- Ketua Umum PABI dr. Heri Setyanto menyatakan persebaran 4.500 dokter bedah di Indonesia masih belum merata.
- Pemerintah bersama organisasi terkait menghadapi kendala mempertahankan dokter bedah menetap di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
- PABI bekerja sama dengan berbagai lembaga penanggulangan bencana untuk mengoptimalkan penanganan korban trauma berat di seluruh Indonesia.
SuaraJogja.id - Penanganan korban bencana masih menghadapi tantangan dalam hal ketersediaan dokter bedah di sejumlah wilayah, terutama daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) dr. Heri Setyanto mengatakan, meski Indonesia memiliki sekitar 4.500 dokter bedah yang siap menangani kasus trauma dan kegawatdaruratan, persebarannya belum merata.
Bahkan, menurut dia, masih terdapat sejumlah daerah yang kesulitan mempertahankan dokter bedah untuk menetap dalam jangka panjang.
“Ini memang sudah diatasi oleh Kementerian Kesehatan melalui kerja sama juga dengan Kolegium Bedah dan PABI, cuma ada beberapa daerah yang memang (dokter bedah) tidak bisa menetap di situ,” kata Heri di Bantul dikutip dari ANTARA pada Senin (28/9/2026)
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika bencana terjadi di wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan. Korban dengan trauma berat membutuhkan penanganan cepat, sementara dokter dengan kompetensi bedah belum tentu tersedia di lokasi.
Padahal, kata Heri, dokter bedah memiliki kompetensi dalam menangani pasien trauma, termasuk korban dengan multiple trauma yang membutuhkan tindakan penyelamatan jiwa.
“Kami dokter ahli bedah ini sudah dididik untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat menangani pasien-pasien dengan life saving,” ujarnya.
Menurut dia, dokter bedah bahkan memiliki peran penting dalam penanganan kasus trauma berat.
“Dokter bedah tetap menjadi leader, pemimpin untuk kasus-kasus traumatik, multiple trauma,” katanya.
Baca Juga: 11 Bangunan Lama Diratakan dengan Tanah, Wajah Stasiun Lempuyangan Mulai Diubah
PABI sendiri telah bekerja sama dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Pusat Krisis Nasional, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk mendukung penanganan korban bencana.
Heri mengatakan PABI juga memiliki anggota sekitar 4.500 dokter bedah yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Namun, jumlah tersebut belum menyelesaikan persoalan akses apabila dokter spesialis tidak tersedia secara merata di wilayah yang membutuhkan.
Karena itu, pemerataan dokter bedah menjadi tantangan penting dalam memperkuat respons kesehatan saat bencana, khususnya di wilayah 3T.
“Setiap ada bencana pasti ada anggota kita yang di sana,” ujarnya.
Menurut Heri, penguatan distribusi dokter bedah tetap diperlukan agar masyarakat di seluruh wilayah Indonesia memiliki akses terhadap layanan bedah, termasuk ketika menghadapi kondisi darurat akibat bencana.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Tangani Korban Bencana, PABI Akui Dokter Bedah Masih Terkendala Persebaran yang Belum Merata
-
Kerahkan Belasan Armada Damkar, Kebakaran Hamzah Batik Malioboro Padam Setelah 3 Jam
-
Toko Hamzah Batik Malioboro Terbakar Dini Hari, Saksi Sempat Dengar Suara Ledakan
-
Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024
-
Wacana Capres Harus Didukung 2 Fraksi DPR, PPP Soroti Keterwakilan Suara Rakyat