- Sidik Jatmika menyampaikan bahwa baru 45 dari 162 kampus PTMA di Indonesia yang memiliki guru besar pada Jumat, 9 Oktober 2026 di Yogyakarta.
- Sebanyak 500 profesor PTMA akan berkolaborasi menggunakan skema Adjunct Professor untuk meningkatkan kualitas pendidikan di kampus yang belum memiliki guru besar.
- Ketua panitia forum menyatakan bahwa penataan karier dosen menuju jabatan profesor harus direncanakan secara terstruktur sejak awal masa pengabdian akademik.
SuaraJogja.id - Jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) telah berkembang hingga 162 kampus di seluruh Indonesia. Namun mirisnya pemerataan guru besar masih menjadi pekerjaan besar.
"Dari ratusan kampus tersebut, baru 45 kampus atau sekitar 30 persen yang memiliki profesor. Sebanyak 117 kampus lainnya belum memiliki guru besar sama sekali," papar Ketua Panitia Forum Komunikasi Guru Besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisiyah (PTMA), Sidik Jatmika di Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).
Menurut Sidik, ketimpangan ini mendesak ditangani, terutama dalam penyiapan langkah penataan dan optimalisasi sumber daya akademik.
Sebanyak 500 profesor yang dimiliki PTMA akan diturunkan untuk berkolaborasi untuk memperkuat kualitas pendidikan di seluruh kampus Muhammadiyah-Aisyiyah. Potensi profesor yang ada selama ini perlu dimanfaatkan secara lebih terstruktur.
Apalagi keberadaan guru besar tidak semestinya hanya menjadi kekuatan kampus tempat mereka mengajar. Mereka juga harus bisa menopang pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah lainnya.
"Profesor yang 500 ini bagaimana bisa dioptimalkan untuk kepentingan bersama perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah se-Indonesia," tandasnya.
Menurut dia, langkah pertama yang akan dilakukan adalah memetakan kepakaran 500 profesor tersebut berdasarkan rumpun ilmu. Pemetaan meliputi ilmu keagamaan, pendidikan, humaniora, ilmu alam, dan ilmu sosial.
Dari pemetaan itu, forum akan menyusun pola kolaborasi agar kampus yang belum memiliki guru besar dapat mengakses kepakaran profesor dari kampus lain. Dengan demikian, keterbatasan jumlah profesor di suatu kampus tidak harus menjadi penghalang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan publikasi ilmiah.
Sidik mencontohkan, profesor bidang sosiologi dari UMY dapat diundang mengajar di Universitas Muhammadiyah Bengkulu yang belum memiliki profesor. Kolaborasi juga bisa dilakukan melalui penelitian bersama dan publikasi ilmiah dengan dosen setempat.
Baca Juga: Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
"Sekali datang, kalau dulu sekali datang hanya ceramah atau mengisi kelas, sekarang bisa sampai lima pekerjaan sekaligus," ujarnya.
Melalui skema Adjunct Professor atau bekerja paruh waktu, seorang guru besar diharapkan dapat menjalankan lima peran sekaligus, yakni mengajar, meneliti, melakukan pengabdian kepada masyarakat, membantu publikasi ilmiah, serta mendampingi pengembangan karier dosen.
Penataan juga menyasar pembinaan karier dosen. Sidik menilai pendampingan menuju profesor selama ini cenderung diberikan kepada dosen yang sudah berada pada jenjang karier akademik tinggi.
Padahal perencanaan untuk mencapai jabatan guru besar semestinya dimulai sejak seseorang menjadi dosen baru. Ia mencontohkan, dosen baru bergelar doktor pada 2026 dapat menyusun target menjadi profesor pada 2038, dengan asumsi waktu sekitar 12 tahun.
"Target tersebut perlu disertai peta jalan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, kegiatan organisasi, dan publikasi ilmiah," paparnya.
Menurut Sidik, perencanaan sejak awal akan membantu dosen menjaga konsistensi bidang keilmuan dan mengarahkan produktivitas akademik. Dengan begitu, pembinaan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi, tetapi juga membangun rekam jejak keilmuan secara berkelanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Total Dana Korban Penipuan Tembus Rp811,1 Miliar, Sebanyak 702.833 Rekening Diblokir
- Media Inggris: FIFA ASEAN Cup Akal-akalan Infantino Pertahankan Posisi, Prabowo Kena Prank
- Arti Mimpi Ketemu Orang yang Sudah Meninggal tapi Tidak Bicara Menurut Primbon Jawa
- Menyakitkan Para Pencari Kerja, Guru Besar UGM: Perbuatan Gibran Tercela, Harus Diselesaikan
- Sabun Kojie San untuk Wajah atau Badan? Simak Kegunaan dan Kandungannya
Pilihan
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
Terkini
-
BRI Tambah Reksa Dana Pendapatan Tetap dan Indeks Saham Berbasis ESG
-
BRI Berikan Privilege Nonton Eksklusif Buy 1 Get 2 Ticket di The Premiere Cinema XXI
-
BRI x Prodia: Pilihan Layanan Kesehatan Eksklusif untuk Nasabah BRI Prioritas serta BRI Private
-
161 Bank di Indonesia Bertumbangan, 3 di Antaranya dari Jogja! Cek Masalahnya
-
Miris 117 Kampus Muhammadiyah Tanpa Profesor, Forum PTMA Siapkan Penataan Besar