- Inklusi keuangan DIY pada 2026 mencapai 98,74 persen, tetapi literasinya tertinggal di angka 76,44 persen.
- Sebanyak 18.637 debitur di DIY mengakses pembiayaan senilai Rp1,5 triliun dari 55 lembaga jasa keuangan.
- OJK DIY menggencarkan program edukasi untuk memperkecil kesenjangan akses dan meningkatkan pemahaman risiko keuangan masyarakat.
Tingginya penyaluran pembiayaan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh penerima kredit telah memahami risiko produk keuangan yang digunakan. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting untuk memastikan akses keuangan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Untuk memperkecil kesenjangan antara akses dan pemahaman keuangan, OJK DIY terus mendorong berbagai program edukasi selama pelaksanaan BIK 2026.
Salah satunya melalui edukasi digitalisasi keuangan kepada pelajar SMA. Program Guru Tulis atau Guru Tuntas Literasi juga telah menjangkau 799 sekolah dengan total 14.129 pelajar.
Selain itu, OJK DIY menyelenggarakan 278 kegiatan edukasi keuangan umum yang diikuti 7.391 peserta dari berbagai kelompok masyarakat.
Baca Juga:66 Daerah Belum Punya RS Tipe C, Pasien Kanker Berisiko Harus Berobat Jauh
Edukasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan, termasuk kemampuan mengenali risiko sebelum mengambil keputusan finansial.
Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menilai tingginya inklusi keuangan merupakan perkembangan positif. Menurutnya, masyarakat yang mengakses produk keuangan, termasuk kredit, perlu memahami manfaat sekaligus risiko yang menyertainya.
"Saya kira itu bagus ya, dalam arti bagus inklusinya, karena inklusinya sudah 98 persen, berarti dia paham berisiko. Nah, bisa ngambil manfaat, ada risiko dia juga sudah paham," kata Sultan.
Sultan juga menyoroti perubahan karakteristik generasi yang dinilai turut memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan.
Menurutnya, generasi muda dengan latar belakang pendidikan yang lebih baik berpotensi lebih cepat memahami manfaat dan risiko produk keuangan.
Baca Juga:Daya Beli Warga Jogja Turun, Pedagang Terpaksa Pangkas Dagangan
"Kalau dulu mungkin pengetahuannya kurang, kalau sekarang milenial, dia punya background pendidikan, jadi mungkin lebih cepat dia mengerti terhadap manfaat dan risiko," ujarnya.
Meski demikian, perluasan akses keuangan tetap perlu diiringi peningkatan literasi agar masyarakat tidak hanya berorientasi pada manfaat produk keuangan, tetapi juga mampu mempertimbangkan risiko dan konsekuensi dari setiap keputusan finansial.
Kontributor : Putu Ayu Palupi