Budi Arista Romadhoni
Senin, 28 September 2026 | 10:59 WIB
Ilustrasi Bencana Alam (pexels.comFranklin Peña Gutierrez)
Baca 10 detik
  • Ketua Umum PABI dr. Heri Setyanto menyatakan persebaran 4.500 dokter bedah di Indonesia masih belum merata.
  • Pemerintah bersama organisasi terkait menghadapi kendala mempertahankan dokter bedah menetap di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
  • PABI bekerja sama dengan berbagai lembaga penanggulangan bencana untuk mengoptimalkan penanganan korban trauma berat di seluruh Indonesia.

SuaraJogja.id - Penanganan korban bencana masih menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan dokter bedah di sejumlah wilayah, terutama daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) dr. Heri Setyanto mengatakan, meski Indonesia memiliki sekitar 4.500 dokter bedah yang siap menangani kasus trauma dan kegawatdaruratan, persebarannya belum merata.

Bahkan, menurut dia, masih terdapat sejumlah daerah yang kesulitan mempertahankan dokter bedah untuk menetap dalam jangka panjang.

“Ini memang sudah diatasi oleh Kementerian Kesehatan melalui kerja sama juga dengan Kolegium Bedah dan PABI, cuma ada beberapa daerah yang memang (dokter bedah) tidak bisa menetap di situ,” kata Heri di Bantul dikutip dari ANTARA  pada Senin (28/9/2026)

Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika bencana terjadi di wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Korban dengan trauma berat membutuhkan penanganan cepat, sementara dokter dengan kompetensi bedah belum tentu tersedia di lokasi.

Padahal, kata Heri, dokter bedah memiliki kompetensi dalam menangani pasien trauma, termasuk korban dengan multiple trauma yang membutuhkan tindakan penyelamatan jiwa.

“Kami dokter ahli bedah ini sudah dididik untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat menangani pasien-pasien dengan life saving,” ujarnya.

Menurut dia, dokter bedah bahkan memiliki peran penting dalam penanganan kasus trauma berat.

“Dokter bedah tetap menjadi leader, pemimpin untuk kasus-kasus traumatik, multiple trauma,” katanya.

Baca Juga: 11 Bangunan Lama Diratakan dengan Tanah, Wajah Stasiun Lempuyangan Mulai Diubah

PABI sendiri telah bekerja sama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Pusat Krisis Nasional, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk mendukung penanganan korban bencana.

Heri mengatakan PABI juga memiliki anggota sekitar 4.500 dokter bedah yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Namun, jumlah tersebut belum menyelesaikan persoalan akses apabila dokter spesialis tidak tersedia secara merata di wilayah yang membutuhkan.

Karena itu, pemerataan dokter bedah menjadi tantangan penting dalam memperkuat respons kesehatan saat bencana, khususnya di wilayah 3T.

“Setiap ada bencana pasti ada anggota kita yang di sana,” ujarnya.

Menurut Heri, penguatan distribusi dokter bedah tetap diperlukan agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia memiliki akses terhadap layanan bedah, termasuk ketika menghadapi kondisi darurat akibat bencana.

Load More