- Dua tersangka memproduksi dan memperjualbelikan sekitar 20 video pornografi di Bogor sejak Juli 2026 melalui media sosial dengan tarif Rp150 ribu.
- Praktik ilegal tersebut menghasilkan keuntungan sekitar Rp19 juta karena memanfaatkan kehidupan privat sebagai komoditas ekonomi dan etalase digital.
- Viralitas di media sosial akhirnya membongkar kasus tersebut dan menarik perhatian aparat penegak hukum di Yogyakarta pada Rabu (23/9/2026).
SuaraJogja.id - Video A Day in My Life tengah viral di media sosial (medsos). Video bermuatan pornografi tentang kehidupan sehari-hari di Bogor tersebut berubah menjadi komoditas dan digunakan sebagai etalase untuk mengarahkan penonton menuju konten berbayar.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi melihat fenomena tersebut sebagai pertemuan antara ekonomi perhatian, komodifikasi keintiman, dan mekanisme platform digital. Bahkan kasus tersebut menunjukkan perhatian pengguna dapat dikonversi menjadi transaksi digital.
"Ruang digital memang mengubah banyak hal yang dulu bersifat personal menjadi komoditas," ujar Fajar di Yogyakarta, Rabu (23/9/2026).
Dugaan pornografi yang menyeret dua tersangka yang sudah memproduksi sekitar 20 video bermuatan pornografi sejak Juli 2026 dan diperjualbelikan melalui grup media sosial dengan tarif Rp150 ribu, menurut Fajar mengubah kehidupan privat dapat dikemas menjadi tontonan yang memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga:Penembakan di Lapangan Minggiran Yogyakarta: Tuduhan Curi Senar Layangan Berujung Petaka
Apalagi dari praktik itu, keduanya disebut memperoleh keuntungan sekitar Rp19 juta. Video tersebut memiliki kekuatan karena menciptakan kesan autentik.
"Penonton seolah diajak masuk ke kehidupan personal pembuat konten," jelasnya.
Ketika format tersebut diproduksi secara sadar untuk kepentingan komersial, lanjut Fajar, ruang privat kemudian dinegosiasikan menjadi sebuah produk yang bernilai jual. Bukan tanpa sebab, bisnis konten digital tidak berdiri hanya karena adanya pembuat konten.
Ada tiga unsur yang saling berkaitan hingga berkembang seperti saat ini. Tak hanya permintaan pasar yang besar, infrastruktur platform serta strategi kreator dalam mengubah perhatian menjadi transaksi
Dalam pola tersebut, medsos dapat berfungsi sebagai etalase. Konten yang lebih mudah menarik perhatian digunakan untuk membangun audiens, kemudian calon konsumen diarahkan menuju grup atau kanal dengan akses terbatas.
Baca Juga:Buruan, Ini Link DANA Kaget Terbaru untuk Warga Jogja Jangan Sampai Kehabisan
"Tapi masalahnya, semakin tinggi perhatian publik, semakin besar pula potensi konten tersebut menyebar di luar target awal," tandasnya.
Fajar menyebut viralitas sebagai fenomena yang memiliki dua sisi. Di satu sisi, viralitas memperbesar jangkauan dan membuka peluang ekonomi.
Namun di sisi lain, viralitas dapat membuat praktik yang semula berlangsung di ruang terbatas justru terendus publik maupun aparat penegak hukum.
"Ironisnya, dalam kasus ini justru viralitas yang membongkar praktiknya," ujarnya.
Karena itu Fajar mengingatkan, ruang digital tidak pernah benar-benar tertutup. Konten yang awalnya dibuat untuk kelompok terbatas dapat menyebar melalui tangkapan layar, unggahan ulang, maupun rasa ingin tahu pengguna.
Karena itu, literasi digital menurutnya tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi atau membedakan informasi palsu. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana perhatian pengguna bekerja sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital.