Pakar UGM Sentil Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jangan Cuma Retorika, Rakyat Butuh Aksi Nyata

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai masih retoris dan minim tindakan konkret. Sejumlah persoalan seperti MBG, karhutla, dan kabinet gemuk belum teratasi optimal.

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:01 WIB
Pakar UGM Sentil Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jangan Cuma Retorika, Rakyat Butuh Aksi Nyata
Wapres Gibran Rakabuming Raka bersama Presiden Prabowo Subianto [Dok Suara.com]
Baca 10 detik
  • Pakar politik UGM Mada Sukmajati menyatakan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran belum menunjukkan tindakan konkret.
  • Pemerintah dikritik karena mempertahankan program Makan Bergizi Gratis populis meski menuai protes masyarakat luas.
  • Penanganan kebakaran hutan dan kabinet gemuk dinilai belum optimal akibat kurangnya koordinasi antarlembaga pemerintah.

SuaraJogja.id - Dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai belum menunjukkan tindakan konkret yang memadai dalam menyelesaikan berbagai persoalan publik, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga struktur kabinet yang gemuk. Pemerintah pun disebut masih menghadapi persoalan dalam menerjemahkan gagasan besar menjadi kebijakan yang efektif di lapangan.

Pakar politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Mada Sukmajati menilai, gaya kepemimpinan Presiden Prabowo selama dua tahun pemerintahan cenderung normatif, idealistis, dan retoris. Padahal penyelesaian berbagai persoalan membutuhkan langkah konkret, koordinasi antarlembaga, serta pengambilan keputusan berbasis data.

"Dua tahun ini seharusnya tidak lagi di tataran retorika. Pemerintah kemudian mengembangkan gaya, harus ada tindakan konkret di lapangan," papar Mada di Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut Mada, persoalan pemerintahan saat ini bukan semata-mata terletak pada individu presiden. Peran para menteri, wakil presiden, hingga pemerintah daerah juga berkontribusi terhadap jalannya pemerintahan.

Baca Juga:Dua Tahun Prabowo-Gibran: JCW Soroti Tebang Pilih Kasus Korupsi dan Efektivitas Retret Pejabat

Berbagai gagasan besar pemerintah, termasuk target Indonesia Emas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat perlu diikuti langkah nyata alih-alih berhenti pada pernyataan normatif. Mada membandingkan situasi tersebut dengan pemerintahan sebelumnya yang memiliki narasi tentang kehadiran negara dan peran praktis negara dalam kehidupan masyarakat.

"Masyarakat membutuhkan bukti kalau kebijakan pemerintah benar-benar mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi," tandasnya.

Salah satu kebijakan yang kontroversial, menurut Mada adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut terus dikembangkan meskipun muncul ketidakpuasan dari berbagai kalangan.

Mada menilai, keberlanjutan MBG tidak bisa dilepaskan dari karakteristik demografi Indonesia, terutama besarnya proporsi penduduk usia muda dan tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah.

Dalam literatur politik, program populis seperti MBG memiliki daya tarik karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Namun program tersebut juga mempunyai dimensi politik, terutama dalam membangun dukungan elektoral menuju Pemilu 2029.

Baca Juga:Lempar Botol ke Barikade hingga Bakar Tumpukan Botol, Demo Mahasiswa Bertahan di DPRD DIY

"Program populis seperti ini memang karakternya tidak berbasis teknokrasi, tidak berbasis data, tetapi berbasis sentimen, berbasis politik," ujarnya.

Meski banyak protes, pemerintah berpotensi terus mempertahankan MBG selama ketidakpuasan masyarakat belum berdampak signifikan terhadap dukungan politik. Padahal program dengan kebutuhan anggaran besar juga berisiko terjadi pembengkakan APBN dan ruang fiskal untuk membiayai sektor lain, seperti kesehatan dan pendidikan.

Terlebih data dan pertimbangan teknokratis berisiko hanya digunakan ketika mendukung keputusan politik yang telah ditetapkan pemerintah. Sebaliknya, ketika data tidak sejalan dengan arah kebijakan, pertimbangan tersebut berpotensi dikesampingkan.

"Pendekatan pengambilan keputusan seperti itu menjadi salah satu pembeda pemerintahan Prabowo sekarang ini dengan pemerintahan Jokowi atau SBY," tandasnya.

Selain MBG, Mada menyebut penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah belum menunjukkan respons memadai dari pemerintah. Bahkan sejumlah pernyataan pemerintah cenderung mengaitkan karhutla dengan faktor alam maupun kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. 

Padahal persoalan tersebut membutuhkan langkah konkret dan koordinasi yang efektif antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini diperparah dengan kapasitas pemerintah daerah yang dinilainya turut berkontribusi terhadap lambatnya penanganan karhutla.

Mada mengingatkan, karhutla bukan sekadar persoalan domestik karena dampak asap dapat meluas hingga ke negara-negara tetangga. Dengan demikian, penanganannya telah menyangkut persoalan regional bahkan global.

"Karhutla tidak sekadar isu domestik, tidak sekadar menjadi isu nasional karena asapnya sudah sampai ke mana-mana," tandasnya.

Mada menambahkan, respons pemerintah terhadap persoalan karhutla, termasuk keberatan dari negara-negara tetangga hingga saat ini belum memadai. Padahal persoalan terjadi di berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari presiden, para menteri, hingga pemerintah daerah.

"Penyelesaian karhutla tidak cukup mengandalkan pernyataan. Pemerintah perlu menunjukkan tindakan nyata, koordinasi antarlembaga, dan inisiatif dari pejabat yang bertanggung jawab," tandasnya.

Kabinet Gemuk dan Lingkaran Setan Politik Akomodasi

Mada juga menyoroti masalah struktur kabinet yang gemuk. Menurutnya, besarnya kabinet dapat dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas politik melalui politik akomodasi.

Namun pendekatan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan apabila kepentingan menjaga keseimbangan politik lebih dominan daripada penyelesaian masalah publik.

Ia menyebut situasi itu sebagai lingkaran setan. Ketika berbagai persoalan tidak diselesaikan melalui pendekatan teknokratis dan koordinasi pemerintahan tidak berjalan baik, maka ketidakpuasan masyarakat berpotensi meningkat.

Pada saat yang sama, pemerintah menghadapi kebutuhan lebih besar untuk mempertahankan dukungan politik melalui akomodasi.

Kondisi tersebut berisiko membuat persoalan publik terus berulang tanpa penyelesaian yang signifikan. Besarnya struktur kabinet tidak otomatis menjamin kebijakan berjalan efektif jika tidak diikuti koordinasi, inisiatif, dan tanggung jawab yang jelas.

Meski persoalan pemerintahan tidak seharusnya dibebankan seluruhnya kepada Presiden Prabowo. Para menteri juga dinilai memiliki kontribusi terhadap belum optimalnya pelaksanaan berbagai kebijakan.

Ia menduga, sebagian menteri menghadapi dilema ketika hendak mengambil inisiatif karena khawatir langkah mereka dianggap bertentangan dengan kehendak presiden. 

"Akibatnya, mereka cenderung pasif dan tidak cukup aktif menerjemahkan gagasan presiden menjadi kebijakan konkret," jelasnya.

Mada juga menyinggung peran Gibran yang dinilainya terbatas dan semakin dibatasi. Pada saat yang sama, ia mempertanyakan kapasitas sejumlah unsur pemerintahan dalam menjalankan tugasnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, membuat berbagai gagasan besar dan target pemerintah belum tercapai secara signifikan setelah dua tahun berjalan.

Terlebih ada indikasi kesenjangan antara data yang disajikan pemerintah, termasuk data Badan Pusat Statistik (BPS) dengan kondisi yang dirasakan masyarakat. Karenanya pembenahan harus dilakukan di seluruh tingkatan pemerintahan, mulai dari presiden, wakil presiden, kabinet, hingga pemerintah daerah.

Persoalannya, ia melihat belum ada aktor yang mampu menjalankan peran sebagai pendorong perubahan secara efektif.

"Cuma siapa atau aktor mana yang kemudian bisa mendorong itu. Nah, itu yang jadi masalah juga karena semua aktor sekarang belum ada yang bisa menjalankan peran seperti itu," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak