Klitih, Teror Geng Pelajar Pemburu Eksistensi Semu

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Klitih, Teror Geng Pelajar Pemburu Eksistensi Semu
Ilustrasi klitih - (Suara.com/Iqbal Asaputro)

Kondisi lingkungan rumah dan sekolah turut memengaruhi maraknya klitih di Jogja.

SuaraJogja.id - Sebutan penganiayaan tanpa motif di jalanan atau lebih dikenal sebagai klitih kini kembali menjadi sorotan masyarakat Jogja. Sempat meredup pada 2018, di pembuka tahun 2020 klitih kembali meneror.

Jumlah korban yang diduga akibat aksi penganiayaan ini terus bertambah. Salah satu yang masih hangat menimpa Enrico Kristanto. Driver ojek online (ojol) tersebut terpaksa harus terbaring di bangsal Bima 4 Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM) sejak Sabtu (1/2/2020) akibat luka serius di wajahnya.

Awalnya pria 40 tahun ini beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya sebagai driver ojol. Memang dirinya memilih bekerja pada malam hari, sebab siang 13.00 hingga pukul 19.00 wib, Enrico bekerja sebagai freelance.

Namun petaka menghampirinya di Sabtu pekan lalu saat melakoni rutinitasnya. Pukul 03.00 wib, Enrico mendapat luka sabetan benda tajam hingga pipi kanan hingga leher bagian belakang sobek. Bahkan pundak kanannya mendapat luka yang cukup lebar. Totalnya Enrico mendapat 27 jahitan atas penganiyaan yang dia alami di Jalan Kabupaten, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman.

"Dari arah utara saya hanya melihat lampu motor. Tiba-tiba saya merasa ada hantaman benda keras yang mengenai wajah. Seketika saya oleng dan menepi. Untung penumpang saya langsung memegangi badan saya. Posisi sudah miring dan hampir jatuh, setelah saya sadar, bibir kanan saya hingga leher sebelah kanan mengeluarkan banyak darah," cerita Enrico.

Pria asal Depok, Jawa Barat ini telah menjalani operasi. Akibat luka sabetan benda tajam tersebut, ia mengaku sebagian giginya harus dikunci dengan kawat. Imbasnya Enrico tak boleh banyak menggerakkan mulutnya. Bahkan untuk makan sehari-hari, untuk sementara Enrico hanya diperkenankan makan makanan cair.

Driver ojol bernama Enrico jadi korban kebrutalan klitih yang terjadi Sabtu (31/1/2020) kemarin di Jalan Kabupaten. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja]
Driver ojol bernama Enrico jadi korban kebrutalan klitih yang terjadi Sabtu (31/1/2020) kemarin di Jalan Kabupaten. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja]

Bukan hanya Enrico yang harus menanggung sakit dan trauma. Seorang pelajar di salah satu SMA wilayah Tempel, Sleman, Bagus Rifki juga harus mengalami situasi pedih usai menjadi korban kejahatan jalanan. Berbeda dari Enrico yang diserang pada malam hari. Pelajar 16 tahun ini mendapat luka serius di bagian kepala kanan sepulang sekolah, 5 November 2019 lalu.

Saat kejadian, Bagus bersama lima orang temannya keluar dari sekolah pukul 16.30 wib. Dengan mengendarai motor bergerombol, dari arah berlawanan sejumlah orang yang diketahui mengenakan pakaian seragam pelajar melempar batu hingga mengenai kepala kanan Bagus. Ia pingsan, lalu dilarikan ke rumah sakit setelah kepala bagian kanan dan telinga kanan mengeluarkan banyak darah.

Dari diagnosa dokter, tengkorak kepala kanannya pecah. Selain itu pelipis kanannya juga mengalami sobek hingga mendapat tujuh jahitan. Beruntung Bagus tidak sampai mengalami gangguan penglihatan.

Namun pascainsiden yang dialami pelajar asal Blingo, Ngluwar, Magelang ini mengalami trauma hebat. Setelah dinyatakan pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa pada awal Desember 2019 lalu, Bagus saat ini kerap diantar ibunya saat berangkat ke sekolah.

Bukan hanya itu, Bagus sering dihantui rasa cemas saat melintasi jalanan besar. Karena kejadian yang dia alami berada di jalanan yang cukup lebar saat itu.

Orang tua Bagus, Yulianto mengaku tak ada pendampingan khusus saat anaknya mengalami trauma. Yulianto hanya berupaya menjaga hingga anak semata wayangnya merasa berani keluar sendiri tanpa didampingi.

"Alhamdulilah dia sudah kembali sekolah seperti biasa. Dulunya sempat trauma, saat melewati jalan besar dia meminta untuk dilewatkan ke jalanan kecil atau jalan kampung menuju sekolahnya. Trauma itu dia alami hampir satu pekan lebih. Kami juga memotivasi dia untuk melupakan kejadian yang Bagus alami, akhirnya sudah kembali seperti biasa," terang Yuli.

Yuli bersyukur, insiden yang menimpa Bagus tak membuatnya cedera permanen. Awalnya Yuli sempat was-was dengan penglihatan dan pendengaran anaknya yang akan terganggu akibat lemparan batu tersebut.

Meski mengalami luka yang cukup serius, Bagus dan Enrico masih relatif beruntung karena masih diberi kehidupan. Sebab nasib miris harus dialami Fatur Nizar Rakadio.

Pelajar berusia 17 tahun asal Desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul itu harus meregang nyawa setelah sempat koma dan mendapat perawatan intensif selama 27 hari di RSUP Sardjito Yogyakarta.

Dio panggilan akrabnya, merupakan korban tewas yang diduga karena kejahatan jalanan tanpa motif alias klitih. Sesaat sebelum kejadian, Dio bersama 27 pelajar lainnya memutuskan berlibur ke Pantai Watulawang Gunungkidul menggunakan motor 14 Desember 2019 lalu. Bersama rombongan pelajar kelas 10 di salah satu STM Depok, Sleman, ia kemudian pulang pukul 14.00 wib.

Belum sampai di rumah masing-masing rombongan tersebut dilempari cat oleh orang tak dikenal dari arah berlawanan di Jalan Siluk-Panggang. Pelempar cat yang diketahui mengendarai motor matik itu lantas mengejar dan membuntuti rombongan Dio. Sesampainya di kawasan Kebon Agung, Imogiri, pelaku tadi menendang stang motor Dio hingga terjatuh. Rekan Dio yang mengetahui rekannya terjatuh langsung menghentikan kendaraan dan meminta warga menolong pelajar 17 tahun ini.

Ibu almarhum, Bidiastuti (39) tak bisa membendung kesedihannya seusai mengetahui anak kedua dari tiga bersaudara itu tewas. Bidiastuti menjelaskan, menurut keterangan dokter Dio mengalami cedera serius di bagian tulang belakang. Dio juga kesulitan bernapas sehingga harus dipasangi ventilator saat menjalani perawatan.

"Awalnya kami masih bisa berkomunikasi dengan baik usai insiden itu. Dia menceritakan kronologi hingga diserang oleh orang-orang tersebut. Dio ini anaknya anteng, tidak punya musuh dan selalu berbuat baik. Saya terus memantaunya baik di rumah dan sekolah," kata Bidiastuti.

Bidiastuti mengaku sangat terpukul atas tewasnya Dio. Pasalnya ia merupakan anak yang aktif di sekolah. Ia juga paling dekat dengan ibunya. Apalagi, Dio juga memiliki motivasi yang tinggi untuk berlajar dibanding dua saudara kandungnya.

Meski para pelakunya akhirnya tertangkap, ia sangat berharap kepolisian mengusut tuntas insiden kejahatan jalanan yang diketahui banyak dilakukan oleh pelajar tersebut. Hal itu dia minta agar korban tak lagi berjatuhan. Kematian Dio sudah semestinya jadi peringatan dan perhatian untuk semua.

Kembali mencuatnya kasus klitih yang makin meresahkan membuat pihak kepolisian menggiatkan patroli lewat Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD). Patroli malam dilakukan mulai pukul 22.00 hingga 23.00. Sebanyak lebih kurang 40 personel disebar ke berbagai rute yang disinyalir rawan tindak kejahatan jalanan klitih. 

Kapolda DIY, Irjen Pol Asep Suhendar menyebut kekerasan jalanan di Yogyakarta ini diketahui dilakukan oleh para pelajar. Bahkan dari penyelidikan serta pemeriksaan yang dilakukan petugas, kebanyakan remaja tersebut berusia di bawah 18 tahun.

Asep yang menggantikan Kapolda DIY lama, Irjen Pol Ahmad Dofiri pada Desember 2019 lalu banyak menerima laporan terkait dugaan kasus penganiyaan tak bermotif ini. Asep menerangkan bahwa sejak Januari 2019 hingga awal Januari 2020 sedikitnya terdapat 40 kasus klitih.

Klitih di Yogyakarta - (Suara.com/Iqbal Asaputro)
Klitih di Yogyakarta - (Suara.com/Iqbal Asaputro)

"Dari Januari 2019 sampai awal Januari 2020 ada 40 kasus yang dikategorikan sebagai klitih ini. Januari terdata sudah ada lima kasus. Dari Desember hingga Januari, polisi sudah melakukan tindakan represif dengan mengamankan 30 orang lebih (pelaku)," ungkap Asep saat menghadiri Forum Group Discussiion (FGD) yang digelar Polda DIY di Gedung Anton Soedjarwo, kompleks Mapolda DIY, Selasa (4/2/2020).

Asep menjelaskan bahwa dari 40 kasus tersebut, polisi menangkap sejumlah 81 pelaku. Dengan rincian 57 pelaku berstatus pelajar dan 24 pelaku pengangguran.

"Sebanyak 57 pelaku masih pelajar. Nah inilah, lebih kurang 70 persen dilakukan pelajar pada kasus kejahatan jalanan. Dan ini tentu menjadi perhatian lebih bukan hanya polisi namun stakeholder lain termasuk sekolah dan lembaga lain," jelasnya.

Diskusi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X juga dilakukan Polda DIY. Dalam kesimpulannya dengan penyelidikan serta data yang dimiliki polisi saat melakukan pemeriksaan pelaku, remaja tersebut diketahui mengalami masalah di dalam keluarganya, yakni broken home. Perhatian orang tua yang kurang serta kasih sayang yang tidak didapatkan dalam diri anak diduga menjadi salah satu faktornya.

Asep juga tak menampik bahwa kejahatan jalanan yang sedang marak di Yogyakarta ini cukup meresahkan masyarakat. Bahkan ada sebuah ancaman berupa proxy war dimana masyarakat sedang dilemahkan dengan hal tertentu secara tak sadar.

"Salah satunya adalah tawuran antar pelajar. Beberapa diantaranya mereka mengonsumsi minuman keras dan akhirnya bertindak kejahatan, saya pikir kasus kejahatan jalanan ini termasuk ke dalam pelemahan masyarakat terutama generasi muda. Nah hal-hal ini tidak disadari oleh masyarakat termasuk para pelajar. Jadi penting untuk menyelesaikan kasus kejahatan jalanan ini dengan melihat akar permasalahannya," kata Asep.

Asep menjelaskan bahwa kasus kejahatan jalanan itu dianalogikan sebagai balon yang panjang. Dimana ketika satu sisi ditekan, udara dari dalam balon berpindah ke sisi lain.

"Dalam kepolisian dikenal dengan teori balon. Saat kami fokus memburu pelaku di satu kawasan mereka akan berpindah ke kawasan lain. Nanti setelah kami kejar ke lokasi yang menjadi rawan saat itu, pelaku-pelaku ini berpindah lagi. Ketika polisi melakukan penekanan patroli, mereka (pelaku) ini mengendur. Namun saat kami sudah tak menekan, mereka akan muncul lagi," terang dia.

Meski telah menangkap sejumlah pelaku, Asep menyebut bahwa ada regenerasi yang muncul dalam persoalan klitih di Yogyakarta.

"Usai kami tangkap muncul lagi para pelaku yang lain. Jadi ada regenerasi yang muncul dalam sebuah kelompok pelajar itu, Artinya masalah ini (klitih) bukan hanya polisi yang bisa menyelesaikan. Jadi harus ada tindakan komprehensif integral yang dilakukan bersama-sama," katanya.

Kepolisian juga sudah melakukan tindakan preentif dengan melakukan pencegahan. Asep meminta kepada masyarakat untuk melaporkan warga atau tetangga satu kampungnya jika berpotensi melakukan kejahatan.

"Masyarakat perlu melaporkan lingkungan di sekitarnya jika ada warga atau tetangga yang dikenal bermasalah. Artinya dari laporan tersebut kami bisa memantau agar hal yang tak diinginkan tidak terjadi, apalagi sampai jatuh korban," tuturnya.

Tak hanya Polda, Polres Sleman juga secara serius menindaklanjuti kejahatan jalanan yang berujung penganiayaan tersebut. Kapolres Sleman, AKBP Rizki Ferdiansyah menyebut telah membentuk tim khusus gabungan Polsek dan Polres di Sleman untuk mencegah dan menangani masalah klitih.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah memberi keterangan kepada wartawan usai menggelar apel kesiapsiagaan bencana di Mapolres Sleman, Kamis (9/1/2020). - (SUARA/Baktora)
Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah memberi keterangan kepada wartawan usai menggelar apel kesiapsiagaan bencana di Mapolres Sleman, Kamis (9/1/2020). - (SUARA/Baktora)

"Saya bentuk tim khusus gabungan dari penyidik polsek dan penyidik polres yang punya kapasitas dan kemampuan macam-macam. Jadi nantinya saya gabungkan untuk memburu pelaku-pelaku (klitih) ini," jelas Rizki saat ditemui dalam deklarasi Forum Komunikasi Ormas dan Relawan (FKOR) Yogyakarta menolak klitih di Mapolda DIY, Senin (3/2/2020).

Rizki membeberkan pembentukan tim khusus menyusul para pelaku ini sudah mulai lihai dalam melancarkan aksinya.

"Memang patroli setiap malam dilakukan kepolisian. Selain itu setiap malam Minggu dan Malam Senin patroli besar, ketiga sudah ada lokasi-lokasi kejadian yang menjadi atensi aparat kepolisian," ucapnya.

Patroli yang selalu dilakukan kepolisian memang tidak langsung menemukan para pelaku. Bahkan polisi kerap kecolongan. Rizki mengaku bahwa pihaknya juga tidak bisa memastikan wilayah mana saja yang dijadikan lokasi kejahatan. Sebab ketika telah dilakukan patroli, pelaku berpindah ke tempat lain alias acak. 

Sementara itu Dir Binmas Polda DIY, Kombes Pol Rudi Heru Susanto menyebut Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), menjadi ajang dimana oknum pelajar merekrut pelajar baru untuk bergabung di sebuah kelompok sekolah atau geng.

"Memang benar ada regenerasi sebuah kelompok (geng). Ketika pelajar baru yang dirasa cukup mumpuni, berprilaku sedikit urakan, terlihat nakal, direkrutlah dia ke dalam geng. Atau para senior yang sudah lulus dari sebuah sekolah mengompori junior di bawahnya jika mereka pernah mengalahkan pelajar dari sekolah lainnya," terang dia.

Munculnya geng-geng tersebut dijadikan tempat para pelajar ini menunjukkan eksistensinya. Rudi menuturkan saat pelaku dapat mengambil atau melukai musuhnya dan memviralkan di jejaring sosial, itu menjadi bentuk kepuasan para anak-anak itu. 

"Klitih itu memiliki arti yang bagus sebenarnya, namun sekarang malah beralih fungsi. Jadi mereka mencoba menunjukkan eksistensinya dengan mengambil baju atau identitas pelajar lain, lalu diviralkan dan terlihat gagah. Nah saat ini pelajar yang identitasnya akan direbut itu melawan. Sehingga mereka menggunakan senjata tajam untuk merebut. Karena pelajar lain tidak terima akhirnya mencari orang yang pernah melukai dirinya atau anggota gengnya tadi. Karena mencari pelaku dengan ciri-ciri yang mirip serta informasi yang minim akhirnya salah sasaran. Korbannya ada mahasiswa sampai masyarakat, jadi sasarannya meluas," kata dia.

Rudi membeberkan selain faktor eksistensi, balas dendam juga menjadi faktor terjadinya kejahatan jalanan klitih. Pada beberapa kasus pelaku ada yang menanyai identitas sekolah pelajar yang melintas di jalan raya.

"Tidak semua pelaku mencari korban di tempat yang gelap dan sepi. Mereka (pelaku) ada yang terlebih dahulu menanyakan asal-usul orang yang ditemui seperti dimana sekolahnya berasal, atau tergabung dalam geng apa. Jika memang bukan antar sekolah yang memiliki masalah, pelaku ini tidak melakukan serangan," tutur Rudi.

Iapun menegaskan bahwa partisipasi masyarakat baik dari pihak RT, RW, Lurah dan Camat terjun melakukan pencegahan bersama-sama. Bukan hanya sekolah namun seluruh lapisan masyarakat bisa ikut andil.

Rudi menyebut jika Gubernur DIY sudah memberi atensi untuk penanganan klitih. Nantinya akan dibentuk juga Kelompok Kerja untuk menciptakan Peraturan Gubernur (Pergub) yang akan dibuat untuk menangani masalah penganiyaan tak bermotif ini.

Masalah klitih sejatinya sempat mengalami penurunan hingga 50 persen pada kurun 2017-2018 lalu. Rudi menyebut saat itu, Polda DIY melakukan kerjasama dengan pemerintah yakni Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) DIY. Dalam kerjasamanya dibuat sebuah Memorandum of Understanding.

"Jadi Disdikpora berkontribusi dengan membuat Waka Kesiswaan di tiap sekolah tingkat SMA. Selanjutnya dari kepolisian membuat program Satu Sekolah Dua Polisi (SSDP)," jelasnya.

Selama MoU tersebut mengikat, polisi ditempatkan di sekolah-sekolah rawan klitih. Berfungsi mengawasi anak-anak yang diduga masuk dalam sebuah geng sekolah.

"Tindakan ini cukup ampuh hingga menurunkan jumlah kejahatan jalanan yang dilakukan para pelajar. Perlu diketahui faktor munculnya klitih memang banyak. Pertama keluarga yang tidak harmonis, adanya geng sekolah dan juga faktor lingkungan. Nah dari hal yang kami catat ini secara jelas ada peran dari lembaga, lingkungan serta orang tua sendiri untuk menangani masalah kejahatan jalanan itu," terangnya.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Ari Sujito mengatakan munculnya masalah klitih yang didominasi oleh pelajar bisa jadi karena mereka ikut-ikutan. Di sisi lain faktor tak ada perhatian juga menjadi sebab pelajar memilih mengekspresikan lewat hal negatif.

"Ada yang memang ingin ikut-ikutan, bisa jadi karena terekslusi, tidak terpakai atau dikucilkan dari lingkungan sekolah juga bisa. Jadi nantinya (sekolah) bisa mengelompokkan mereka untuk ditangani," kata Ari.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Sujito memberi keterangan kepada wartawan pada kegiatan FGD penanganan penganiayaan tanpa motif di Gedung Anton Soedjarwo kompleks Polda DIY. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Ari Sujito memberi keterangan kepada wartawan pada kegiatan FGD penanganan penganiayaan tanpa motif di Gedung Anton Soedjarwo kompleks Polda DIY. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja.id]

Ia menambahkan bahwa pembinaan pelajar, tak harus berpatok pada hukum. Artinya bakat atau energi pelajar tersebut disalurkan kepada hal lain, dimana kesenangan pelajar difasilitasi pihak sekolah.

"Memang tak dipungkiri remaja dengan usia menjadi dewasa akan bertemu dengan masalah yang berbahaya di luar, seperti penggunaan narkoba, miras dan lainnya. Hukum perlu diberlakukan di sana, tapi harus ada juga pendekatan kebudayaan serta edukasi yang dilakukan sekolah," jelasnya.

Membahas soal penganiayaan tanpa motif, Ari menerangkan memang terjadi regenerasi kekerasan. Namun pola yang terjadi saat ini berubah.

"Jadi hanya untuk iseng-iseng, gaya-gayaan, orang keluar saat belanja dilukai. Melihat pola sebelumnya mereka tahu lokasi berkumpulnya serta simbol yang dipakai (musuhnya). Saat ini mereka tak bisa mendiagnosis (lawan) hanya melihat dari media (hingga salah sasaran)," jelas Ari 

Ia menjelaskan  pemberantasan masalah klitih saat ini cukup sulit, Ari menyebut persoalan klitih sudah cukup kompleks sehingga bukan polisi saja yang perlu turun tangan.

"Lingkungan yakni kampung juga harus terlibat untuk menekan masalah ini. Jadi melakukan diagnosis kepada remaja. Ajak mereka dalam sebuah arena, buat sanggar, adakan lomba, masukkan dalam komunitas. Saya yakin anak (prilaku) bisa diubah jika seluruh elemen ini ikut andil," kata dia.

Pihaknya menegaskan bahwa persoalan klitih di Yogyakarta menjadi isu prioritas yang perlu ditangani. Menyelesaikanya perlu dilakukan jangka pendek, jangka menengah hingga jangka panjang. Untuk jangka pendek memang terdapat di ranah hukum, sehingga polisi yang harus turun tangan memastikan keamanan tersebut.

Jangka menengah dan panjang ini bagaimana seluruh stakeholder bisa terlibat. Melibatkan anak remaja sendiri untuk dirangkul menyelesaikan masalah klitih, kata Ari jauh lebih penting.

"Sekolah harus memiliki persepsi positif agar tak disalahkan terus. Memang saat ini sekolah yang cenderung disalahkan, namun sejatinya tidak demikian. Maka keterlibatan kampung juga perlu ikut andil, stigma anak remaja jangan selalu disalahkan. Beri mereka ruang termasuk bakat yang mereka miliki difasilitasi," katanya 

Lebih lanjut, Sosiolog Kriminalitas Universitas Gadjah Mada, Suprapto mengatakan bukan hanya pemerintah dan polisi untuk menyelesaikan masalah klitih. Namun peran keluarga dan komunitas bisa jadi faktor untuk memutus rentetan masalah tersebut.

Berbicara soal klitih, Suprapto menyebut bahwa awalnya makna klitih ini cukup positif. Klitih merupakan sebuah aktivitas untuk mengisi waktu luang dimana diisi dengan kegiatan positif. Namun seiring berjalan waktu ada pergeseran makna dari kata tersebut. Klitih berubah makna ketika diadopsi oleh para remaja sebagai kegiatan mencari musuh.

"Sebelumya artinya positif. Tetapi ketika klitih itu diadopsi oleh anak remaja, mereka menggeser maknanya, pertama memang keliling-keliling kota naik sepeda motor. Tetapi tidak sekadar keliling-keliling kota, lebih dimaknai sebagai kegiatan mencari musuh," ungkapnya.

Motif di balik aksi ini sendiri, menurutnya, cukup beragam. Sebelumnya, aksi ini dikaitkan dengan upaya untuk melakukan balas dendam. Namun, aksi klitih saat ini yang dilakukan seorang remaja untuk mencari musuh dan menunjukkan eksistensi atau untuk melampiaskan kekecewaan dalam kehidupan mereka.

Suprapto menggarisbawahi peranan keluarga memang cukup penting untuk menekan masalah sosial tersebut. Ketika fungsi di dalam keluarga seperti sosialisasi kebudayaan, norma, hingga nilai perlindungan terpenuhi, seorang anak akan lebih nyaman berbicara kepada orang tua di dalam keluarganya ketika mendapat perlakuan negatif.

"Keluarga adalah benteng yang kuat dan awal. Jika anak sudah mendapat masukan norma dan nilai, saya kira dia tidak akan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti orang lain," kata Suprapto.

Dengan demikian orang tua juga perlu memperhatikan bagaiaman anaknya bergaul. Jika seorang anak yang tidak dibekali dengan pengertian yang baik bakal lebih mudah terpapar dan mengikuti perilaku orang yang ia kagumi atau kelompoknya.

Di samping keluarga, lembaga pendidikan juga memegang peranan yang tak kalah penting. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah bisa menjadi alternatif kegiatan yang positif untuk mengisi waktu luang para pelajar. Meski demikian, kegiatan ini sebaiknya selesai di sekolah sehingga anak-anak tidak memiliki alasan untuk menghabiskan waktu di luar rumah selepas jam sekolah.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS