- AJI Yogyakarta menggelar Festival Udin 2026 untuk memperingati 30 tahun kasus Udin.
- Festival Udin 2026 menjadi ruang terbuka menyuarakan kebebasan pers dan lingkungan.
- Berbagai agenda seni dan diskusi dihadirkan dalam Festival Udin 2026.
Rimba dalam podcast Radio UNISIA mengatakan medium film dan seni sengaja digunakan karena memiliki daya jangkau audiovisual yang lebih luas untuk menyampaikan kritik sosial.
Festival ini, menurutnya, juga menghubungkan isu kebebasan berekspresi dengan persoalan advokasi ekologis.
Hal tersebut terlihat dalam sejumlah agenda diskusi pada hari terakhir festival. Salah satunya adalah pemutaran dan diskusi film “Menjaga Hutan Tetap Bernyanyi” yang menghadirkan Yayasan Kanopi Indonesia dan kelompok masyarakat Lestari Purwosari.
Agenda lainnya adalah pemutaran dan diskusi film “Jejak Kolonial di Hutan Jawa” bersama Trend Asia dan peneliti isu agraria.
Dalam sambutannya Vivi juga mengatakan bahwa Festival Udin 2026 juga diposisikan sebagai ruang pendidikan publik yang menghubungkan ingatan mengenai Udin dengan persoalan demokrasi, kebebasan pers, dan keadilan lingkungan.
Festival tersebut mempertemukan jurnalis, seniman, akademisi, aktivis, dan komunitas dalam satu ruang publik.
Selain diskusi dan pemutaran film, pameran Festival Udin juga menggunakan arsip dan karya seni untuk menghadirkan kembali sosok Udin sekaligus berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan tema festival.
Dalam podcast Radio UNISIA, panitia menyebut pameran tersebut dibangun melalui riset sejarah dan artistik, termasuk linimasa investigasi jurnalistik serta dokumentasi kehidupan personal Udin.
Bagi AJI Yogyakarta, penyelenggaraan Festival Udin 2026 juga menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan publik sekaligus memperkuat regenerasi jurnalisme kritis.
Konsolidasi tersebut salah satunya dilakukan melalui keterlibatan pers mahasiswa dari berbagai daerah.
Dengan demikian, tiga dekade setelah kematian Udin, ingatan terhadap dirinya tidak hanya dihadirkan melalui seremoni peringatan.
Festival Udin mencoba membawa kembali pertanyaan yang sama ke ruang publik: bagaimana kebebasan pers, keberanian menyampaikan kritik, dan perjuangan melawan ketidakadilan dapat terus dirawat ketika kasus pembunuhan seorang wartawan masih belum menemukan penyelesaian hukum.
Reporter: Muhamad Fairus Farizki
Berita Terkait
-
Jurnalis Dihadang di TPS Ilegal Cilincing, Pramono Anung Siap Kerahkan Aparat untuk Pendampingan
-
Jurnalis Ini Diciduk Polisi Gegara Laporan Rumor Transfer Pemain, Kok Bisa?
-
Bambang Harymurti Wanti-wanti RUU Perampasan Aset Jangan Jadi Senjata Politik
-
Kantor Kemenko Polkam Tak Aman? Motor Jurnalis iNews Hilang, Tak Ada CCTV di Lokasi
-
Orang Dekat Eks PM Italia Jadi Otak Serangan Bom ke Jurnalis Investigasi Sigfrido Ranucci
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
GEMPAR Dorong Pedagang Pasar Ngino Melek Digital Hingga Buka Wacana Pasar Sore
-
Festival Udin 2026, Merawat Ingatan 30 Tahun Kasus Udin
-
Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Screening 'Harusnya Horror' di Jogja Jelang Penayangan: Reza Arap dan AAAClan Disambut Meriah