- Mahasiswa UGM memprotes kericuhan forum di GIK UGM pada 15 Juni 2026 akibat ketidaksetaraan dialog dengan pihak pemerintah.
- Kericuhan terjadi karena mahasiswa merasa pemerintah gagal mengatasi persoalan struktural, ekonomi, dan dugaan represif terhadap ruang sipil.
- Mahasiswa UGM menuntut pembebasan tahanan politik, pencabutan revisi UU TNI dan Polri, serta penghentian kriminalisasi terhadap seluruh aktivis.
SuaraJogja.id - Mahasiswa UGM akhirnya angkat bicara terkait kericuhan yang terjadi dalam forum yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin (15/6/2026) lalu. Perwakilan mahasiswa UGM, Sarah bersama puluhan mahasiswa lainnya di Balairung UGM, Rabu (17/6/2026) menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk ekspresi atas krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang dinilai semakin jauh dari kepentingan rakyat.
Menurutnya, kemarahan mahasiswa dipicu oleh anggapan forum yang dikemas sebagai ruang diskusi
Alih-alih dialog, kegiatan itu justru lebih menyerupai ajang pemaparan capaian pemerintah dan tidak memberikan ruang dialog yang setara.
"Yang terjadi pada malam 15 Juni di GIK adalah bentuk ekspresi ketidakpercayaan kami terhadap pemerintah yang berulang kali secara jelas menindas rakyat," ujarnya.
Ia menyebut, mahasiswa yang hadir saat itu awalnya memperoleh informasi mengenai kedatangan sejumlah pejabat negara beserta pihak-pihak yang dianggap dekat dengan pemerintah ke UGM. Kecurigaan mahasiswa, kata dia, semakin menguat setelah mereka berada di dalam forum dan melihat porsi pembicaraan yang dinilai tidak seimbang.
Di tengah teriakan, bentrokan, dan sejumlah benda yang sempat terlempar ke arah panggung dari berbagai sisi, Sarah mengatakan perhatian publik seharusnya tertuju pada akar persoalan yang melatarbelakangi kemarahan mahasiswa.
"Kami muak dan tidak lagi percaya kepada pemerintah yang terlebih dahulu melakukan kekerasan terhadap rakyat," ujarnya.
Dalam pernyataannya, mahasiswa UGM menilai berbagai persoalan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir tidak lagi dapat dijelaskan dengan dalih tindakan segelintir oknum. Mereka memandang persoalan tersebut merupakan bagian dari masalah struktural yang dipelihara oleh rezim yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Sejumlah kebijakan pemerintah turut menjadi sorotan. Mahasiswa mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), proyek food estate, serta pengesahan revisi Undang-Undang TNI dan Rancangan Undang-Undang Polri yang dinilai berpotensi memperluas campur tangan aparat di ruang sipil.
Baca Juga: Pencuri Bilah Gamelan di FIB UGM Ditangkap, Sudah Beraksi di ISI dan Dijual ke Tukang Rongskok
Sarah menegaskan mahasiswa UGM tidak menolak dialog. Namun, menurutnya, dialog yang substansial hanya dapat dilakukan apabila terdapat posisi yang setara dan adanya kepercayaan terhadap pihak yang berdialog.
"Kami tidak pernah anti terhadap dialog maupun diskusi. Namun bagaimana mungkin kami dapat berdiskusi secara substantif dan setara dengan orang-orang pemerintahan yang jelas tidak dapat dipercaya dan tidak berpihak pada rakyat," katanya.
Berbagai persoalan ekonomi turut menjadi alasan kemarahan mahasiswa. Mereka menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah, defisit anggaran negara, kenaikan harga Pertamax, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja yang dinilai semakin memperburuk kondisi masyarakat.
Mahasiswa juga menyoroti besarnya anggaran sektor pertahanan dan lembaga keamanan yang dianggap tidak sebanding dengan perhatian pemerintah terhadap sektor pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.
"Ada dugaan militerisasi ruang sipil melalui rencana pembentukan batalyon Komponen Cadangan di setiap kabupaten dan kota," tandasnya.
Ditambahkannya, persoalan hak asasi manusia, mulai dari kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus hingga temuan KontraS mengenai dugaan extrajudicial killing yang melibatkan aparat juga masih jadi masalah serius.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur sebagai Pengacara Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
Terkini
-
Usai Ricuh Forum GIK, Mahasiswa UGM Sebut Demokrasi Indonesia Telah Mati
-
Emoji Bukan Sekadar Hiasan, Peneliti Temukan Simbol Bisa Bantu AI Mendeteksi Spam di Medsos
-
Gerah Kasus Korupsi Mandala Krida Tak Tuntas, Suporter PSIM Gelar Topo Bisu pada Malam 1 Suro
-
APBD DIY Dihantam Krisis, 67 Persen Bergantung Dana Transfer, Pemda Terpaksa Pangkas Anggaran
-
Cuaca Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Anak, Dokter Ingatkan Risiko Heat Stroke