- Pakar kegempaan UGM, Dwikorita Karnawati, menyatakan zona megathrust selatan Jawa telah memasuki fase 30 tahun terakhir siklus 200 tahunan.
- Pembangunan Bandara Yogyakarta International Airport dirancang sebagai infrastruktur mitigasi bencana gempa bermagnitudo 8,7 serta tempat evakuasi tsunami.
- Pemerintah daerah perlu terus melakukan edukasi kebencanaan berkelanjutan kepada masyarakat dan aparatur demi menjaga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
SuaraJogja.id - Ancaman gempa besar dari zona megathrust di selatan Pulau Jawa kembali menjadi perhatian para ahli kebencanaan. Pakar kegempaan dari UGM, Dwikorita Karnawati mengingatkan berdasarkan kajian ilmiah, siklus gempa besar yang memiliki periode sekitar 200 tahun tersebut saat ini diperkirakan telah memasuki fase sekitar 30 tahun terakhir dari siklus tersebut.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini bukan prediksi, tetapi penelitian ilmiah. Penelitian ini penting sebagai dasar kita melakukan mitigasi bencana," ujar Dwikorita dalam pertemuan ilmiah kebencanaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (6/5/2026).
Mantan Kepala BMKG itu menyebutkan temuan tersebut bukanlah prediksi pasti kapan gempa akan terjadi. Namun hasil penelitian ilmiah yang menjadi dasar penting untuk memperkuat upaya mitigasi bencana.
Menurutnya, sejumlah segmen sumber gempa megathrust di Indonesia sebenarnya diperkirakan sudah memasuki periode ulang sekitar 200 tahun. Namun hingga kini belum terjadi pelepasan energi dalam bentuk gempa besar.
Baca Juga:Petani Jogja Makin Terjepit! Biaya Angkut dan Karung Mahal Gegara BBM Naik, Kesejahteraan Merosot
Beberapa lokasi yang disebut para pakar antara lain berada di sekitar Pulau Siberut, Selat Sunda bagian selatan, serta wilayah selatan Jawa termasuk selatan DIY.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting. Dwikorita menilai langkah Pemerintah Daerah DIY dalam memperkuat mitigasi bencana patut diapresiasi.
Salah satu contohnya adalah pembangunan Yogyakarta International Airport yang dirancang tidak hanya sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana.
Bandara tersebut didesain mampu menahan guncangan gempa hingga magnitudo 8,7, yang menjadi skenario terburuk dari potensi gempa megathrust di wilayah selatan Jawa.
"Kita melakukan studi banding ke Jepang, termasuk ke Sendai yang juga pernah mengalami gempa megathrust. Bandaranya memang mengalami kerusakan, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa karena sistem mitigasinya sudah disiapkan," jelasnya.
Baca Juga:Diduga Keracunan Makanan Pamitan Haji, 43 Warga Sleman Alami Diare dan Demam

Selain tahan gempa, kawasan bandara juga dirancang sebagai lokasi evakuasi apabila terjadi tsunami. Perhitungan para ahli menunjukkan potensi ketinggian tsunami di wilayah tersebut bisa mencapai lebih dari 10 meter.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, area bandara ditinggikan dengan timbunan tanah sekitar 7 hingga 10 meter. Jika tsunami terjadi, kemungkinan genangan hanya akan terjadi di lantai dasar, sementara area mezzanine dan lantai dua dirancang sebagai tempat evakuasi.
Dwikorita menambahkan lantai atas terminal bandara mampu menampung sekitar 10 ribu orang, sementara fasilitas crisis center di area menara bandara dapat menampung sekitar 2 ribu orang.
Tidak hanya infrastruktur, sistem peringatan dini juga telah dipasang di kawasan bandara. Sirine dipasang di jalur underpass dan dilengkapi pintu palang otomatis yang akan menutup jika terjadi gempa, sehingga kendaraan tidak masuk ke area berisiko.
"Bandara ini juga menjadi tempat evakuasi bagi masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikatakan menjadi salah satu bandara di kawasan ASEAN yang sudah mempersiapkan skenario megathrust," paparnya.
Dwikorita menilai kesiapsiagaan di DIY cukup baik, baik dari sisi pemerintah daerah maupun masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dinilai aktif melakukan pelatihan kesiapsiagaan, termasuk simulasi evakuasi secara berkala.