- Sastrawan Hasta Indriyana menyatakan belum ada cerita rakyat Yogyakarta yang merekam ancaman bencana megathrust.
- Karakter gempa megathrust yang tidak dapat diprediksi secara sains membuat leluhur tidak merekamnya dalam folklor.
- Taman Budaya Yogyakarta berencana menyusun direktori khusus untuk mendokumentasikan folklor kebumian secara bertahap melalui Program Tutur Tumurun.
"Beda dengan pola erupsi gunung api maupun tanda-tanda perubahan musim yang bisa dititeni," jelasnya.
Meski tak ada megathrust, masyarakat saat ini sebenarnya bisa niteni dan memitigasi bencana melalui tanda-tanda alam melalui folklor. Entah sebagai bagian dari mitologi atau mitos atau pengalaman para leluhur.
Sayangnya, dokumentasi terkait folklor yang kebumian belum terdokumentasi dengan baik. Akibatnya tak banyak orang tahu bagaimana cerita para leluhur bisa jadi cara memitigasi bencana.
"Kalau toh ada hanya folklor yang populer seperti gunung Merapi. Atau folklor kebumian juga ditemukan di Kulon Progo, terutama kawasan sekitar Waduk Sermo. Salah satu cerita yang diangkat peserta berkaitan dengan larangan mengeksploitasi tanah dan air yang dikaitkan dengan aktivitas pertambangan," jelasnya.
Sementara itu Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Seni Budaya Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Dyah Wahyu Aprilina mengakui di tengah kekayaan cerita rakyat, DIY ternyata memang belum memiliki direktori khusus yang menghimpun kekayaan folklornya.
"Barangkali nanti perlu disusun direktori sendiri di DIY ini," ujarnya.
Kondisi itu, lanjutnya yang justru menjadi alasan TBY ingin memulai pendokumentasian folklor secara bertahap melalui Program Tutur Tumurun yang digelar dua tahunan. TBY berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkaya sekaligus menyusun data mengenai folklor yang berkembang di seluruh wilayah DIY.
"Jadi makanya kami memulai langkah pelan-pelan ini," katanya.
Kepala TBY, Purwiati menambahkan tradisi lisan merupakan bagian penting dari memori kolektif bangsa. Di dalamnya tersimpan pengetahuan dan sejarah yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Baca Juga: Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?
"Tradisi lisan bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan wahana penting bagi perekaman memori kolektif suatu bangsa," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
MK Tolak Diskualifikasi, Gibran Harus Gentleman Buka Bukti Ijazah
-
Dari Merapi hingga Gajah Wong, Folklor Jogja Bicara Bencana tapi Tak Ceritakan Megathrust
-
BRI Junio Gandeng Mobile Legends: Bang Bang, Hadirkan Kartu Debit Edisi Khusus
-
Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Luar, Ini Alasannya
-
Lonjakan Jutaan Tablet Alprazolam di Sleman, Dinkes Catat Penebusan Dobel hingga Apoteker Diancam