SuaraJogja.id - Penganugerahan gelar pahlawan kepada Prof Dr Sardjito yang baru saja ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo (jokowi) pada Jumat (8/11/2019) ternyata tidak berjalan semulus yang diperkirakan. Proses pengusulan rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) sempat terganjal.
Anggota tim pengusul penganugerahan gelar pahlawan nasional Sardjito, Joko Suryo mengungkapkan, proses mengusulkan gelar tersebut sempat terganjal dua presiden RI.
"Padahal kami sudah menyiapkan persyaratan, buku biografi, akademis yang ilmiah hingag diseminarkan tidak hanya lokal tapi hingga nasional," kata Joko di sela syukuran di kampus UGM pada Senin (11/11/2019).
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) tersebut, pada periode kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Sardjito sudah diusulkan menjadi pahlawan nasional di tahun 2012. Namun SBY ternyata punya kebijakan lain.
Pada akhir masa jabatannya, Presiden SBY hanya memberikan gelar kepahlawanan pada Soekarno-Hatta pada 7 November 2012. Akhirnya usulan tersebut ditangguhkan.
"Kami kemudian tetap mengusulkannya tiap waktu dari awal, penyempurnaan lagi," ujarnya.
Tim kemudian terus melakukan penelitian lagi yang tidak hanya di Indonesia tapi juga luar negeri. Sebab Sardjito merupakan ilmuwan dan tokoh dunia. Data-datanya cukup banyak yang harus dikumpulkan selengkap-lengkapnya.
Tim bahkan bersama Rektor UGM harus menghadap ke Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) untuk meminta dukungan. JK yang merupakan ketua PMI memiliki peran yang sama dengan Sardjito yang juga pernah menjabat Ketua PMI.
Baru kemudian pada 2018, usulan disampaikan ke pemerintah. Namun lagi-lagi usulan tersebut terganjal kebijakan Presiden. Jokowi menetapkan enam tokoh jadi pahlawan nasional namun tidak ada nama Sardjito.
Baca Juga: Jurnalis Perempuan Pertama Jadi Pahlawan Nasional, 5 Fakta Ruhana Kuddus
"Presiden (Jokowi) punya kebijakan memilih tokoh lain pada 2018 lalu. Baru pada tahun ini, usulan ini diterima dan Sardjito diberi gelar pahlawan nasional," jelasnya.
Rektor UGM Panut Mulyono mengungkapkan kontribusi Sardjito dalam masa perjuangan merebut kemerdekaan sangat besar. Di antaranya membuat formula biskuit sebagai bekal bagi pejuang-pejuang untuk bertempur melawan penjajah.
Sardjito juga menjadi penyelamat vaksin. Ia menjadi orang pertama yang menjadi Direktur Institut Pasteur, lembaga yang memproduksi vaksin dan obat-obatan untuk tentara dan masyarakat.
"Karenanya kami sangat bangga dengan penganugerahan gelar (pahlawan) ini. Kami berharap jadi semangat bagi civitas akademika dan alumni meneladani ketokohan Prof Sardjito semasa hidupnya," katanya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Lewat Musik di Album Terbaru, Grego Julius Dekatkan Umat pada Bunda Maria
-
Teror May Day di Jogja: Mahasiswa Dikeroyok Preman Diduga Ormas, HP Dirampas Saat Rekam Aksi Brutal
-
Kawal Kasus Little Aresha, Orang Tua Korban Dorong Penambahan Pasal Berlapis dan Hak Restitusi
-
Siklus Megathrust Pulau Jawa Tinggal 30 Tahun, Pakar Kegempaan Ingatkan Kesiapsiagaan DIY
-
Niat Keluar Cari Sasaran, Komplotan Remaja Bacok Pemuda di Jalan Godean Sleman