Ironi Pariwisata Jogja, Kampus Sepi Peminat, Industri Justru Kekurangan SDM Kompeten

Minat warga lokal DIY kuliah pariwisata kian menurun, meski industri hospitality butuh banyak SDM. Akibatnya, banyak lowongan diisi tenaga kerja luar daerah.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 17 September 2026 | 14:52 WIB
Ironi Pariwisata Jogja, Kampus Sepi Peminat, Industri Justru Kekurangan SDM Kompeten
Mahasiswa pariwisata menampilkan tarian sebagai bagian kompetensi di Stipram Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).[Suarajogja/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menyampaikan keprihatinannya pada Kamis (17/9/2026) karena warga lokal minim minat kuliah di bidang pariwisata.
  • Dampak dari rendahnya minat pendidikan tersebut adalah lowongan kerja industri pariwisata DIY akhirnya banyak diisi oleh tenaga luar daerah.
  • Ketua LLDIKTI DIY Setyabudi Indartono menyatakan lulusan pariwisata wajib meningkatkan kompetensi untuk menghadapi perubahan teknologi dan persaingan global.

SuaraJogja.id - Sektor pariwisata Jogja tengah menghadapi persoalan serius. Di tengah perkembangan destinasi, wisatawan terus diburu, hotel dan industri hospitality membutuhkan banyak tenaga kerja, namun masyarakat lokal justru semakin minim berminat menempuh pendidikan pariwisata.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono bahkan mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Sebab kebutuhan industri terhadap sumber daya manusia (SDM) pariwisata justru sangat besar.

"Yang menjadi keprihatinan kita PHRI DIY, justru warga DIY itu sedikit yang kuliah di pariwisata. Padahal kita membutuhkan warga DIY sesuai dengan instruksi Ngarsa Dalem (Gubernur DIY-red)," ujar Deddy disela wisuda Stipram di Yogyakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurut Deddy, persoalan tersebut terlihat dari menurunnya minat mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi pariwisata di DIY. Selain dampak ekonomi dan kuota mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terus bertambah, jumlah mahasiswa baru asal Yogyakarta di sejumlah kampus pariwisata di DIY juga terus berkurang. 

Baca Juga:Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah

Padahal kampus pariwisata selama ini menjadi bagian dari ekosistem sektor pariwisata di DIY. Namun ironisnya, ketika kampus pariwisata kekurangan mahasiswa, industri pariwisata DIY tetap membutuhkan tenaga kerja. 

Akibat minimnya lulusan lokal, lowongan pekerjaan di sektor pariwisata akhirnya banyak diisi tenaga kerja dari luar daerah.

"Makanya kita [industri pariwisata] buka lowongan yang kebanyakan ya lowongan dari orang luar," ungkapnya.

Deddy menilai persoalan ini tidak bisa dipandang sekadar sebagai masalah perguruan tinggi yang kehilangan mahasiswa. Bagi PHRI, dampaknya menyentuh langsung keberlangsungan industri pariwisata di Yogyakarta.

Apalagi pariwisata kota ini membutuhkan SDM yang tidak hanya mampu bekerja di hotel, restoran, maupun sektor hospitality. Mereka juga harus memahami karakter Yogyakarta sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Baca Juga:Indonesia Dikepung Lima Bencana, Jusuf Kalla Sebut Lingkungan Rusak oleh Kita Sendiri

"Namun, ketika minat warga lokal untuk bersekolah di bidang pariwisata minim, kebutuhan tersebut sulit dipenuhi dari dalam daerah. Dampaknya itu kan enggak bisa sinkron," tandasnya.

Deddy menyebut, PHRI tidak mempersoalkan pekerja dari luar daerah selama mereka memiliki kompetensi dan mampu memberikan pelayanan hospitality dengan baik. Namun masalah justru muncul ketika masyarakat lokal tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri.

"Kalau pandangan PHRI ya selama hospitality-nya baik, enggak akan berdampak. Tapi yang berdampak itu adalah tenaga kerja lokal yang minim," jelasnya.

Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi membuat tenaga kerja lokal kehilangan kesempatan. Sebab mereka tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan industri.

Karena itu, menurut Deddy, pendidikan pariwisata tidak boleh berhenti pada teori. Perguruan tinggi harus memastikan lulusannya benar-benar siap masuk ke industri.

"Jadi tenaga kerjanya banyak yang nganggur karena tidak banyak yang kompeten," ungkapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak