facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan

Galih Priatmojo Rabu, 17 November 2021 | 12:55 WIB

Jejak Abdi Dalem Sebarkan Tradisi Minum Jamu di Yogyakarta: Dari Ginggang hingga Kiringan
Salah seorang karyawan kedai Jamu Ginggang menunjukkan salah satu produknya yakni jamu lelaki. [Galih Priatmojo / suarajogja.id]

tradisi menenggak jamu di wilayah Yogyakarta tak bisa dilepaskan dari resep Keraton yang disebarkan para abdi dalem

Sutrisno menjelaskan bahwa di Kiringan saat ini tercatat ada sekitar 132 orang perajin jamu. Sementara yang saat ini masih aktif menjajakan jamu gendong ada sebanyak 90 orang, di mana sebanyak 40 orang merupakan generasi baru.

Menariknya, lanjut Sutrisno, tak sedikit para perajin jamu gendong di Kiringan yang melakukan inovasi dalam berjualan. Memanfaatkan kecanggihan teknologi, beberapa di antaranya kini menjajakan jamu tidak dengan digendong lagi melainkan dengan dijual secara online.

“Jadi mereka menjajakannya dalam bentuk racikan bahan mentah yang sudah dikemas sehingga bisa tetap awet ketika dikirim,” ungkapnya.

Menjelma Jadi Desa Wisata Jamu

Baca Juga: Staycation Semakin Nyaman di Hyatt Regency Yogyakarta dengan Fasilitas Ini

Daya pikatnya sebagai desa penghasil jamu gendong yang melegenda, membuat Dusun Kiringan dilirik banyak pengunjung sebagai kawasan wisata alternatif. Merespon banyaknya wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung, di tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Bantul kemudian menetapkan Dusun Kiringan sebagai desa wisata sentra produksi jamu.

“Awalnya memang banyak pengunjung baik dari dalam atau luar negeri yang mampir ke Kiringan untuk sekadar meminum jamu. Baru pada 2016 lalu desa ini menerima Surat Keputusan menjadi desa wisata,” kata Sutrisno.

Untuk memberikan rasa nyaman bagi pengunjung yang singgah ke Dusun Kiringan, pengelola desa wisata menyediakan sejumlah fasilitas pendukung mulai dari home stay, transportasi untuk jemputan hingga jelajah alam dengan objek wisata utamanya yakni pengolahan jamu.

Dengan tarif Rp3 juta, wisatawan yang berkunjung ke Kiringan bisa mendapatkan paket menginap selama tiga hari dua malam. Setiap pengunjung yang datang akan diberikan jamu sebagai welcome drink .

Penjual jamu keliling di Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan, Desa Canden, Jetis, Bantul, Selasa (4/8/2020). [Suara.com/Hiskia]
Penjual jamu keliling di Desa Wisata Jamu Gendong Kiringan, Desa Canden, Jetis, Bantul, Selasa (4/8/2020). [Suara.com/Hiskia]

“Sebelum berkunjung ke Kiringan, wisatawan akan diajak keliling Jogja melewati Malioboro, Keraton Yogyakarta, objek wisata Becici dan sekitarnya hingga yang terakhir di Pantai Parangtritis. Pihaknya juga akan mengajak wisatawan untuk mencoba kuliner yang ada di wilayah Jogja dan Bantul,” ungkapnya.

Baca Juga: Liputan Khusus: Menjegal Perdagangan Anjing di Yogyakarta

Selama tiga hari di Kiringan, wisatawan akan diajak untuk melihat pemaparan materi tentang jamu atau menonton film yang berkaitan dengan jamu. Kemudian wisatawan akan diajak jelajah wisata ke kebun tanaman rempah-rempah milik warga yang digunakan sebagai bahan dasar membuat jamu. Selain dikenalkan dengan ragam jenis tanaman, para wisatawan juga akan diajari untuk membuat jamu sesuai resep turun temurun dari Dusun Kiringan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait