alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dedi: Sektor Pariwisata dan Pertanian Tak Boleh Saling Mematikan

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Sabtu, 12 Juni 2021 | 18:46 WIB

Dedi: Sektor Pariwisata dan Pertanian Tak Boleh Saling Mematikan
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi menyampaikan paparan dalam The 2nd Millenial Indonesia Agropreneur di Plaza Ambarrukmo, Sabtu (12/06/2021). - (Kontributor SuaraJogja.id/Putu)

Menurut Dedi, tak harus mematikan sektor pertanian,pariwisata bisa mengembangkan keduanya secara bersama-sama sebagai daya tarik pariwisata.

SuaraJogja.id - Banyak lahan pertanian yang tergusur oleh pembangunan, termasuk dialihfungsi sebagai kawasan pariwisata. Akibatnya lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian makin sempit.

Di DIY misalnya, Dinas Pertanian mencatat, alih fungsi lahan pertanian mencapai 0,4% atau rata-rata 237,14 hektare (ha) pertahun. Selain dialihfungsi untuk pembangunan gedung, sebagian lain difungsikan sebagai kawasan wisata. Persoalan ini harus diatasi bila tidak ingin pasokan pangan kita semakin berkurang karena lahan pertanian kita semakin sempit.

"Pertanian dan pariwisata itu ibarat keping uang yang tidak bisa dipisahkan. Itu bisa dipadukan menjadi agrowisata," ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi dalam The 2nd Millenial Indonesia Agropreneur di Plaza Ambarrukmo, Sabtu (12/06/2021).

Menurut Dedi, tak harus mematikan sektor pertanian,pariwisata bisa mengembangkan keduanya secara bersama-sama sebagai daya tarik pariwisata. Dampaknya akan luar biasa karena keduanya sama-sama saling menguntungkan.

Baca Juga: Produktivitas Petani Indramayu Meningkat Berkat Irigasi Pipa yang Dibangun Kementan

"Jadi tidak ada saling mematikan, justru saling sinergi, mendukung satu sama lain tumbuh positif," tandasnya.

Untuk bisa mengembangkan keduanya secara bersamaan dibutuhkan peran serta para petani yang mampu berinovasi. Sehingga sektor pertanian pun tidak hanya menghasilkan pangan tapi bisnis yang berkelanjutan.

Kementerian Pertanian berupaya mendorong lahirnya petani-petani milenal. Ditargetkan setiap tahun ada sekitar 500 ribu petani milenial baru yang mampu mengembangkan inovasi di sektor tersebut.

"Ditargetkan lima tahun kedepan ada sekitar 2,5 juta petani milenial yang kita miliki di daerah masing-masing. Mereka bisa melakukan resonansi kepada para pemuda di seluruh pelosok tanah air," ungkapnya.

Dedi menambahkan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia harus dimanfaatkan secara optimal di sektor pertanian. Perlu ada regenerasi dan transformasi dari pertanian yang tanam, petik dan jual menjadi yang menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan sebagai agrobisnis.

Baca Juga: Pemasok Telur Hingga Perusahaan Ritel Terkemuka Dilaporkan ke Kementan

Kementerian Pertian memberikan kesempatan kepada generasi milenial mengembangkan kewirausahaan. Sehingga mereka bisa mengakses modal dan mengolah lahan pertanian dengan baik.

"Makanya anak muda harus bisa berbisnis pertanian, sehingga prospek pertanian kita bisa menghasilkan duit sebanyak-banyaknya," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait