Sentil Wacana Gaji Kepala Daerah Naik, JCW: Politik Mahal Tak Disentuh, Rakyat yang Menanggung

JCW kritik wacana kenaikan gaji kepala daerah di tengah tekanan ekonomi. Kenaikan gaji bukan jaminan cegah korupsi yang akarnya ada pada tingginya biaya politik.

Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:17 WIB
Sentil Wacana Gaji Kepala Daerah Naik, JCW: Politik Mahal Tak Disentuh, Rakyat yang Menanggung
Ilustrasi Gaji kepala daerah diisukan akan naik. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Aktivis JCW Baharuddin Kamba mengkritik wacana kenaikan gaji kepala daerah pada Senin (3/8/2026) karena kondisi ekonomi masyarakat masih tertekan.
  • Ia menyatakan kenaikan gaji tidak menjamin hilangnya korupsi karena akar masalahnya adalah biaya politik tinggi dan sistem rekrutmen yang buruk.
  • Kebijakan tersebut dinilai dapat memicu efek domino berupa kenaikan gaji legislatif dan menambah beban keuangan negara di tengah keterbatasan anggaran.

SuaraJogja.id - Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba melontarkan kritik keras terhadap wacana kenaikan gaji kepala daerah. Ia menegaskan kenaikan gaji kepala daerah tidak boleh diputuskan secara tergesa-gesa. 

Menurutnya, pemerintah harus lebih dahulu menghitung kemampuan keuangan negara maupun daerah. Terlebih kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih tertekan.

Belum lagi soal gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), meningkatnya angka pengangguran, dan rentetan operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),

"Wacana kenaikan gaji kepala daerah harus dikaji secara matang termasuk juga mempertimbangkan kemampuan keuangan negara atau daerah," kata Kamba kepada Suara.com, Senin (3/8/2026).

Baca Juga:Praperadilan Dikabulkan, Penetapan Tersangka Raudi Akmal Dinyatakan Cacat Hukum

Kamba menilai alasan menaikkan gaji demi mencegah korupsi terlalu menyederhanakan persoalan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026 saja, belasan kepala daerah sudah dicokok KPK melalui OTT. 

Di antaranya Wali Kota Madiun Maidi, Bupati Pati Sudewo, hingga yang terbaru Bupati Pemalang Anom Widyantoro. Fakta tersebut menunjukkan praktik korupsi kepala daerah tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah penghasilan pejabat.

"Sehingga tidak ada jaminan ketika kenaikan gaji kepala daerah direalisasikan, maka tidak ada lagi kepala daerah yang melakukan korupsi," tegasnya.

Ditegaskan Kamba, akar persoalan justru berada pada tingginya biaya politik dan minimnya pembenahan sistem rekrutmen politik oleh partai. Selama persoalan itu dibiarkan, kenaikan gaji hanya menjadi kebijakan populis yang tidak menyentuh sumber masalah.

Alih-alih memperkuat integritas, kebijakan tersebut dikhawatirkan hanya menambah beban fiskal tanpa memberi efek nyata terhadap pemberantasan korupsi.

Baca Juga:Siswa Non Muslim di Jogja Diperlakukan Diskriminatif Saat Pelajaran Agama, Tak Punya Ruangan Tetap

Di sisi lain, pemerintah berdalih PP Nomor 109 Tahun 2000 yang mengatur gaji kepala daerah sudah berusia 26 tahun sehingga perlu diperbarui. 

Namun, JCW mengingatkan revisi aturan tersebut harus mempertimbangkan skala prioritas. Sebab, pada saat yang sama pemerintah berkali-kali menyebut keterbatasan anggaran sebagai alasan belum menaikkan kesejahteraan guru, termasuk guru honorer.

"Jika wacana kenaikan gaji kepala daerah direalisasikan maka sangat mungkin kalangan legislatif juga akan meminta kenaikan gaji. Tentunya keuangan negara akan mengalami boncos," ujarnya.

Kamba memperingatkan, kenaikan gaji kepala daerah juga berpotensi memicu efek domino. Jika tuntutan serupa datang dari anggota legislatif, beban keuangan negara akan semakin besar. 

Oleh sebab itu, ia meminta pemerintah tidak sekadar memperbarui aturan yang telah berusia puluhan tahun. Namun tudut memastikan setiap kebijakan anggaran berpihak pada kepentingan publik bukan justru mendahulukan kesejahteraan elite politik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini