- Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai Indonesia menghadapi krisis keteladanan serius akibat perilaku elit.
- Muhammadiyah mendesak para elit bangsa dan tokoh agama merefleksikan Isra Mi'raj untuk menampilkan keteladanan otentik.
- Keteladanan otentik yang bersumber dari Nabi Muhammad diharapkan dapat mencegah perilaku buruk seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
SuaraJogja.id - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai Indonesia tengah mengalami krisis keteladanan yang serius.
Kondisi tersebut dinilai tercermin dari perilaku sebagian elit bangsa dan tokoh agama yang kerap tidak selaras antara ajaran yang disampaikan dengan tindakan yang ditampilkan di ruang publik.
Karenanya di momen peringatan Isra Mi’raj ini, Muhammadiyah mendesak para elit melakukan refleksi mendalam untuk menghadirkan keteladanan yang otentik, bukan sekadar perayaan seremonial tahunan.
"Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj untuk belajar terus menerus menampilkan [keteladanan] yang otentik," papar Haedar dalam Refleksi Isra Mi’raj 1447 Hijriah di Yogyakarta, Jumat (16/1/2026).
Baca Juga:Peringatan 80 Tahun Indonesia Merdeka, Wajah Penindasan Muncul jadi Ancaman Bangsa
Haedar meminta pemimpin bangsa menjadikan Isra Mi’raj jadi cermin untuk berkata dan bertindak yang seksama. Dengan demikian warga bangsa menaruh hormat dan percaya, serta membangun ‘rasa’ memiliki teladan dari pemimpin mereka.
Sementara bagi elit agamawan, Haedar mengajak supaya selaras antara ajaran dengan tindakan. Pada elit agamawan, ajaran-ajaran luhur agama tidak boleh retak dengan tindakan sebab akan merusak kepercayaan.
Kegersangan teladan di tubuh bangsa ini harus diteduhkan, dan tugas para elit setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga. Maka keteladanan otentik bersumber dari Nabi Muhammad sebagai barometernya.
"Jika peran suasana itu dijalankan, maka kehadiran para tokoh di berbagai level akan menjadi semacam oase bagi masyarakat luas yang haus akan keteladanan," tandasnya.
Haedar menambahkan, Isra Mi’raj tak boleh lepas konteks dan hanya jadi perayaan semata. Namun lebih dari itu perlu diaktualisasi untuk kehidupan kebangsaan dan spiritualitas pribadi yang lebih salih.
Baca Juga:Krisis Keteladanan Pemimpin: Muhammadiyah Tawarkan Solusi di HUT RI ke-80
Oleh karena itu, dari peristiwa Isra Mi’raj dapat dijadikan kesempatan untuk membangun relasi ketuhanan oleh warga dan pemimpin bangsa. Selain itu menguatkan tauhid, iman, dan takwa sehingga membangkitkan jiwa salih.
Kesalihan diri diharapkan Haedar menjadi rambu-rambu penghalang bagi manusia ketika muncul hasrat berbuat buruk seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berbuat jahat, perilaku buruk, berkata kasar dan perbuatan tak pantas lainnya.
"Itu harus menjadi kerangka yang tidak boleh kita lakukan, karena kita memiliki iman, takwa, dan tauhid kepada Allah. Bahkan dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah," ungkapnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi