- Pedagang di Kota Yogyakarta menghadapi lonjakan harga bahan pangan signifikan sejak September hingga Oktober 2026.
- Warga Kota Yogyakarta terpaksa mengurangi jumlah belanja pangan dan mengubah menu harian demi menghemat pengeluaran.
- Para pedagang kecil memilih memangkas volume dagangan serta merelakan penurunan laba agar pelanggan tetap bertahan.
SuaraJogja.id - Daya beli masyarakat yang melemah mulai terasa dari pasar tradisional hingga pedagang kecil di kawasan permukiman Kota Yogyakarta. Harga sejumlah bahan pangan naik, sementara warga mulai mengurangi belanja dan mengatur ulang menu makanan keluarga.
Di sisi lain, pedagang memilih mengurangi volume dagangan demi menghindari kerugian. Sebut saja Ida, pedagang sayur di Pasar Beringharjo yang mengaku sekitar 75 persen jenis sayuran yang dijualnya mengalami kenaikan harga.
Ida mengatakan kenaikan harga terjadi pada sebagian besar jenis sayuran. Tomat, buncis, dan sejumlah sayuran lainnya termasuk komoditas yang mengalami kenaikan.
"Ada sebagian yang naik, ada sebagian yang turun. Yang naik itu tomat, buncis, dan beberapa jenis sayur lainnya. Sekitar 75 persen jenis sayur-mayur mengalami kenaikan," ungkapnya di Pasar Beringharjo, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, besaran kenaikan harga bergantung pada jenis sayuran. Bahkan, ada komoditas yang kenaikannya mencapai 100 persen.
"Ada yang sampai 100 persen, tergantung jenis sayurnya," katanya.
Dicontohkan Ida harga timun yang naik hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya menjadi harga saat ini. Kalau sebelumnya Rp8.000 per kg, saat ni mencapai Rp15.000 per kg.
Selain itu harga cabai merah yang naik cukup signikan dari Rp40.000 per kg menjadi Rp70.000 per kg. Kenaikan harga berbagai jenis sayuran menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pedagang di pasar tradisional.
Sebab ada saat bersamaan, konsumen akhirnya mengurangi pembelian. Mereka beralasan agar kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi.
Baca Juga: Sambut HUT ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Gelar Donor Darah: Perkuat Kepedulian Terhadap Sesama
"Kalau biasanya beli 2 kg ya sekarang jadi 1 kg atau malah 1/5 kg," jelasnya.
Tekanan serupa dirasakan Yanti, pedagang jajanan pasar keliling di kawasan Ledok Tukangan. Sejak awal September 2026, ia memangkas jumlah dagangannya hingga separuh. Jika sebelumnya membawa 25 hingga 30 bungkus nasi, kini ia hanya menyiapkan 10 sampai 15 porsi.
"Kehidupan sekarang itu tambah sulit. Apa-apa mahal, jualan susah. Minyak goreng, gula, dan sayuran hijau semuanya naik. Sekarang minyak yang 800 gram itu sudah Rp 19.000, padahal bulan-bulan kemarin masih Rp 17.000," ungkapnya.
Sebagai ibu tunggal yang membiayai dua anak, masing-masing duduk di bangku SMP dan perguruan tinggi, ia harus mencari cara agar usahanya tetap berjalan di tengah kenaikan harga bahan pokok dan berkurangnya pembeli.
Menurutnya, jumlah pembeli sekarang tidak sebanyak sebelumnya. Sebagian pelanggan memilih memasak sendiri di rumah untuk menghemat pengeluaran.
"Pembelinya berkurang tidak seperti dulu karena orang pasti berpikir untuk berhemat dan memilih memasak sendiri," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Manfaat dari Bedak Marcks? Kenali 5 Fungsi dan Keunggulan Variannya
- Urutan Skincare Pagi Wardah untuk Wajah Cerah Bebas Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 7 Moisturizer Mengandung Formula Anti-aging untuk Wajah Kencang dan Awet Muda
- Respons Gibran Terkait Ijazah Dinilai Menyesatkan, Kuliah S1 Tak Otomatis Buktikan Tamat SMA
- Daftar HP RAM 12 GB Memori 512 GB untuk Multitasking, Cek Harga Terbarunya
Pilihan
-
Asap Karhutla Hari Ini Sudah Sampai Jakarta dan Banten!
-
Maruli Simanjuntak Disebut Dilantik Prabowo Jadi Wakil Panglima TNI, Kamis Sore Ini
-
Kompak Berpakaian Dinas Lengkap Sambangi Istana, Perwira Tinggi TNI Siap Dilantik Prabowo
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
Terkini
-
BRI Peduli Perkuat Infrastruktur Desa di Cianjur, Jembatan Gantung Bantu Mobilitas 7.000 Warga
-
Daya Beli Warga Jogja Turun, Pedagang Terpaksa Pangkas Dagangan
-
Wacana Gaji ASN Dibayar Kopdes Bikin Geger, Pemda DIY Pusing, DPRD Sebut Tak Masuk Akal
-
BRI Dorong Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Ekonomi Kerakyatan
-
Menjajal 5G di Kereta Jogja-Solo, XLSMART Tembus 200 Mbps