facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Suara Senyap Orang-orang yang Hidup dengan Stempel PKI Bagian 1

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Kamis, 30 September 2021 | 16:25 WIB

Suara Senyap Orang-orang yang Hidup dengan Stempel PKI Bagian 1
Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Leo merupakan satu dari sekian ribu saksi sejarah ketika peristiwa kelam G30S mengguncang Indonesia di tahun 1965

SuaraJogja.id - "Sitik-sitik bangkit, bangkit apane? (Sedikit-sedikit bangkit, apanya yang bangkit?) Kalau bangkit ku hadapi. Aku ki ora PKI, ora komunis. Nek komunis pancen gawe kacau ning NKRI yo tak ganyang! (Aku itu bukan PKI, bukan komunis. Kalau komunis memang membuat kekacauan di NKRI ya juga aku ganyang)," kata Leo Mulyono dengan penuh semangat. 

Perkataan Leo itu seolah menjadi cerminan kekecewaan atas apa yang sudah ia alami selama ini. Bagaimana tidak, pria kelahiran 1945 itu adalah salah satu penyintas tragedi berdarah G30S

Usianya saat itu baru menginjak 20 tahun. Leo sudah harus berjibaku dengan kerasanya kehidupan di balik jeruji besi. Namun sayangnya ia sendiri tidak tahu apa yang menjadikannya tahanan kala itu.

Leo bercerita jauh ke belakang tepatnya sebelum tragedi itu benar-benar terjadi. Dulu, ia berkuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang sekarang telah berubah menjadi Fakultas Seni Rupa dan Desain bagian dari ISI Yogyakarta

Baca Juga: Berdiri Tugu Palu Arit di Palembang, Puluhan Kantor Serikat Buruh

Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Saat ini bangunan ASRI juga telah diubah menjadi Jogja Nasional Museum (JNM). 

"Aku baru tingkat dua kalau sekarang ya semester 4. Jadi belum apa-apa sebenarnya," ucapnya membuka cerita kepada tim SuaraJogja.id belum lama ini.

Sebagai mahasiswa pada zaman itu, Presiden Bung Karno menanamkan ke generasi muda termasuk Leo bahwa mahasiswa itu harus berorganisasi. Mendengar petuah dari sang proklamator NKRI, jiwa muda Leo bersemangat untuk bergabung dengan organisasi yang ada di ASRI saat itu.

Ada berbagai macam organisasi saat itu di ASRI. Namun Leo sudah menjatuhkan pilihan kepada organisasi CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). 

Ia menilai bahwa CGMI sangat mewakili semangat dari Presiden Soekarno dengan triloginya yakni studi sebagai mahasiswa, organisasi dan revolusi. 

Baca Juga: Kumpulan 30 Link Download Twibbon Peringatan G30S PKI

"Wah iki rodo koyo Bung Karno iki, apik iki. Saya kan mulai tertarik," imbuhnya.

Selain itu alasan ia memilih CGMI adalah karena saat masa perpeloncoan organisasi itu dinilai paling enak. Dalam artian di CGMI tidak ada atau menjatuhkan hukuman-hukuman laiknya organisiasi lainnya di kampus. Senior yang berperan di situ pun, kata Leo sangat ramah.

Leo yang saat itu milih menekuni ilustrasi grafik bahkan juga diterima baik oleh senior-senior di CGMI. Pernah pula mereka menyarankan Leo ke Sanggar Bumi Tarung jika memang membutuhkan bantuan senior dalam studinya. 

Namun usut punya usut ternyata Sanggar Bumi Tarung itu sendiri merupakan Sanggar Lembaga Kebudayaan Rakyat atau dikenal dengan Lekra. Leo mengaku juga tidak tahu menahu soal itu saat mahasiswa dulu.

"Terus saya ikut organisasi yaitu CGMI yang sekarang ternyata katanya itu kader underbouw-nya PKI. Tapi kan saat itu saya enggak ngerti itu, ngertinya saya waktu itu ya organisasi mahasiswa yang istilahnya zaman Bung Karno ya progresif atau revolusioner kayak gitu," ungkapnya. 

Dari Penjara ke Penjara

Hingga kemudian pada tanggal 20 Oktober 1965 digelar apel akbar di Alun-alun Yogyakarta. Leo sebagai mahasiswa yang masih tergolong tingkat awal tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu mengasah ketrampilan studinya. 

Leo berada di pojok lapangan dengan hanya berbekal alat sketsa. Ia awalnya hanya berencana untuk membuat sketsa tentang apel akbar tersebut.

Namun ternyata di dalam apel tersebut, mulai terdengar nama-nama organisasi kampus yang disebut. Ternyata apel itu sebagai awal mula kericuhan itu terjadi, terkait pembubaran PKI dan sebagainya.

Situasi semakin tidak menentu setelah di dalam pidato itu juga menyebut CGMI. Ia memilih untuk meninggalkan lapangan saat itu dan keluar dari alun-alun karena sudah tidak bisa berpikir jernih.

Setelah apel akbar selesai, massa yang berasal dari alun-alun sudah membawa berbagai macam atribut mulai dari pedang, linggis dan berbagai macam perlengkapan lainnya. Mereka mulai merusak papan nama di sekitar lokasi. Kekacauan mulai terjadi. 

Mahasiswa yang tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi memilih untuk berlindung di tempat yang aman. Namun aksi anarkis semakin meluas. Bentrok antara mahasiswa dan massa itu tidak terelakkan. Lempar batu, lempar pedang dan lain sebagainya.

Tidak berselang lama, tentara datang. Ada salah satu tentara yang masuk ke gedung tempat Leo dan para mahasiswa lainnya berada saat kekacauan itu terjadi.

"Baru umur 20 tahun saya, saat kejadian itu terjadi," terangnya.

Tiba-tiba ada tembakan masuk. Suara tembakan yang dideskripsikan Leo seperti berasal dari tembakan dari jenis pistol bull dog. Ternyata itu adalah Polisi Ngupasan atau yang sekarang dikenal sebagai Polresta Yogyakarta. Mahasiswa ditodong, dikumpulkan menjadi satu dan dibawa ke salah satu sudut ruangan.

"Sama polisi dibawa. Aku enggak tahu di bawa kemana. Ternyata dibawa ke Ngupasan (kantor polisi). Polisinya bilang 'tenang saja di sini aman, nanti kalau Jogja sudah aman nanti akan dipulangkan,' diregister juga di sana," ujarnya.

Karena peristiwa kerusuhan itu terjadi hingga malam hari, rombongan Leo akhirnya dititipkan di Wirogunan atau dikenal juga dengan Lapas Kelas IIA Yogyakarta saat ini.

Dimasukan ke blok A, semua perlengkapan rombongan itu dilucuti. Termasuk alat sketsa milik Leo yang diminta. Blok A itu dijelaskan Leo, semestinya digunakan untuk tahanan titipan, tapi tahanan kriminal.

"Ya kita waktu itu enggak tahu tahanan politik atau apa," tuturnya.

Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Ia menyebut kapasitas ruangan saat itu mungkin hanya cukup untuk 30 orang saja. Namun ternyata saat itu ada 134 orang lebih yang di bawa ke Wirogunan. 

Sebenarnya petugas saat itu berencana untuk memindah sebagian dari rombongan ke sel lain agar bisa lebih nyaman beristirahat. Namun rombongan bersikukuh tetap ingin tinggal bersama di tempat yang sama. 

Mereka sempat tidak doyan makan. Sebab makanan napi yang tidak layak untuk dikonsumsi. Sehari dua hari tidak doyan makan tetapi akhirnya mereka memutuskan untuk makan seadanya. Ada pihak dari luar yang mengirim makanan tapi tidak diperbolehkan.

"Masuk November. November ini kok, kita kan mikirnya kalau Jogja aman akan dibebaskan. Malah banyak lagi yang masuk. Yo uwes nek kancane teko ki berarti ra iso bali. (Ya sudah kau temannya datang berarti tidak bisa pulang). Jadi itu Jogja terus semua operasi ditangkapi. Ternyata tidak hanya ditangkap, yang dibunuh juga ada," terangnya. 

Ia hanya bisa pasrah bersama dengan teman-teman yang sudah masuk jeruji besi tadi. Lalu akhirnya dipindah ke Blok L, yang kata Leo, semacam penjara di dalam penjara. Melihat dari kondisi di sekeliling blok L yang masih dipasangi kawat berduri dan pintu masuk dikunci.

Masuk tahun baru 1966, ia dan teman-teman lainnya sudah membayangkan bahwa akan dibebaskan. Tapi harapan itu tidak terwujud. Mereka tetap harus berada di dalam tahanan. 

Bertahan hidup di dalam jeruji besi dengan kondisi seadanya, yang diawasi tidak hanya oleh aparat tapi juga oleh napi.

Bahkan dari pengalamannya berada di penjara itu, Leo sadar bahwa ternyata saat itu narapidana punya nilai lebih dari pada mereka -- mahasiswa yang ditahan. Walaupun sama-sama semua ditahan.

"Kita menilai kriminal ternyata lebih baik daripada kita yang mahasiswa," ucapnya.

Kejadian horor juga tak luput dari pengalamannya. Termasuk saat pemanggilan rekan-rekan yang ada di dalam rombongannya tengah malam oleh petugas.

Sebab dari pengalaman yang sudah-sudah, beberapa kawannya ada yang dipanggil setelah maghrib itu tidak kembali lagi, istilahnya itu di "bon" kata Leo.

Suatu ketika ia menjadi salah satu nama yang dipanggil tengah malam. Namun ia bergeming dan memilih diam.

Namun ternyata ia bukan satu-satunya tahanan yang dipanggil saat itu. Ada banyak orang yang dipanggil. Akhirnya Leo memutuskan untuk ikut juga. Ia hanya mengenakan kaos dalam, baju dan celana yang diberikan oleh teman yang bernama Nikolas. 

Keluar penjara tengah malam. Lalu rombongan dimasukkan ke dalam truk. Tidak tahu kemana tujuannya. Mereka pikir mereka akan bebas.

Ternyata tidak, mereka dibawa ke Stasiun Lempuyangan yang sudah dijaga ketat oleh Tentara RPKAD baret merah sekarang menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Mereka diminta masuk ke gerbong kereta yang sudah disiapkan. Setelah masuk, semua jendela dan pintu di gerbong kereta itu ditutup bahkan dipaku secara rapat dan kereta mulai meninggalkan stasiun.

Saat itu Leo mengaku hanya bisa berdoa menurut keyakinan masing-masing sambil makan nasi bungkus yang diberikan agar tidak terjadi hal-hal yang ditakutkan. Tibalah kereta itu di suatu tempat. 

"Aku berani melihat ke depan dan setelah melihat ke depan ternyata Segara Anakan. Nusakambangan. Nangis aku. Aku kelingan (teringat) ibuku tidak dapat berita saya ada dimana, kok aku dibawa ke Nusakambangan. Padahal pemikiran saya waktu itu, Nusakambangan itu satu pulau yang digunakan untuk menghukum orang yang kriminal lima tahun ke atas. Aku kok dibuang ke sana, mesti berat banget ini. Nangis saya," ujarnya.

Setelah tiba, ia melihat bahwa telah berada di Penjara Besi (Lapas Kelas IIA Besi), Nusakambangan. 

Leo teringat ungkapan Bung Karno bahwa orang yang pernah dihukum atau dipenjara selama lima tahun itu jiwanya pasti goncang. Ya benar saja. Ada beberapa teman dari rombongan yang bersama Leo akhirnga kehilangan akal sehat. Stres hingga bunuh diri.

Namun Leo memilih tetap menjaga kewarasanannya dengan memperhatikan kondisi sekitarnya. Hari-hari Leo akhirnya harus berada di penjara itu. 

Di sana, jelas Leo, napi yang tegas atau dalam deskripsi Leo berani untuk 'menggulung' orang yang baru datang atau khususnya Leo dan rombongan justru akan mendapat remisi di tanggal 17 Agustus.

"Napi nek ngajar kita entuk nama. Lha kita nek 17 Agustus malah dikrangkeng. Kuwalik-walik tenan iki (napi kalau menghajar kita malah mendapat nama. Sedangkan kita saat 17 Agustus malah di penjara. Kebalik-balik pokoknya)," tuturnya. 

Lalu Leo dipindah lagi ke Nirbaya. Tempat untuk menembak mati para napi lainnya. Itu semacam bukit katanya. 

Ia menilai kondisi di penjara itu sudah sangat buruk. Entah apa yang ada dipikiran Leo saat itu. Tapi di sana Leo nekat memakai kaos yang bertuliskan CGMI. Ia menyebut bahwa itu satu-satunya kaos yang ia miliki.

Teman-temannya pun sudah mengira Leo kehilangan akal. Mereka khawatir dan meyakini tindakan gilanya itu akan menuntutnya ke petaka. Mereka benar, seorang penjaga memanggil Leo.

Ia menjelaskan saat itu harus menemui seorang petugas bernama Dalim. Dengan perasaan yang sangat gugup, ia berjalan menghampiri Dalim.

Namun ternyata bukan hukuman atau siksaan yang diterima Leo. Kala itu Dalim hanya menanyakan tentang asalnya dan keterampilan yang ia miliki, dalam hal ini menggambar. Petugas bernama Dalim itu pun tidak menyinggung apa pun tentang kaos yang digunakan. 

Justru dari situ Leo mendapat pengalaman berharga sehingga dipindahkan ke divisi lain yang ada di penjara itu. Bukan untuk membersihkan ruangan tapi untuk melakukan kesukaannya yaitu menggambar.

Tidak terasa saat itu sudah memasuki akhir tahun 1967. Leo masih diminta untuk menggambar pahlawan seperti Diponegoro dan Kartini. 

Berkat keterampilan menggambarnya itu, kata Leo, ada komandan yang kemudian sangat menyukai gambarnya hingga memintanya agar bisa menggambar untuk mereka juga.

Leo bahkan seolah mendapat keleluasan di dalam penjara kala itu. Ia bisa bebas keluar masuk penjara tanpa pengawasan ketat dan siksaan seperti dulu. Makanan yang ia terima saat itu pun lebih layak, tidak jarang ia menyisakan dan membawakan makanan itu kepada teman-temannya di penjara.

Elvy Sukaesih Mengantar ke Pulau Buru

Suatu pagi, para tahanan yang berusia dengan rentan usia 20-50 tahun dipanggil oleh petugas. Leo berpikir akhirnya pembebasan itu dilakukan.

Dengan perasaan senang ia mengikuti arahan dari tentara yang saat itu sudah menunggu mereka. Rombongan itu diminta untuk meninggalkan penjara Nirbaya menuju ke stasiun kereta.

Perasaannya sudah sangat positif akan segera dipulangkan saat itu. Mengingat tahanan lain yang ternyata kondisinya tidak sebaik Leo. 

Dalam artian mereka kurus kering bahkan untuk berdiri pun susah. Terlebih orang tua yang harus dibantu untuk naik ke dalam kereta. Kali ini, jendela kereta tidak ditutup rapat. 

"Lalu kereta api kan sampai Jogja. Tak pikirkan bebas di Jogja, ternyata ora mandek (tidak berhenti). Waduh padahal aku sudah mencari teman yang ada di Stasiun Tugu. Oh mungkin nanti Lempuyangan, sebab dulu aku kan dari Lempuyangan berangkatnya. Ternyata sampai Lempuyangan juga tidak berhenti," tuturnya.

Semangat bebas Leo harus kembali pupus. Ia tidak ada pikiran lagi akan dibawa kemana. Hingga akhirnya, kereta berhenti di Semarang tepatnya di Stasiun Tawang.

Belum keluar dari kereta, Leo dan rombongan sudah ditunggu truk. Mereka langsung dimasukkan ke dalam truk. Saat truk sudah penuh tentara berada di belakang dengan senjata yang siap menembak jika ada pergerakan yang mencurigakan.

Meskipun tidak mungkin lagi, kata Leo, bagi mereka untuk melarikan diri. Mengingat kondisi fisik yang sudah sangat lemah.

Truk itu ternyata membawa rombongan Leo ke Ambarawa, sebuah kota di Jawa Tengah. Ia sempat berpikir sudah di dalam masa pembebasan setelah diminta untuk foto dari 9 sisi dan cap jari.

Ada salah satu rekannya dari Rembang yang ternyata benar bebas. Dibuktikan dengan teriakan dari luar pagar kawat yang terdengar oleh Leo dari dalam penjara.

"Tapi aku tidak bebas. Dipanggil untuk naik truk lagi dikawal CPM (polisi militer) yang kemarin sempat ditahan juga. Dia bilang kalau kita akan dibawa ke Nusakambangan lagi, terus mungkin ke Pulau Buru," terangnya.

Benar saja, pada medio 1969-1970 itu Leo dan rekan-rekannya kembali dipindahkan. Selepas dari Ambarawa, mereka dibawa kembali ke Nusakambangan. 

Berbeda dengan kesan pertama saat tiba di Nusakambangan, kali ini Leo sudah lebih kuat secara mental. Ia tidak lagi menangis ketika tiba di sana. 

Walaupun tetap saja kecewa dengan janji polisi di Ngupasan dulu yang bilang akan dibebaskan setelah kondisi Jogja aman. Tapi ternyata tidak secepat itu.

Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

"Jadi polisi bener-bener ngapusi (membohongi) aku. Jarene nek Jogja aman diolehke mulih (katanya kalau Jogja sudah aman akan dibiarkan pulang). Aku nunggu sedino (sehari), seminggu, sesasi (sebulan), sampai 14 tahun ternyata itu saja kalau tidak ada tuntutan palang merah kemanusiaan dunia mungkin masih bisa dipenjara," ungkapnya

Tak lama etelah kembali ke Nusakambangan untuk kedua kalinya, Leo dan rombongan kemudian dipindah lagi. Dimasukkan dalam unit 4 Savanajaya, Leo tergabung dengan sejumlah lulusan SMA dan sarjana. Mahasiswa dari seluruh Indonesia lengkap.

Bukan lagi menggunakan kereta api, kali ini Leo sudah dijemput menggunakan kapal laut Tobelo. Teringat lagi kata polisi militer di Ambarawa waktu itu, kemungkinan besar memang rombongan akan menuju ke Pulau Buru.

Di dalam perjalanannya Leo dan rekan-rekannya diberikan hiburan berupa lantunan lagu-lagu dangdut. Walaupun tidak banyak dan hanya diulang-ulang tetapi setidaknya kala itu lagu tersebut menjadi hiburan tersendiri.

"Perjalanan itu 5 hari 6 malam itu. Berangkat malam dari Nusakambangan. Lagunya dangdut long play. Lagunya sama itu terus Elvy Sukaesih. Goyang dewe wong kapale udah goyang," kata Leo sambil terkekeh.

Akhirnya tibalah Leo di Pulau Buru, Maluku. Diceritakan Leo, bahwa ia juga tahu kalau di sana juga terdapat sosok Pramoedya Ananta Toer. Meski memang berbeda unit, jika Leo di unit 4, Pram berada di unit 3.

"Ketemu Pak Pram juga. Terakhir dia itu ditarik ke markas komando kok. Ngarang Bumi Manusia itu kan dia ada di mako. Saya juga ada di mako tapi tukang angon kuda, kuda komandan markas komando," terangnya.

Pada medio tahun 1971-1973 itu ada sejumlah keluarga dari beberapa teman Leo yang datang untuk menjenguk. Leo yang saat itu masih lajang lalu dipindahkan ke unit 1.  

Di Pulau Buru sendiri, Leo mengaku telah membuat sejumlah karya yang mungkin hingga saat ini masih ada. Di antaranya Gedung Kesenian, jalan-jalan yang ada di sana, hingga Tugu di Savanajaya.

"Gedung kesenian itu yang buat saya, jalan-jalan itu yang ngerancang saya sama Rukmono (temannya saat di Pulau Buru). Terus ada Tugu di Savanajaya, itu yang natah saya dan Rukmono sekarang udah meninggal. Mahat itu pakai paku. Terus dibangun sekarang," ungkapnya.

Stempel PKI dan Cinta Deborah

Akhirnya, setelah 14 tahun berjuang untuk tetap bertahan di berbagai penjara tanpa ada latar belakang yang jelas mengapa ia ditahan. Leo bisa menghirup udara bebas pada tahun 1979.

Namun sepulangnya ke Jogja kebebasan itu belum sepenuhnya dirasakan. Leo yang dulu indekost di daerah Wirobrajan, Jalan Wates nomer 25 setelah 14 tahun tidak diterima lagi di sana.

Ia bahkan sempat diminta untuk menginap sementara di Koramil Wirobrajan. Tetapi Leo menolak. Ia lebih memilih mencari Pak Lik-nya untuk tinggal sementara saat masa kepulangannya ke Jogja itu.

Selain itu, Leo juga masih harus melakukan Santiaji Pancasila. Salah satu program sebagai indoktrinasi bagi para eks tapol PKI. Hal itu perlu dilakukan karena para eks tapol tersebut dianggap memiliki pemahaman yang tidak sesuai atau menyimpang dari ideologi bangsa.

"Waktu itu masih harus seminggu sekali Santiaji ke MPP (Kantor Kemantren) Wirobrajan," tuturnya.

Leo akhirnya menikah pada tahun 1980 dengan istrinya Deborah Oni Ponirah yang juga mantan tahanan Plantungan. Istrinya itu, kata Leo ditangkap hanya karena ikut menari genjer-genjer. 

Kondisi itu tetap belum mengubah keadaan yang dirasakan mereka berdua semenjak pulang ke Jogja. Mereka berdua tetap harus mengikuti Santiaji hingga beberapa tahun.

"Jadi camat setiap bulan ketemu dan aku membaca janji sumpah dan ditirukan semua bekas tahanan itu," ungkapnya.

Ada satu waktu ketika istrinya tidak bisa berangkat untuk mengikuti Santiaji akibat melahirkan anak bungsunya. Namun ternyata tidak ada kelonggaran yang diberikan kepada keluarga itu.

Mereka tetap diberikan peringatan untuk segera melapor ke pemerintah setempat. Bahkan hingga lapor ke kantor militer untuk memberikan kejelasan kenapa tidak berangkat Santiaji. 

Beruntung, situasi itu akhrinya berangsur-angsur berubah setelah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat sebagai Presiden ke-4. Perubahan itu semakin bisa dirasakan setelah kebijakan Santiaji bagi eks tapol '65 dihilangkan. 

Suara Senyap dan Merawat Ingatan

Dari hasil pernikahannya, Leo dikaruniai empat orang anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Ia mengakui memang sempat merahasiakan statusnya sebagai eks tapol PKI kepada anak-anaknya itu.

Alasannya adalah takut jika statusnya tersebut dapat berdampak pada anak-anaknya dalam menjalani kehidupan. Terlebih belum lama setelah itu nuansa orde baru masih sangat terasa.

"Saya takut. Sampai SMA pokoknya jangan sampai ketahuan bahwa bapaknya ini eks tapol. Ya ada sekolahan yang orde barunya kuat, takut kalau mengetahui latar belakang keluarganya nanti bisa terjadi apa-apa dengan anak-anak," ujar Leo.

Pasalnya saat dulu warga kampungnya tahu tentang status Leo perlakuan tidak menyenangkan turut ia dapatkan. Hal itu yang membuatnya tetap tidak memberitahukan dulu kepada anak-anaknya.

"Soalnya ya itu dikatut-katutke, kalau di kampung waktu ketahuan saya kan dikafir-kafirkan. Kalau dia (anak-anaknya) tahu sebelum ngerti kan terus dia bisa down. Dia memang pernah bercerita tentang bahwa PKI itu jahat juga," terangnya.

Kendati begitu, Leo memiliki keyakinan bahwa kelak anak-anaknya akan memahami hal itu dengan sendirinya. Terlebih kemudian saat ada beberapa teman yang datang ke rumah dan bercerita tentang tragedi itu.

"Tapi saya punya keyakinan nanti dia akan tahu sendiri setelah SMA, apalagi sampai mahasiswa. Dia juga selalu mendengarkan setiap bapaknya atau ibunya kedatangan tamu dan bercerita tentang tragedi itu," sambungnya.

Sekarang semua anak-anaknya sudah tahu tentang cerita masa lalu Leo. Mereka juga menerima itu dan hidup bersama dengan cerita-cerita pengalaman masa lalu dari kedua orang tuanya. 

Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Leo Mulyono, penyintas tragedi G30S. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Menurutnya tragedi G30S itu tidak akan terurai sebab orang-orang yang membuatnya atau oknum-oknum di dalamnya masih ada hingga saat ini. 

"Namun dengan semangat hidup yang saya punya tidak akan melupakan peristiwa ini. Memang aku enggak lupa, selama belum terurai tentang G30S aku tidak akan pernah lupa tentang itu," tegasnya.

Dia mengaku sangat senang bisa terus berbagai cerita dengan generasi muda untuk melihat sejarah bangsa ini dari perspektif lain. Leo menyebut masih ada banyak teman-temannya di luar sana yang juga memiliki kisah tak kalah luar biasa.

"Temui semua, pasti nanti semua ceritanya ada garis yang sama. Ceritanya pasti lain-lain tergantung pengalaman, tapi ada garis pokok yang itu bisa diambil benang merahnya. Makanya kalau ada kawan-kawan yang peduli dengan kita yang selama ini tidak dipedulikan, itu aku benar-benar sangat terima kasih. Ini demi kebaikan peristiwa G30S itu agar anatominya terurai," urainya.

Leo yang saat ini sudah berusia 76 tahun menyadari bahwa menyelesaikan persoalan di tragedi kelam '65 memang membutuhkan proses. Terlebih lagi proses itu juga tidak akan semudah seperti membalik telapak tangan. 

Kini Leo dan istrinya telah memiliki 4 orang cucu. Sekarang mereka hanya tinggal berdua di rumah sederhana di pinggiran Kota Yogyakarta. Anak-anaknya pun sering datang menjenguk mereka.

Leo mengungkapkan tekad dan pikiran-pikiran lucu semasa menjalani masa tahanan itu yang justru membuat Leo bisa bertahan hingga sekarang. Dengan masih juga tetap semangat serta memiliki daya ingat yang juga masih kuat.

"Banyak yang bilang Pak Leo itu menceritakan kejadian kelam itu kok bisa sambil tertawa, ya saya bilang lah wong sudah dilalui kok. Mau apa? Itu sudah ku jalani dan aku syukuri. Sebab itu sebagai guru," pungkasnya. 

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait