- Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026 memicu pergeseran konsumsi masyarakat ke Pertalite di Yogyakarta.
- Pekerja dengan mobilitas tinggi beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran harian karena tidak adanya kenaikan gaji saat ini.
- Pertamina Patra Niaga meningkatkan pasokan stok Pertalite di wilayah Yogyakarta sebesar 18 persen guna mengantisipasi lonjakan permintaan konsumen tersebut.
SuaraJogja.id - Kenaikan harga Pertamax (RON 92) dalam dua minggu terakhir mulai memicu pergeseran perilaku konsumsi bahan bakar di DIY. Sejumlah pengguna kendaraan yang sebelumnya rutin memakai Pertamax kini beralih ke Pertalite untuk menekan pengeluaran harian, terutama mereka yang memiliki mobilitas tinggi.
Sebab perubahan harga dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter mulai dirasakan oleh pengguna kendaraan. Salah satunya Verly (32), seorang pekerja di bidang kesehatan yang setiap hari melakukan mobilitas tinggi untuk pengantaran obat di wilayah Jogja–Klaten.
Verly mengaku sebelumnya menggunakan Pertamax karena mempertimbangkan performa mesin dan efisiensi perjalanan. Dalam sehari, ia bisa menempuh rute Jogja–Klaten dengan konsumsi bahan bakar sekitar 2 hingga 4 liter.
Namun setelah harga BBM non subsidi mengalami kenaikan, ia terpaksa beralih menggunakan Pertalite untuk menekan biaya operasional.
Baca Juga:Dampak Kasus Korupsi Pertamax Oplosan, Penjualan Pertamax RON 92 di Gunungkidul Masih Lesu
"Dulu saya pakai Pertamax karena sering bolak-balik antar obat. Sehari bisa Jogja–Klaten, habis sekitar 2 sampai 4 liter. Tapi sekarang karena harga naik sementara gaji tidak ikut naik, mau tidak mau saya pindah ke Pertalite," kata Verly di Yogyakarta, Jumat (19/6/2026).
Ia mengaku keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi keuangan sehari-hari. Menurutnya, jika tetap memaksakan penggunaan Pertamax, maka pengeluaran bahan bakar akan menggerus pos kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Apalagi di tengah kenaikan harga BBM dan bahan pokok, para pekerja tidak mengalami kenaikan gaji. Karenanya kalau dipaksakan menggunakan Pertamax untuk mobilitas, maka dia harus mengorbankan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari lainnya
"Kalau dipaksakan tetap pakai Pertamax, bisa rugi di pengeluaran lain. Jadi harus menyesuaikan," ujarnya.
Meski demikian, Verly menyimpan kekhawatiran terkait dampak jangka panjang terhadap kendaraan yang digunakannya, yang memiliki kapasitas mesin 160 cc. Padahal mobilitasnya cukup tinggi setiap harinya.
Baca Juga:Membengkak Rp 90 Triliun, Pakar Energi UGM Sebut Subsidi Pertalite Harus Tepat Sasaran
"Cuma ya tetap ada khawatir juga, motor 160 cc ini kalau terus pakai Pertalite apa tidak lebih cepat berpengaruh ke mesin," ujarnya.
Di tengah perubahan pola konsumsi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah meningkatkan pasokan Pertalite di wilayah DIY hingga 18 persen. Selain mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode libur sekolah sekaligus dampak peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi.
Penambahan stok dilakukan di seluruh SPBU untuk memastikan ketersediaan energi tetap aman di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat, terutama di sektor pariwisata dan transportasi.
Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Jateng–DIY, Taufiq Kurniawan menyampaikan DIY merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi BBM yang sensitif terhadap pergerakan harga.
"Hal ini mengingat tingginya aktivitas wisata dan mobilitas harian masyarakat di jogja," ujarnya.
Selain faktor musiman libur sekolah, lanjut Taufiq, tren kenaikan konsumsi juga dipengaruhi dinamika ekonomi rumah tangga setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026 lalu.