Ketika Kim Jong Un Nangis di Depan Rakyat Korea Utara, Ada Apa?

Kim dikenal dunia sebagai pemimpin "bertangan besi" yang tidak segan mengeksekusi mati rakyatnya, pejabat tinggi negara, bahkan kerabatnya

Rendy Adrikni Sadikin | Bangun Santoso
Rabu, 14 Oktober 2020 | 15:55 WIB
Ketika Kim Jong Un Nangis di Depan Rakyat Korea Utara, Ada Apa?
Tangkapan Layar: Sejumlah warga Korea Utara menunjukkan raut haru saat mendengar pidato Kim Jong Un pada acara parade militer tahunan, Sabtu (10/10/2020), sebagaimana disiarkan oleh televisi resmi Korut dan diunggah ke Youtube oleh Pyongyang Broadcast Service D.P.R. of Korea, Senin (12/10/2020). (ANTARA/HO-Pyongyang Broadcast Service)

SuaraJogja.id - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un meneteskan air mata saat membacakan pidato dengan suara bergetar dalam upacara parade militer tahunan akhir minggu lalu. Sambil menangis, dia meminta maaf dan berterima kasih kepada rakyatnya.

Sejumlah warga Korea Utara, mulai dari tentara, pejabat tinggi militer dan Partai Buruh, sampai mereka yang mengenakan pakaian tradisional, ikut terbawa suasana itu.

Beberapa dari mereka tampak terharu, ada pula yang ikut menangis dan menyeka air mata sebagaimana terekam dalam siaran televisi nasional di Korut, yang kemudian diunggah oleh Pyongyang Broadcast Service di akun resminya di Youtube, Senin (12/10/2020).

"Kepercayaan rakyat kepada saya setinggi angkasa dan sedalam lautan, tetapi saya telah gagal memenuhi keinginan rakyat. Untuk itu, saya meminta maaf," kata Kim Jong Un dalam pidatonya pada upacara parade militer akhir minggu lalu (10/10), sebagaimana disiarkan oleh kantor berita resmi Korea Utara, KCNA.

Baca Juga:Langka! Kim Jong Un Teteskan Air Mata di Depan Publik, Ada Apa?

Kim Jong Un, orang paling berkuasa di Korea Utara, secara langsung mengakui kegagalannya mengurangi beban penderitaan rakyat karena krisis ekonomi berkepanjangan --akibat sanksi ekonomi dari lembaga internasional dan beberapa negara di dunia.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. [AFP]
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. [AFP]

Lewat pidatonya, ia menjunjung tinggi kepercayaan dan kerja keras rakyat Korut, yang menurut Kim menjadi alasan negara itu tetap bertahan meskipun pemerintah menutup ketat perbatasan dan pengaruh dari dunia luar.

"Harta yang paling berharga buat saya adalah ketulusan dan kepercayaan dari rakyat, yang tidak dapat ditukar dengan ketenaran dan jutaan ton emas. (Kepercayaan) itu jadi dorongan bagi saya untuk tidak gentar dan tidak mengenal apa pun yang mustahil dilakukan," kata Kim Jong Un.

Isi pidato Kim, berikut air mata yang menitik di wajahnya, bukan sikap yang umum ditunjukkan oleh seorang pemimpin tertinggi di Korea Utara.

Kim dikenal dunia sebagai pemimpin "bertangan besi" yang tidak segan mengeksekusi mati rakyatnya, pejabat tinggi negara, bahkan kerabatnya.

Baca Juga:Selundupkan Barang Mewah ke Korut, Dirut Perusahaan Dibui

Tidak hanya itu, Pemerintah Korea Utara di bawah rezim Kim Jong Un juga diketahui melanggengkan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan, misalnya dengan adanya kamp kerja paksa untuk para narapidana.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak