghidupan diperlukan agar peternak mampu bertahan menghadapi berbagai guncangan krisis lingkungan.
SuaraJogja.id - Perubahan iklim kini bukan lagi ancaman yang hanya dibicarakan untuk masa depan. Bagi peternak, dampaknya sudah terasa langsung dan mulai mengancam produktivitas hingga keberlangsungan mata pencaharian.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Siti Indarwati, mengatakan perubahan pola curah hujan, kenaikan suhu, hingga meningkatnya kejadian cuaca ekstrem telah memberikan tekanan nyata terhadap usaha peternakan.
Kondisi tersebut dapat mengganggu ketersediaan pakan, kesehatan ternak, produktivitas, hingga pendapatan peternak.
"Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang telah dirasakan secara nyata oleh peternak saat ini," kata Siti dikutip dari ANTARA di Yogyakarta pada Senin (17/8/2026).
Menurut Siti, situasi tersebut menunjukkan bahwa sektor peternakan tidak cukup hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Sistem usaha peternakan juga harus memiliki kemampuan bertahan ketika menghadapi berbagai guncangan, mulai dari perubahan iklim, bencana, globalisasi hingga tekanan sosial dan ekonomi.
Di sisi lain, sektor peternakan menghadapi posisi yang cukup kompleks. Peternakan menjadi salah satu sektor yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, tetapi sekaligus memiliki peluang untuk ikut menekan dampak tersebut.
Karena itu, Siti mendorong strategi adaptasi dan mitigasi dilakukan secara bersamaan.
Pada sisi mitigasi, peternak dapat didorong meningkatkan efisiensi produksi, memperbaiki kualitas pakan, memanfaatkan teknologi pakan, serta mengolah limbah ternak menjadi biogas. Langkah tersebut dapat membantu menciptakan sistem produksi yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Sementara dari sisi adaptasi, perubahan perlu dilakukan dalam sistem produksi dan manajemen usaha. Pengembangan ternak yang lebih mampu menghadapi stres panas, pemanfaatan teknologi informasi, penguatan kelembagaan peternak, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Baca Juga: Usai Ricuh Forum GIK, Mahasiswa UGM Sebut Demokrasi Indonesia Telah Mati
Peternak Tak Cukup Hanya Punya Ternak
Siti juga menilai keberlanjutan kehidupan peternak tidak bisa diukur hanya dari seberapa banyak ternak yang dimiliki atau seberapa tinggi produktivitas yang dihasilkan.
Ia menekankan pentingnya pendekatan Sustainable Livelihood Framework untuk memperkuat kemampuan peternak menghadapi berbagai guncangan.
Dalam pendekatan tersebut, kehidupan peternak ditopang oleh lima jenis modal, yakni modal alam, manusia, sosial, fisik, dan finansial.
Kelima modal tersebut perlu diperkuat secara bersamaan. Sebab, ketika salah satu aspek melemah, kemampuan peternak menghadapi krisis juga ikut menurun.
"Keberhasilan peternak sebagai mata pencaharian tidak hanya ditentukan produktivitas ternak, tetapi juga kemampuan mengelola berbagai aset penghidupan," ujar Siti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
Ketua Yayasan Little Aresha Dituntut 10 Tahun Penjara, 83 Anak Korban Minta Restitusi Rp2,12 Miliar
-
BRI Bidik Peluang Bisnis dari MotoGP Mandalika 2026
-
Pemerintah Berencana Buat Program Kuliah Gratis, PTS Terancam Gigit Jari Kehilangan Mahasiswa
-
Ngenes! Prabowo Tambah Pejabat, Transfer ke DIY Malah Susut Rp910 Miliar
-
MotoGP Mandalika 2026 Makin Ramah Lingkungan, BRI Peduli Kerahkan 500 Relawan