facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Memahami Childfree dari Sudut Pandang Anak Muda di Jogja, Fala: Aku Takut Tak Mampu Mencukupi Kebutuhan Hidupnya

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana Jum'at, 14 Januari 2022 | 11:43 WIB

Memahami Childfree dari Sudut Pandang Anak Muda di Jogja, Fala: Aku Takut Tak Mampu Mencukupi Kebutuhan Hidupnya
Ilustrasi bayi. (Pexels)

Beberapa memahami Childfree sebagai pemikiran yang bertentangan dengan fitrah.

SuaraJogja.id - Memiliki sosok yang dapat melanjutkan garis keturunan secara alami hampir menjadi angan-angan semua orang khususnya suami istri setelah menikah. Namun nyatanya, tidak semua pasangan yang mampu memiliki anak menginginkan hal tersebut. Keputusan itu kemudian dikenal dengan istilah childfree yang sering kita dengar dalam beberapa waktu terakhir.

Konsep childfree ramai kembali diperbincangkan setelah YouTuber Gita Savitri sebelumnya mengaku menerapkan itu atau enggan memiliki anak dalam kehidupan rumah tangganya. Gita Savitri dan suaminya, Paul Andre Partohap, menilai punya anak atau tidak merupakan sebuah pilihan hidup, alih-alih kewajiban.

Childfree sebagai Pandangan Politik

Fala Pratika (23) menyebut bahwa childfree sebagai pandangan politik. Secara tidak langsung itu merupakan pandangan politik yang itu bersentuhan dengan otoritas tubuh setiap individu.

Baca Juga: Soroti Kerusakan di Jalan Perwakilan, Forpi Jogja Minta OPD Awasi Parkir di Lokasi Setempat

"Keputusan yang kamu ambil berdasarkan pandangan politikmu dengan tubuhmu. Aku sendiri melihat itu sebenarnya, balik lagi aku sangat percaya bahwa setiap perempuan bahkan setiap orang punya otoritas atas tubuhnya sendiri untuk memilih mau mempunyai anak atau tidak," ujar Fala kepada SuaraJogja.id beberapa waktu lalu.

Fala memandang bahwa mempunyai anak itu adalah tanggungjawab seumur hidup. Sehingga ia pun tidak memungkiri tanggungjawab itu terdengar sangat menakutkan. 

Hal itu juga salah satu faktor yang membuatnya belum memutuskan untuk hendak memiliki anak atau tidak dalam kehidupannya mendatang. Namun tetap ada ketakutan dan keraguan dalam menentukan pilihan itu.

"Itu (punya anak) terdengar sangat mengerikan. Aku sendiri belum memutuskan tapi aku punya ketakutan dan beberapa keraguan terkait itu," ucapnya 

Ia memberi contoh terkait dengan persoalan atau faktor finansial. Tentang bagaimana kebutuhan anak sejak dilahirkan hingga semakin bertumbuh dewasa dengan segala biaya pendidikan yang perlu dikeluarkan. 

Baca Juga: Capaian Vaksin Anak 81,5 Persen, Dinkes Jogja Targetkan Dosis 2 Selesai Februari

Persoalan-persoalan finansial yang harus dihadapi jika memiliki anak itu menjadi salah satu faktor yang menimbulkan ketakutan dalam dirinya. 

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait