Unsur Perundungan Ditemukan di 30 SMA/SMK, DIY Bakal Terapkan Literasi Digital Komunikasi Hati

Literasi dilakukan dengan mengadopsi literasi Tular Nalar yaitu Tahu, Tanggap, dan Tangguh.

Muhammad Ilham Baktora
Selasa, 29 Oktober 2024 | 17:57 WIB
Unsur Perundungan Ditemukan di 30 SMA/SMK, DIY Bakal Terapkan Literasi Digital Komunikasi Hati
Ketua tim peneliti Model Literasi Digital Komunikasi Hati, Puji Lestari menyampaikan paparan dalam diskusi di SMA Gama Yogyakarta, Selasa (29/10/2024). [Kontributor Suarajogja.id/Putu]

SuaraJogja.id - Kasus perundungan nampaknya jadi masalah serius yang terjadi di DIY. Dari hasil survei yang dilakukan Tim peneliti Model Literasi Digital Komunikasi Hati UPNVY bersama Balai Tekomdik Disdikpora DIY di 30 Smart School tingkat SMA/SMK di DIY, ditemukan unsur perundungan terjadi di semua sekolah dengan tingkatan yang berbeda-beda.

"Hasil survei menunjukkan bahwa unsur bullying [perundungan] masih ada di setiap sekolah walaupun sekolah-sekolah itu termasuk favorit, ternyata kasus bullying tetap ada," ujar ketua tim peneliti Model Literasi Digital Komunikasi Hati, Puji Lestari disela diskusi Teori Komunikasi Hati di Yogyakarta, Selasa (29/10/2024).

Kondisi serupa, menurut Puji dimungkinkan tak hanya terjadi di tingkat SMA/SMK namun juga di jenjang pendidikan lainnya. Perundungan tak hanya dilakukan secara langsung oleh peserta didik namun juga lewat unggahan di sosial media (sosmed).

Unggahan berisi komentar berisi hinaan, cacian, makian, bahkan ancaman menjadi hal yang sangat mudah ditemui di sosmed. Bahkan tidak sedikit kasus remaja bunuh diri bahkan sakit mental sebagai dampak dari cyberbullying.

Baca Juga:Tegas, Sultan Minta Toko Miras Ilegal di Jogja Ditutup, Penjualan Online Jadi Sorotan

"Saya juga melihat ada siswa yang sampai menyakiti dirinya dengan silet karena dibully dan tidak punya teman untuk curhat. Ini sangat mengkhawatirkan," jelasnya.

Karenanya tim peneliti yang dapat hibah penelitian Terapan DRTPM Dikti tersebut diminta Disdikpora DIY untuk menerapkan pilot project model literasi digital dengan pendekatan komunikasi hati kepada salah satu sekolah di Yogyakarta. Mereka melakukan analisis terhadap kebutuhan sekolah terkait literasi digital dengan pendekatan komunikasi hati.

Literasi dilakukan dengan mengadopsi literasi Tular Nalar yaitu Tahu, Tanggap, dan Tangguh menggunakan media digital dengan pendekatan komunikasi hati, olah pikir mengarahkan pikiran ke arah positif, olah rasa mengubah perasaan negatif menjadi energi positif, buang sampah hati dengan segera melupakan hal-hal buruk dan menghilangkan rasa iri, benci, dendam dengan ikhlas menerima apa adanya. Ciptakan simpati dan empati, hasilnya hidup damai dan bahagia.

Model literasi ini melibatkan guru Bimbingan Konseling (BK), guru wali kelas, dan admin sekolah yang bisa memasukkan naskah digital berupa cerita, video, atau film tentang komunikasi hati ke dalam sistem aplikasi. Kemudian para siswa diberi kesempatan membaca atau menonton, dan selanjutnya menuliskan refleksi di kolom yang disediakan di sistem lalu mengerjakan kuis.

Hal ini ditujukan untuk mengevaluasi pendekatan komunikasi hati yang diterapkan melalui cerita dan refleksi bisa mengurangi tingkat perundungan dalam tiga tingkatan seperti Tahu, Tanggap, dan Tangguh.

Baca Juga:Penusukan di Prawirotaman Diduga Berasal dari Miras, Santri Desak Peredarannya Dikendalikan

Setiap hari, admin bisa memonitor jawaban siswa dalam literasi digital komunikasi hati untuk mengetahui sejauh mana siswa tahu komunikasi hati, tanggap dalam mengambil sikap dengan pendekatan komunikasi hati, atau sudah tangguh menerapkan komunikasi hati secara konsisten, bahkan mengajak teman lain untuk bersikap serupa.

Hasilnya cukup mencengangkan. Karena dari survei awal menunjukkan adanya pengaruh tingkat literasi digital komunikasi hati terhadap penurunan angka perundungan hingga 25 persen di sekolah tersebut.

"Meski hanya 25 persen, angka ini tetap penting karena adanya penurunan angka bullying, meskipun faktor lain seperti pola asuh orang tua juga mempengaruhi," sebut dia.

Atas keberhasilan tersebut, lanjut Puji, Disdikpora berencana akan menerapkan konsep komunikasi hati dalam aplikasi tersebut di 30 Smart School pada tahun depan. Diharapkan konsep pembelajaran tersebut akan diterapkan ke sekolah-sekolah lain untuk mengurangi angka perundungan di lembaga pendidikan DIY.

"Kami akan menerapkan aplikasi bertahap ke sekolah lain, termasuk ke-30 sekolah Smart School pada tahun depan sesuai permintaan Disdikpora," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak