Agung Pratnyawan
Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:45 WIB
Simbolisasi pembukaan Festival Udin 2026 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta di Gedung Sasana Ajiyasa, FSR ISI Yogyakarta, Kamis (13/8/2026). [Dok. Panitia Festival Udin / AJI Yogyakarta]
Baca 10 detik
  • AJI Yogyakarta menggelar Festival Udin 2026 untuk memperingati 30 tahun kasus Udin.
  • Festival Udin 2026 menjadi ruang terbuka menyuarakan kebebasan pers dan lingkungan.
  • Berbagai agenda seni dan diskusi dihadirkan dalam Festival Udin 2026.

Rimba dalam podcast Radio UNISIA mengatakan medium film dan seni sengaja digunakan karena memiliki daya jangkau audiovisual yang lebih luas untuk menyampaikan kritik sosial.

Festival ini, menurutnya, juga menghubungkan isu kebebasan berekspresi dengan persoalan advokasi ekologis.

Hal tersebut terlihat dalam sejumlah agenda diskusi pada hari terakhir festival. Salah satunya adalah pemutaran dan diskusi film “Menjaga Hutan Tetap Bernyanyi” yang menghadirkan Yayasan Kanopi Indonesia dan kelompok masyarakat Lestari Purwosari.

Agenda lainnya adalah pemutaran dan diskusi film “Jejak Kolonial di Hutan Jawa” bersama Trend Asia dan peneliti isu agraria.

Dalam sambutannya Vivi juga mengatakan bahwa Festival Udin 2026 juga diposisikan sebagai ruang pendidikan publik yang menghubungkan ingatan mengenai Udin dengan persoalan demokrasi, kebebasan pers, dan keadilan lingkungan.

Festival tersebut mempertemukan jurnalis, seniman, akademisi, aktivis, dan komunitas dalam satu ruang publik.

Selain diskusi dan pemutaran film, pameran Festival Udin juga menggunakan arsip dan karya seni untuk menghadirkan kembali sosok Udin sekaligus berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan tema festival.

Dalam podcast Radio UNISIA, panitia menyebut pameran tersebut dibangun melalui riset sejarah dan artistik, termasuk linimasa investigasi jurnalistik serta dokumentasi kehidupan personal Udin.

Bagi AJI Yogyakarta, penyelenggaraan Festival Udin 2026 juga menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan publik sekaligus memperkuat regenerasi jurnalisme kritis.

Konsolidasi tersebut salah satunya dilakukan melalui keterlibatan pers mahasiswa dari berbagai daerah.

Dengan demikian, tiga dekade setelah kematian Udin, ingatan terhadap dirinya tidak hanya dihadirkan melalui seremoni peringatan.

Festival Udin mencoba membawa kembali pertanyaan yang sama ke ruang publik: bagaimana kebebasan pers, keberanian menyampaikan kritik, dan perjuangan melawan ketidakadilan dapat terus dirawat ketika kasus pembunuhan seorang wartawan masih belum menemukan penyelesaian hukum.

Reporter: Muhamad Fairus Farizki

Load More