Kenaikan Harga BBM Tak Terhindarkan, Pengamat: 20 Persen APBN Kita Terkunci untuk Subsidi dan Ini Tidak Sehat

Kenaikan harga BBM Bersubsidi ini bisa jadi momentum untuk mengalihkan APBN untuk sektor yang lebih tepat

Galih Priatmojo
Sabtu, 03 September 2022 | 16:39 WIB
Kenaikan Harga BBM Tak Terhindarkan, Pengamat: 20 Persen APBN Kita Terkunci untuk Subsidi dan Ini Tidak Sehat
Ilustrasi SPBU - Harga BBM Hari IniĀ (Shutterstock)

SuaraJogja.id - Pengamat Isu Strategis Imron Cotan memandang kebijakan menaikkan harga BBM menjadi momentum untuk memaksimalkan pemanfaatan energi bersih dan juga mengalihkan APBN untuk sektor yang lebih tepat sasaran.

"Momentum strategis ini harus dimanfaatkan untuk mengalihkan atau setidak-tidaknya membaurkannya dengan energi terbarukan, menuju pada secara total menggunakan energi baru dan terbarukan," ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang berfokus untuk bisa lebih memanfaatkan dengan maksimal penggunaan energi baru terbarukan.

Maka dari itu, kata Imron, efisiensi APBN harus bisa dilakukan dengan sebaik mungkin, salah satunya melakukan penyesuaian harga BBM dan difokuskan hanya untuk masyarakat yang membutuhkan saja lantaran selama ini sekitar 20 persen APBN yang terkunci untuk pemberian subsidi yang tidak sehat karena tak tepat sasaran. 

Baca Juga:Pemerintah Resmi Naikkan Harga BBM Bersubsidi, Politisi PKS: Naik Berarti Jahat kepada Rakyat

"Kurang lebih 20 persen dari APBN kita itu terkunci untuk subsidi dan itu tidak sehat karena yang selama ini terjadi tidak tepat sasaran," ucapnya. 

Lebih lanjut ia menyarankan agar pemerintah melakukan penajaman subsidi agar APBN tidak tertekan. Jika hal itu tidak segera dilakukan justru kecukupan anggaran akan habis pada bulan ini. 

"Ini penajaman penggunaan subsidi, sehingga APBN kita tidak tertekan yang mana sekarang ada Rp502 triliun sudah disisihkan dan September ini akan habis. Kalau diteruskan di September, kita harus nambah lagi Rp198 triliun," terang Imron.

Tak hanya itu saja, ia menuturkan bahwa penggunaan minyak dengan berbahan fosil di sisi lain juga memiliki dampak buruk. Menurut pria yang pernah menjabat sebagai duta besar Indonesia itu menilai grafik harga minyak dunia terus mengalami peningkatan sejak 50 tahun terakhir.

Di sisi lain, keberadaan energi berbahan fosil sangatlah terbatas jika terus menerus dieksploitasi dan mampu memproduksi karbon dioksida yang meracuni.

Baca Juga:Habis Kena Prank, Kali Ini Masyarakat Kecolongan BBM Naik, Ini Daftar Harganya di Batam!

Apalagi pemerintah Indonesia memiliki target supaya bisa melakukan 30 persen reduksi emisi karbon untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Jika APBN terus terkunci hanya untuk memberikan subsidi BBM, maka upaya mereduksi emisi itu akan sulit tercapai.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak