- Sejumlah warga Yogyakarta memprotes perubahan drastis klasifikasi desil DTSEN pasca Sensus Ekonomi 2026 yang menyebabkan mereka kehilangan bantuan sosial.
- Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti meminta klarifikasi BPS terkait dasar penghitungan metode klasifikasi desil yang dinilai tidak sesuai kondisi warga.
- Pemda DIY mendorong masyarakat melakukan verifikasi ulang data agar penyaluran bantuan sosial tepat sasaran dan selaras dengan kondisi lapangan.
"Ini sangat memengaruhi juga terkait apakah ada hubungannya dengan kemarin, basis ekonomi yang kemudian banyak hal mempertimbangkan ataupun kemudian ada kebijakan lain," katanya.
Made menyebut, Pemda bukannya mau membandingkan data milik pemerintah pusat dan daerah. Namun klarifikasi itu dibutuhkan untuk penyelarasan data agar kondisi masyarakat di lapangan benar-benar sesuai dengan data yang digunakan pemerintah pusat.
DIY sendiri telah mengembangkan integrasi data kemiskinan dengan menggabungkan sejumlah sumber data, termasuk data pemerintah pusat serta data yang dikumpulkan kabupaten dan kota. Data terintegrasi tersebut dapat digunakan untuk melihat kondisi masyarakat secara lebih detail, mulai dari identitas penerima, tingkat kemiskinan hingga bantuan yang telah diterima.
Untuk itu Pemda DIY mendorong masyarakat melakukan verifikasi ulang apabila masyarakat merasa status ekonominya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Sebab masyarakat juga harus diberikan ruang untuk mengoreksi apabila terdapat kesalahan dalam pendataan.
"Data real harus bisa dilihat. Bukan kita mau membandingkan data, tapi menyelaraskan data. Jadi masyarakat bisa diminta untuk melakukan perbaikan, verifikasi ulang," katanya.
Persoalan data ini menjadi semakin penting, lanjutnya karena pemdatidak hanya ingin mengetahui berapa jumlah warga miskin. Namun juga memastikan bantuan tidak salah sasaran dan tidak terjadi tumpang tindih antarprogram.
Pemda DIY juga meminta penanganan terhadap 18 lokus kemiskinan memiliki target yang jelas. Setiap wilayah harus memiliki ukuran keberhasilan, termasuk kapan wilayah tersebut dapat dinyatakan keluar dari kategori miskin.
"Saya juga minta ada target. Jadi kita bicara 18 lokus kemiskinan itu, sudah ada kapan mau kita anggap dia mendeklarasikan sudah tidak lagi sebagai wilayah miskin. Itu harus ada," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga: Efisiensi Anggaran Paksa Seniman Bertahan Mandiri, Pemda DIY Prioritaskan Agenda Pusat
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
GEMPAR Dorong Pedagang Pasar Ngino Melek Digital Hingga Buka Wacana Pasar Sore
-
Festival Udin 2026, Merawat Ingatan 30 Tahun Kasus Udin
-
Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Screening 'Harusnya Horror' di Jogja Jelang Penayangan: Reza Arap dan AAAClan Disambut Meriah