- Desty Endah Nurmalasari mengalami gangguan skizoafektif sejak 2012 akibat halusinasi suara setelah menyelesaikan kuliah di UNY.
- Pendampingan kesehatan jiwa dan Self Help Group dari Yakkum membantu Desty pulih serta kembali mengajar.
- Kini Desty aktif menyuarakan pentingnya dukungan sosial bagi penyandang disabilitas psikososial dalam berbagai seminar internasional.
SuaraJogja.id - Dulu, suara-suara yang hanya terdengar olehnya membuat Desty Endah Nurmalasari kehilangan kendali atas hidupnya. Alih-alih mencari pekerjaan setelah menyelesaikan kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), perempuan asal Kulon Progo ini justru lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.
Kini setelah melewati perjalanan panjang pemulihan kesehatan mental sebagai orang dengan gangguan skizoafektif, Desty kembali mengajar Bahasa Inggris, berani tampil di forum seminar internasional, bahkan membantu sesama penyandang disabilitas psikososial untuk bangkit.
Perjalanan Desty bukan cerita tentang kesembuhan yang datang dalam semalam. Ada masa ketika ia harus berjuang menghadapi halusinasi, berhenti mengonsumsi obat, hingga kehilangan kesempatan untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang pernah dibayangkannya.
Desty masih mengingat betul awal mula gangguan kesehatan mental itu muncul pada 2012. Saat itu, ia baru menyelesaikan skripsi dan sedang mempersiapkan wisuda dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNY.
Menjelang wisuda, perasaannya campur aduk. Ada kebahagiaan karena berhasil menyelesaikan kuliah, tetapi juga muncul kecemasan dan kegelisahan. Suatu hari, ia mengendarai sepeda motor dari Kulon Progo menuju Pasar Beringharjo, Yogyakarta, untuk membeli kebaya. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba terdengar suara yang seolah-olah memperingatkannya sedang diikuti seseorang.
"Kamu sedang diikuti orang, ayo ngebut, ada suara itu di kepala saya terus menerus," ujar Desty saat berbagi cerita dalam Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare: Modern Mental Wellness – Science-Based Strategies for Emotional Resilience yang diselenggarakan FKKMK UGM di Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Suara tersebut, menurutnya bahkan seolah mengatur apa yang harus dilakukannya. Desty pun menuruti perintah yang didengarnya.
Awalnya, ia tidak memahami apa yang sedang terjadi. Namun, suara-suara itu terus muncul hingga berbulan-bulan setelah wisuda.
Tanpa penanganan yang tepat, kondisinya semakin memburuk. Perempuan yang kini berusia 38 tahun ini lebih banyak mengurung diri di kamar, membaca buku, tetapi terkadang tertawa sendiri. Ia juga mulai berbicara dengan suara-suara yang didengarnya.
Keluarganya sempat tidak memahami kondisi tersebut. Hingga akhirnya, setelah mendapat saran dari orang lain, ayahnya membawa Desti berobat ke psikiater di RSUP Dr Sardjito.
Baca Juga: Menjemput Rezeki dari Balik Layar Gadget hingga Ujung Canting, Kisah Difabel Bertahan Hidup di Jogja
Ia mendapatkan obat dan menjalani pengobatan selama beberapa bulan. Sayangnya, karena tidak ada pendampingan yang mengingatkan pentingnya menjalani pengobatan secara rutin, Desti memutuskan berhenti mengonsumsi obat atas keputusannya sendiri. Kondisinya kembali memburuk. Ia pernah mengamuk hingga melempar gelas.
"Saya dulu bukannya mencari kerja setelah lulus kuliah, tetapi malah berbicara sendiri dengan suara yang saya dengar," ujarnya.
Di balik pengalaman tersebut, Desty juga mengingat tekanan yang pernah dirasakannya. Ia mengaku sempat mengalami kekerasan dari orang tua. Pada masa kuliah, ia juga harus membagi waktu antara pekerjaan paruh waktu, perkuliahan, dan menyelesaikan skripsi.
Bahkan, ia pernah mengalami gangguan lambung hingga kesulitan makan dengan layak. Berbagai pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kemudian ia kaitkan dengan kondisi psikologisnya.
Titik balik kehidupan Desty datang ketika kader kesehatan jiwa bersama Pust Rehabilitasi Yakkum mendatangi rumahnya. Melalui pendampingan tersebut, Desty kembali diarahkan menjalani pengobatan.
Ia juga diperkenalkan dengan kelompok dukungan atau Self Help Group (SHG) yang dibentuk untuk mempertemukan orang dengan disabilitas psikososial (ODDP) di tingkat desa.
Di sana, ia tidak hanya diingatkan untuk rutin menjalani pengobatan, tetapi juga diajak mengikuti berbagai aktivitas bersama.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
Pilihan
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
-
Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama
-
Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
Terkini
-
Kisah Desty: Berjuang Melawan Skizoafektif hingga Sempat Lepas Obat, Kini Kembali Mengajar
-
Suara.com hingga NU Online Sabet Penghargaan Bergengsi, Ini Daftar Juara AMSI Awards 2026
-
Viral Titik Nol Km Jogja Dipasang Kawat Duri, Pemda DIY Merasa Tak Dikabari Polisi
-
IAGI Soroti Tantangan Eksploitasi Kekayaan Geologi: Jangan Korbankan Lingkungan!
-
Tak Perlu Bongkar Kitab, Muhammadiyah Bikin AI Khusus ChatHPT untuk Jawab Persoalan Agama