Budi Arista Romadhoni
Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:51 WIB
Potensi megathrust yang tak banyak diceritakan dalam cerita rakyat Yogyakarta. (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Sastrawan Hasta Indriyana menyatakan belum ada cerita rakyat Yogyakarta yang merekam ancaman bencana megathrust.
  • Karakter gempa megathrust yang tidak dapat diprediksi secara sains membuat leluhur tidak merekamnya dalam folklor.
  • Taman Budaya Yogyakarta berencana menyusun direktori khusus untuk mendokumentasikan folklor kebumian secara bertahap melalui Program Tutur Tumurun.

SuaraJogja.id - Yogyakarta ternyata menyimpan segudang folklor atau cerita rakyat yang berkaitan dengan bumi, alam, hingga tanda-tanda bencana. Sebut saja kisah Sungai Gajah Wong, mitologi kawasan Waduk Sermo, cerita-cerita Merapi, hingga berbagai pantangan di Gunungkidul.

Namun ada satu hal yang justru mencolok. Di tengah kekayaan cerita rakyat yang merekam cara masyarakat masa lalu membaca fenomena alam dan memitigasi bencana, belum ditemukan satu pun folklor di Yogyakarta yang secara spesifik berkaitan dengan ancaman gempa besar atau megathrust.

"Saya belum menemukan untuk folklor yang berkaitan dengan megathrust di Jogja," ungkap sastrawan asal Yogyakarta sekaligus juri Program Tutur Tumurun 2026, Hasta Indriyana di Yogyakarta, Rabu (7/10/2026).

Hasta menyebut, sejauh penelusuran yang dilakukan, belum ditemukan cerita rakyat di Yogyakarta yang merekam fenomena megathrust. Hal tersebut dimungkinkan berkaitan dengan karakter gempa bumi atau bahkan megathrust yang secara sains memang tidak dapat diprediksi secara pasti.

"Secara sains megathrust itu tidak bisa diprediksi," ujarnya.

Padahal para leluhur, menurut Hasta memiliki cara tersendiri dalam membaca perubahan alam. Salah satunya melalui tradisi niteni, yakni mengamati dan mengenali pola yang berulang.

Menurutnya, pola tersebut dapat terlihat dari cerita-cerita tentang Merapi maupun tanda-tanda tertentu yang dipercaya masyarakat sebagai pertanda akan terjadinya suatu peristiwa.

“Ini satu kecerdasan masyarakat zaman dahulu untuk mengetahui besok akan seperti apa itu dari niteni tadi,” katanya.

Ia bahkan mengibaratkan niteni sebagai bentuk pembacaan pola yang dalam istilah zaman sekarang menyerupai algoritma. Pengetahuan semacam itu masih terlihat dalam cerita mengenai masyarakat di sekitar Merapi.

Baca Juga: Kasus Bolosego Alkid Dinyatakan Bukan Pemerasan, Lalu Mengapa Ada Polisi Diproses Propam?

Hasta mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh seperti Mbah Maridjan maupun Mbah Surono memahami tanda-tanda erupsi Merapi sehingga mengetahui kapan masyarakat perlu mengungsi dan sejauh mana harus menjauh dari puncak.

Selain itu cerita larangan memandikan ternak maupun mencuci pakaian di lokasi tertentu di Sungai Gajahwong yang kondisi cuaca di hulu lereng Gunung Merapi hujan. Jika dilanggar maka dipercaya mendatangkan bencana banjir bandang. 

"Ini jadi cerita, bentuknya seperti mitologi. Jadi polanya itu selalu pola yang pasti, begitu terus," ujarnya.

Menurut Hasta, cerita semacam itu menarik karena menunjukkan adanya pengetahuan lokal mengenai tanda dan mitigasi yang lahir dari pengalaman masyarakat.

Namun anehnya, kekayaan folklor leluhur tidak ada yang merekam ancaman gempa besar. Dia juga belum menemukan folklor Yogyakarta yang secara khusus mencatat megathrust sebagai siklus bencana.

Padahal, sejumlah cerita rakyat justru memperlihatkan kemampuan masyarakat masa lalu dalam membaca pola alam. Menurut Hasta, kemungkinan besar persoalannya kembali pada karakter gempa dan megathrust yang memang tidak dapat diprediksi.

Load More