
"Misalnya contoh arogannya itu meremehkan kearifan lokal, kita itu mudah banget mengucapkan kearifan lokal. itu maksudnya apa? Kearifan itu sesuatu yang sudah diarifi sesuatu yang sudah didalami dipelajari dianalisis disimulasi sehingga dia disebut kearifan yang wilayahnya lokal contohnya orang sunda berfilosofi begini jawa berfilosofi begini trus kita sebut kearifan lokal".
"Tapi lokal ini juga mencurigakan. Karena lokal itu sifatnya juga berlaku universal karena lahirnya dari manusianya otentisitas manusianya. Ngomong itu jangan sampai tidak memahami maknanya".
"Saya tidak mau mempersoalkan soal ini melanggar hukum atau tidak. Ini menghina atau tidak monggo. Tapi saya mengurusi apa itu kearifan lokal menurutmu?" katanya.
Cak Nun pun menyebut apa yang diutarakan Abu Janda sebagai salah instrumen hingga kemudian malah menyakiti banyak orang yang tentu dampaknya sangat besar.
Baca Juga:Cak Nun Kritik Nasihat Soal Jilbab dan 4 Berita Top SuaraJogja
"Kalimat itu salah aransemen, mungkin yang dimaksud itu sesuatu yang spesifik tapi digebyah uyah kemudian malah menyakiti banyak orang. Kalo sudah menyakiti banyak orang kita harus menanggung akibatnya apakah itu risiko sosial dan hukum negara monggo".
"Kita harus mempelajari yang disebut agama, apalagi Islam secara mendalam. Kita harus berpikir berhati hati ngomong, karena kita kadang bertutur 10 kata yang sembilan diantaranya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara harfiah secara maknawiyah bahkan historis".
"Pelajaran nomor satu adalah kewaspadaan dalam bahasa arab itu taqwa. Semoga yang terlibat dalam kasus Islam arogan bisa menjalankan sikap eling lan waspodo selalu ingatlah akan sesuatu supaya waspada," tambahnya.