Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 07 September 2026 | 14:46 WIB
Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi
Baca 10 detik
  • BMKG menyatakan potensi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke Yogyakarta sangat minim pada Senin 7 September 2026.
  • Citra satelit menunjukkan sebaran debu vulkanik bergerak ke arah barat yang berdampak pada sebagian Banten Jawa Barat dan Lampung.
  • Partikel debu vulkanik secara teoritis dapat menghalangi radiasi matahari sehingga berpotensi menurunkan suhu permukaan di wilayah yang terdampak.

"Lalu kalau untuk cuaca sendiri, memang abu atau debu vulkanik ini kan bisa menjadi inti kondensasi atau menjadi salah satu pendorong terbentuknya awan, meskipun tergantung juga dari uap-uap air yang ada di sekitar debu vulkanik tersebut," tuturnya.

Jika kandungan uap air cukup, keberadaan partikel tersebut secara teoritis dapat mendukung pembentukan awan hingga hujan.

"Jadi kalau memang uap airnya, kandungan uap airnya cukup, bisa saja terbentuk awan atau bahkan hujan. Tapi kalau tidak ya sebenarnya tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca," pungkasnya.

Load More