SuaraJogja.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menerima silaturami Idulfitri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kamis (05/05/2022). Dalam pertemuan selama 1,5 jam tersebut, Haedar sempat menyampaikan beberapa nasihat dan masukan bagi Ganjar.
Haedar menyampaikan pentingnya rekonsiliasi, dialog, silaturahmi antar kompenen bangsa. Sebab pembelahan politik dan hal yang mengganjal antar komponen bangsa perlu direkonsiliasi melalui semangat Idulfitri, sehingga ada titik temu.
“Semangat bhinneka tunggal ika yang mengikat dalam keragaman harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga dengan semangat untuk bersatu akan membawa Indonesia menjadi negara yang berkemajuan,” paparnya.
Haedar juga menyampaikan pentingnya mengangkat ekonomi masyarakat melalui Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menyangkut rakyat banyak untuk menjadi gerakan nasional. Dengan demikian pengalaman Ganjar untuk menggerakan UMKM agar naik kelas bisa terus terwujud.
Baca Juga:Sowan ke PP Muhammadiyah, Ganjar-Haedar Bahas UMKM sampai Politik Pertanian
Apalagi UMKM dapat menjadi bagian integral dalam kebijakan ekonomoi nasional yang membawa pada perubahan signifikan dalam memajukan masyarakat. Muhammadiyah sendiri mempunyai pengalaman dalam memajukan UMKM. Diantaranya melalui amal usaha Aisyiyah, Majelis Pembersayaan Masyarakat, dan Majelis Ekonomi menggerakan UMKM.
"Sehingga ada titik yang sama dalam memperkuat ekonomi keuamatan,” paparnya.
Haedar menambahkan, dalam pertemuan tersebut mereka juga membahas peran agama dalam kehidupan kebangsaan. Indonesia yag berdasar Pancasila, sila pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dan dalam konstitusi dasar pasal 29 UUD 1945 dan agama harus diakui sebagai bagian integral konstitusional.
Umat beragama merupakan bagian penting bagi kehidupan bangsa dan negara. Agama dan umat beragama bukan ancaman bagi siapa pun, apalagi bagi bangsa dan negara.
"Dalam dinamika kehidupan keagamaan dan kebangsaan selalu ada masalah, kita punya pengalaman sebagai bangsa yang mempunyai titik temu, dan dialog,” jelasnya.
Peran Muhammadiyah dalam membangun AUM sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa juga menjadi pembicaraan penting.
Muhammadiyah dan Indonesia dengan berbagai tantangan ke depan, lanjut Haedar memperlukan SDM insani yang kompetitif, sarana prasarana yang objektif dan berkemajuan, birokrasi yang good governance, reformasi birokrasi terus digalakkan.
Karenanya pemerintah dengan birokrasinya harus bisa bersikap adil mengayomi semua komponen bangsa dan negara. Diantaranya dengan sistem pemerintahan demokratis.
"Pemerintah harus bisa adil bagi semua golongan bangsa dan menjadi kekuatan penting bagi Indonesia ke depan,” tandasnya.
Sementara Ganjar mengunhkapkan, dalam pertemuan tersebut banyak mendapatkan masukan terkait dengan menggerakan ekonomi dengan kekuatan bangsa, khususnya dari anak-anak kandung Indonesia sendiri. Terlepas dari berbagai persoalan komoditas pertanian seperti bawang, kedelai, garam, dan lainnya.
“Itu menjadi cita-cita yang bagus. Tentu apa pun mesti yang dituju ialah sila kelima Pancasila, keadilan sosial itu sendiri yang mesti diarah. Itu butuh partisipasi seluruh anak bangsa sehingga butuh persatuan,” imbuhnya.