Penjual Gorengan Curhat Diprotes hingga Kehilangan Pembeli, Dampak Minyak Goreng Langka dan Mahal

"Saya menunggu sekitar 15 menit. Saya kira ada minyaknya, setelah tanya ke petugas itu malah kosong."

Eleonora PEW | Muhammad Ilham Baktora
Sabtu, 02 April 2022 | 15:50 WIB
Penjual Gorengan Curhat Diprotes hingga Kehilangan Pembeli, Dampak Minyak Goreng Langka dan Mahal
Ngatilah, penjual gorengan yang kesulitan mencari minyak goreng curah, ditemui wartawan di salah satu distributor, Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

Bukan tanpa alasan dirinya menaikkan harga tersebut. Sebab harga migor naik, selain itu bahan baku gorengan juga mengalami kenaikan harga.

Seperti tepung terigu yang sebelumnya hanya Rp8.500, saat ini mencapai Rp9.000. Hal itu dia rasakan selama satu bulan belakangan.

"Selain menaikkan harga, kadang juga memperkecil gorengan. Kalau jualan kan pasti harus dapat untung sedikit ya. Makanya dibuat seperti itu," kata Ngatilah.

Imbasnya, tak jarang dia diprotes oleh pelanggan ketika menjual dengan harga Rp1.000 per biji. Ia juga mengaku pembelinya mulai berkurang.

Baca Juga:Harga Minyak Goreng Malaysia Lebih Murah, Ini Perbandingan dengan Indonesia

Tapi dirinya bersyukur, masih ada pelanggan pasar yang membeli karena paham dengan situasi saat ini.

Butuh sekitar 1 jam untuk mengantre mendapatkan migor curah di situasi sekrang. Dalam sehari, Ngatilah menghabiskan sekitar 7 liter migor curah untuk gorengannya.

Kondisi distributor minyak goreng di Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)
Kondisi distributor minyak goreng di Jalan Bantul, Kelurahan Suryadiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Jumat (1/4/2022). - (SuaraJogja.id/Muhammad Ilham Baktora)

"Karena minyak goreng curah mahal dan dibatasi, jadi saya bawa jeriken lima liter. Lalu nanti bapak juga bawa lima liter. Totalnya ya 10 liter. Setiap hari harus dapat kan untuk jualan juga," katanya.

Tak jarang Ngatilah harus libur berjualan karena minyak goreng kosong. Hal itu juga menjadi kekhawatiran dia karena harus memenuhi kebutuhan dia dan suaminya.

Jika ada sedikit minyak yang tersisa, Ngatilah hanya jualan seadanya. Ia berharap kelangkaan migor curah ini tidak berlangsung lama, pasalnya jika harus mengalami kondisi seperti ini, Ngatilah tak tahu harus berbuat apa lagi untuk memenuhi kebutuhan dia.

Baca Juga:3 Kriteria Penerima yang Layak Dapat BLT Minyak Goreng Rp 300 Ribu dari Jokowi

Terpisah, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menjelaskan kelangkaan migor curah di Kota Jogja ini salah satunya karena jumlah kiriman hanya 50 persen dari pemasok.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak