- Mantan pengguna berinisial R di Yogyakarta mengaku mudah memperoleh obat keras sejak SMP melalui jaringan pertemanan dan resep dokter.
- Penyalahgunaan obat keras tersebut menyebabkan R mengalami halusinasi, gangguan tidur, hingga hilangnya daya ingat jangka panjang.
- R berhasil lepas dari ketergantungan narkotika setelah meninggalkan lingkungan pergaulan lama dan menyibukkan diri dalam kegiatan positif.
Meski telah berhenti mengonsumsi obat selama lebih dari satu dekade, R menyatakan dampaknya masih terasa hingga sekarang. Dia sering merasa blank atau tidak ingat apapun dalam sekejap.

"Sekarang sudah lebih dari 10 tahun berhenti, tapi kadang otak masih sering blank, susah konsentrasi, tiba-tiba pikiran hilang nyambung," ujarnya.
Ia menyebut proses lepas dari ketergantungan bukan perkara mudah. Saat kuliah, dia banyak memiliki kegiatan di kampus dan komunitas seni sehingga tidak bertemu teman-temannya untuk mengkonsumsi obat keras.
Selain itu dia diajak bertemu salah satu pemuka agama. Di rumah sang kyai, dia diingatkan bahaya narkotika dan dilarang untuk terus mengkonsumsinya.
Baca Juga:Jangan Asal Foto! Pemkot Jogja Bongkar Masalah di Balik Plang Malioboro Portable
"Saya diingatkan kesadaran hati saya bagaimana sedihnya ibu dan bagaimana hancurnya masa depan kalau saya masih saja mengkonsumsi narkoba," paparnya.
Menurutnya, langkah paling penting adalah keluar dari lingkungan pergaulan yang mendorong penyalahgunaan obat. R juga fokus pada kegiatan positif seperti seni.
"Kalau tidak keluar dari lingkungan itu, sangat sulit sembuh. Saya bisa lepas karena mulai sibuk di kegiatan seni dan kuliah, sehingga pelan-pelan menjauh dari teman-teman yang masih memakai," katanya.
Ia berharap pengalamannya menjadi pelajaran bagi remaja lain agar tidak mencoba obat keras meski hanya karena ajakan teman. Menurutnya, efek sesaat yang dianggap menyenangkan tidak sebanding dengan dampak jangka panjang yang harus ditanggung.
"Penyesalannya panjang. Dampaknya masih saya rasakan sampai sekarang. Bahkan saat saya sudah tidak pakai saja kadang masih ditawari," imbuhnya.
Baca Juga:Pasca Ramai Dugaan Diskriminasi Siswa, Disdikpora DIY Wajibkan Sekolah Sediakan Ruang Belajar Agama
Kontributor : Putu Ayu Palupi