Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja

Mantan pengguna narkoba di Yogyakarta ungkap mudahnya dapat obat keras sejak SMP via teman dan resep dokter palsu. Dampaknya sebabkan hilang ingatan hingga kini.

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 04 Agustus 2026 | 15:45 WIB
Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
Ilustrasi obat keras berbahaya. [Ist]
Baca 10 detik
  • Mantan pengguna berinisial R di Yogyakarta mengaku mudah memperoleh obat keras sejak SMP melalui jaringan pertemanan dan resep dokter.
  • Penyalahgunaan obat keras tersebut menyebabkan R mengalami halusinasi, gangguan tidur, hingga hilangnya daya ingat jangka panjang.
  • R berhasil lepas dari ketergantungan narkotika setelah meninggalkan lingkungan pergaulan lama dan menyibukkan diri dalam kegiatan positif.

Meski telah berhenti mengonsumsi obat selama lebih dari satu dekade, R menyatakan dampaknya masih terasa hingga sekarang. Dia sering merasa blank atau tidak ingat apapun dalam sekejap.

Tangan R yang masih sering gemetar meski sudah berhenti menggunakan narkotika, Selasa (4/8/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Tangan R yang masih sering gemetar meski sudah berhenti menggunakan narkotika, Selasa (4/8/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)

"Sekarang sudah lebih dari 10 tahun berhenti, tapi kadang otak masih sering blank, susah konsentrasi, tiba-tiba pikiran hilang nyambung," ujarnya.

Ia menyebut proses lepas dari ketergantungan bukan perkara mudah. Saat kuliah, dia banyak memiliki kegiatan di kampus dan komunitas seni sehingga tidak bertemu teman-temannya untuk mengkonsumsi obat keras.

Selain itu dia diajak bertemu salah satu pemuka agama. Di rumah sang kyai, dia diingatkan bahaya narkotika dan dilarang untuk terus mengkonsumsinya.

Baca Juga:Jangan Asal Foto! Pemkot Jogja Bongkar Masalah di Balik Plang Malioboro Portable

"Saya diingatkan kesadaran hati saya bagaimana sedihnya ibu dan bagaimana hancurnya masa depan kalau saya masih saja mengkonsumsi narkoba," paparnya.

Menurutnya, langkah paling penting adalah keluar dari lingkungan pergaulan yang mendorong penyalahgunaan obat. R juga fokus pada kegiatan positif seperti seni.

"Kalau tidak keluar dari lingkungan itu, sangat sulit sembuh. Saya bisa lepas karena mulai sibuk di kegiatan seni dan kuliah, sehingga pelan-pelan menjauh dari teman-teman yang masih memakai," katanya.

Ia berharap pengalamannya menjadi pelajaran bagi remaja lain agar tidak mencoba obat keras meski hanya karena ajakan teman. Menurutnya, efek sesaat yang dianggap menyenangkan tidak sebanding dengan dampak jangka panjang yang harus ditanggung.

"Penyesalannya panjang. Dampaknya masih saya rasakan sampai sekarang. Bahkan saat saya sudah tidak pakai saja kadang masih ditawari," imbuhnya.

Baca Juga:Pasca Ramai Dugaan Diskriminasi Siswa, Disdikpora DIY Wajibkan Sekolah Sediakan Ruang Belajar Agama

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak